China-Eropa Bangun Aliansi Karbon Global, Berlawanan dengan Kebijakan Trump

Emisi karbon (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Senin, 11 Mei 2026 | 11:23:04 WIB

FLORENCE - Tiongkok dan Uni Eropa telah mencapai kesepakatan untuk membentuk aliansi internasional dalam penentuan harga karbon.

Kebijakan ini menciptakan jarak yang tegas dengan arah pemerintahan Trump yang saat ini lebih memprioritaskan pendanaan pada sektor bahan bakar fosil.

Uni Eropa, Tiongkok, serta Brasil memimpin koalisi penetapan harga karbon yang bersifat mengikat ini setelah mematangkan konsepnya pada KTT COP30, dan kini resmi dideklarasikan di Florence, Italia.

Pengamat lingkungan dan ahli ekonomi menilai bahwa harga karbon merupakan alat vital untuk mereduksi gas rumah kaca dan mengatasi krisis pemanasan global.

Langkah ini diambil bertepatan dengan upaya Amerika Serikat yang sedang membongkar regulasi iklim demi ekspansi energi fosil.

Presiden Donald Trump diketahui telah membawa Amerika Serikat keluar dari Perjanjian Paris serta melakukan hambatan terhadap kemajuan sektor tenaga angin lepas pantai.

Pada periode Oktober sebelumnya, Washington juga menjegal aturan tarif emisi pelayaran dengan alasan keberatan terhadap beban "pajak karbon global" bagi masyarakat Amerika.

Sebaliknya, aliansi baru ini berupaya menyatukan standar praktik harga karbon di skala internasional.

"Kami perlu memastikan bahwa sistem perdagangan emisi ini saling terhubung, sehingga perdagangan kredit karbon menjadi jauh lebih mudah, dan perusahaan juga difasilitasi dalam beroperasi di berbagai yurisdiksi,” kata Kurt Vandenberghe, direktur jenderal iklim di Komisi Eropa.

Sejumlah negara seperti Kanada, Inggris, Prancis, Jerman, Turki, dan Selandia Baru ikut bergabung, sementara California serta Quebec hadir sebagai pengamat.

“Kami masih percaya bahwa di AS, banyak pemerintah daerah, negara bagian, perusahaan, dan organisasi berkomitmen pada upaya penyesuaian perubahan iklim, dan kami ingin bekerja sama dengan mereka,” kata Li Gao, wakil menteri ekologi dan lingkungan China. “Koalisi ini sangat penting.”

Tiongkok selaku penyumbang emisi terbesar telah berjanji untuk mereduksi emisi hingga 10% dari puncaknya di tahun 2035 serta memacu kapasitas energi terbarukan secara masif.

Mekanisme pasar karbon mereka akan beralih menuju sistem batas absolut dan memperluas jangkauan ke industri penerbangan serta petrokimia.

Di sisi lain, Uni Eropa menjalankan pasar emisi paling kompetitif yang mencakup ribuan fasilitas industri dan telah menerapkan pajak batas karbon untuk produk impor.

Brasil juga diperkirakan akan memiliki pasar karbon nasional yang beroperasi penuh pada awal tahun 2030-an.

Menurut Cristina Froes de Borja Reis, Sekretaris Luar Biasa Brasil untuk Pasar Karbon, koalisi ini akan membantu membangun kepercayaan publik terhadap pasar karbon sekaligus mendorong inovasi serta investasi.

Selain meningkatkan transparansi laporan emisi, aliansi ini berfungsi memfasilitasi negara-negara dalam menjangkau pasar kredit karbon di bawah naungan PBB sesuai mandat Perjanjian Paris.

Reporter: David Ilham