Menuju Era Baru Migas, IPA Convex 2026 Fokus pada Kolaborasi Investasi

Menuju Era Baru Migas (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Rabu, 13 Mei 2026 | 09:32:54 WIB

JAKARTA - Indonesian Petroleum Association (IPA) menekankan krusialnya kerja sama internasional demi mempertahankan posisi tawar sektor hulu migas nasional di tengah persaingan investasi energi yang kian dinamis.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam sesi jumpa pers menjelang perhelatan IPA Convex 2026 ke-50 yang berlangsung di Jakarta pada Selasa (12/6/2026).

Menandai usia emasnya, ajang tahunan industri migas paling bergengsi di tanah air ini diposisikan sebagai medium kontemplasi sekaligus strategi dalam menentukan visi ketahanan energi Indonesia ke depan.

Mengangkat tajuk “50 Years of Energy Partnership: Shaping The Next Era for Advancing Growth”, gelaran IPA Convex 2026 dijadwalkan bertempat di Indonesia Convention Exhibition BSD pada Rabu (20/5/2026) hingga Jumat (22/5/2026).

Tema ini merepresentasikan mendesaknya sinergi antara entitas domestik dan internasional dalam menjawab persoalan eksplorasi, pendanaan, serta adopsi teknologi energi terkini.

Chairperson IPA Convex 2026 Teresita Listyani menjelaskan bahwa aliansi ini bukan sekadar pemanis perayaan lima dekade organisasi, melainkan syarat mutlak bagi eksistensi industri energi di Indonesia.

“Partnership atau kemitraan menjadi sangat penting. Kami juga ingin merefleksikan apa yang sudah dilakukan selama ini, belajar dari masa lalu, sekaligus melihat tantangan dan relevansi industri hulu migas saat ini dan masa depan,” ujar Teresita.

Teresita memaparkan bahwa problematika sektor energi dalam negeri kini kian pelik, terutama terkait aspek finansial, daya investasi, hingga penguasaan teknologi tingkat tinggi untuk pengembangan ladang migas.

Ia berpendapat bahwa mayoritas sumber migas di Indonesia saat ini memiliki tingkat kesulitan pengembangan yang tinggi, sehingga memerlukan transfer pengetahuan dan teknologi dari mitra global.

“Kolaborasi perusahaan energi lokal dan perusahaan energi global tentunya mengenai financing, kemampuan investasi, dan juga teknologi yang digunakan untuk eksplorasi, pengembangan lapangan, serta produksi,” kata Teresita saat menjawab Investortrust.

Teresita menambahkan bahwa operasional eksplorasi memerlukan modal yang sangat besar serta memiliki profil risiko yang tinggi, sehingga sulit bagi perusahaan untuk bergerak tanpa mitra.

“Eksplorasi adalah kegiatan yang membutuhkan biaya tinggi dan juga risiko tinggi, dan tidak banyak perusahaan yang bisa melakukannya. Dengan adanya expertise global, itu akan membantu menemukan penemuan signifikan untuk kemandirian energi,” tegasnya.

Direktur Eksekutif IPA Marjolijn Wajong menyebutkan bahwa rivalitas antarnegara untuk memikat investor energi saat ini berada pada level yang sangat kompetitif.

“Disrupsi rantai pasok, dinamika kawasan, serta kompetisi global membuat banyak negara memperebutkan investasi di sektor energi,” ujarnya.

Menurut pengamatannya, Indonesia harus konsisten memoles daya tarik investasi melalui kepastian payung hukum serta model bisnis yang menguntungkan.

Marjolijn pun menyoroti kebijakan otoritas yang memprioritaskan alokasi minyak mentah untuk kebutuhan dalam negeri guna memperkokoh kedaulatan energi nasional.

Ia menilai strategi tersebut tetap berpijak pada azas keseimbangan agar tidak merugikan pihak Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang mengelola wilayah kerja migas.

Agenda IPA Convex 2026 dirancang untuk merespons kegelisahan industri terhadap perubahan peta energi dunia melalui sesi pleno yang membedah posisi Indonesia di tengah geopolitik global.

Pertemuan ini akan mendalami dampak ketegangan regional dan percepatan transisi energi terhadap kebijakan nasional, serta menghadirkan diskusi tingkat tinggi antar pimpinan perusahaan energi dan pakar.

Selain berfokus pada sisi komersial, IPA Convex 2026 juga bertujuan membangun jembatan komunikasi dengan publik agar masyarakat lebih memahami kontribusi besar sektor hulu migas terhadap stabilitas ekonomi.

Reporter: David Ilham