Langkah Strategis SPS Undip Menuju Pembangunan Ramah Lingkungan
SEMARANG - Berbagai ahli lingkungan dari mancanegara menekankan urgensi penerapan energi terbarukan guna menghentikan ketergantungan pada batu bara serta minyak bumi.
Penggunaan sumber energi ini dianggap jauh lebih bersih bagi alam, bersifat terbarukan, dan mampu memastikan keberlanjutan hidup di masa mendatang.
Hal tersebut sangat kontras dengan pemakaian batu bara serta BBM yang stoknya kian menipis dan memicu tingkat polusi yang mengkhawatirkan.
Perspektif ini disampaikan oleh Guru Besar Saxion University of Applied Science asal Belanda, Prof Bram Enthrop PhD, di Sekolah Pascasarjana (SPS) Undip.
"Terdapat berbagai sumber energi alternatif terbarukan, yang sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai pengganti energi berbahan dasar fosil," urai Prof Bram, dalam Kuliah Umum bertemakan "Sustainable and Energi Efficient Buildings, Advancing Performa throught Facility Management 2026'', Senin (11/5/2026).
Berdasarkan penjelasan Prof Bram, ragam sumber energi alternatif yang bisa dimaksimalkan secara masif mencakup tenaga surya, air, angin, biomassa, hingga panas bumi.
Selain itu, pertemuan tersebut menggarisbawahi efek pembangunan gedung tinggi yang memicu Urban Heat Island, menambah emisi karbon, serta menggerus lahan resapan air pemicu banjir.
Gedung-gedung pencakar langit lazimnya memakai material tinggi karbon serta membutuhkan konsumsi energi masif untuk kegiatan operasional setiap harinya.
Prof Bram turut menceritakan praktik warga Belanda dalam mengembangkan area pemukiman berbasis prinsip pelestarian lingkungan yang berkelanjutan.
Upaya ini melibatkan eksekusi sistem energi yang sangat efisien serta seleksi material bangunan yang lebih ramah terhadap ekosistem.
Opsi krusial untuk menekan kerusakan lingkungan yakni dengan memprioritaskan pemanfaatan energi matahari, angin, maupun air.
Prof Bram bersama para kolega pakar lingkungan global berkumpul di SPS Undip guna membedah strategi perlindungan alam serta menyokong visi pembangunan ramah lingkungan.