IPA Soroti 3 Poin Utama untuk Genjot Investasi Hulu Migas Nasional

IPA Genjot Investasi Hulu Migas Nasional (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Rabu, 13 Mei 2026 | 09:32:54 WIB

JAKARTA - Pelaku usaha hulu minyak dan gas bumi yang tergabung dalam Indonesian Petroleum Association (IPA) menekankan tiga aspek utama yang memengaruhi daya saing dan investasi di Indonesia.

IPA menilai potensi hulu migas masih sangat menjanjikan, namun tetap membutuhkan aktivitas eksplorasi yang masif.

Marjolijn Wajong selaku Direktur Eksekutif IPA menjelaskan bahwa peluang Indonesia untuk menambah cadangan serta produksi nasional masih terbuka lebar.

Hal ini didasari pada data bahwa lebih dari separuh cekungan migas di tanah air belum tersentuh kegiatan eksplorasi.

Tantangan utamanya adalah lokasi cekungan yang berada di area sulit dijangkau, sehingga memerlukan modal besar untuk pengembangannya.

"Lokasi (cekungan) itu di tempat laut dalam, atau di (daerah) timur yang infrastrukturnya masih kurang. Di daerah barat yang cukup banyak infrastruktur, tapi tingkat kesulitan teknis besar. Pada umumnya (di lokasi) yang sulit, jadi memerlukan teknologi dan biaya yang besar," ungkap Marjolijn dalam konferensi pers IPA Convex 2026, Selasa (12/5/2026).

Marjolijn menegaskan bahwa Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan lapangan lama, melainkan harus menemukan cadangan baru demi target produksi nasional.

"Tidak cukup hanya mengandalkan proyek yang sudah berjalan. Diperlukan eksplorasi yang lebih agresif serta kolaborasi erat antara pemerintah dan pelaku industri," tegasnya.

Mengingat risiko yang tinggi, IPA menyoroti tiga poin krusial untuk menarik minat investor global.

Poin pertama adalah kepastian hukum, di mana Marjolijn menekankan perlunya ruang diskusi dan kompensasi jika terjadi perubahan regulasi di tengah masa kontrak.

Ia memberikan contoh terkait aturan devisa hasil ekspor serta pengaturan penjualan bagian kontraktor.

"Kami memahami, peraturan-peraturan itu dibuat pasti ada sebabnya. Tetapi mungkin ada semacam negosiasi atau kompensasi seperti apa bisa dibicarakan sehingga bisnis tetap dalam keadaan baik," ujar Marjolijn.

Poin kedua menyangkut percepatan perizinan karena kecepatan proses tersebut sangat menentukan realisasi produksi dan nilai ekonomi proyek.

"Investor kan menaruh uang, dia mau kembalinya cepat, jadi produk juga harus cepat. Kalau proses (perizinan) lama, itu akan membuat keekonomian dan daya tarik berkurang," imbuh Marjolijn.

Poin ketiga adalah skema fiskal yang kompetitif untuk mendongkrak keekonomian proyek migas.

"Kami memerlukan terobosan-terobosan baru untuk membuat fiskal lebih menarik. Kami ingin pemerintah untuk memperbaiki (tiga hal) itu. IPA juga sedang melakukan studi untuk melihat di negara lain seperti apa ketiga hal tersebut," ujar Marjolijn.

Sementara itu, IPA akan kembali menyelenggarakan Convention and Exhibition (Convex) ke-50 dengan tema kemitraan energi untuk masa depan.

Ketua Panitia IPA Convex 2026, Teresita Listyani, menyebutkan bahwa acara ini melibatkan seluruh ekosistem migas dari kontraktor hingga regulator.

Agenda ini juga akan menjadi ajang berbagai pengumuman penting serta penandatanganan perjanjian komersial sektor hulu migas.

"Kami ingin IPA Convex menjadi platform yang menghasilkan kolaborasi nyata dan mendorong percepatan investasi, khususnya di sektor hulu migas Indonesia yang masih memiliki potensi sangat besar," kata Teresita.

Kegiatan yang diikuti lebih dari 200 peserta pameran ini akan membahas isu strategis mulai dari teknologi hingga transisi energi.

Bekerja sama dengan Dyandra Promosindo, IPA Convex 2026 dijadwalkan berlangsung pada 20-22 Mei 2026 di ICE BSD.

Reporter: David Ilham