PGE Hemat Energi 90.502 MWh dan Dorong Dekarbonisasi

PGE Hemat Energi 90.502 MWh (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Sabtu, 16 Mei 2026 | 10:08:49 WIB

JAKARTA - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) berkomitmen untuk terus menekan angka emisi pada setiap lini operasional dan bisnisnya.

Langkah nyata ini dibuktikan lewat penerapan program penghematan serta penggunaan aneka sumber energi terbarukan di lingkungan kantor maupun area operasi.

Andi Joko Nugroho selaku Direktur Operasi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk menjelaskan bahwa merujuk pada Laporan Keberlanjutan 2025, PGE berhasil membukukan efisiensi energi hingga 90.502,28 MWh sepanjang tahun kemarin, sebuah lonjakan besar dari perolehan tahun sebelumnya yang berada di angka 40.058,77 MWh.

Peningkatan efisiensi yang masif tersebut ditopang oleh serangkaian langkah optimalisasi kerja di sejumlah wilayah kerja panas bumi (WKP), seperti pelaksanaan debottlenecking jalur produksi di Area Ulubelu yang membuat sumur bertekanan rendah bisa dialirkan ke sistem produksi, maksimalisasi kinerja vacuum pump pada Gas Extraction System di semua PLTP milik PGE demi menekan tingkat own use, hingga perubahan teknis pada hand control valve di Lumut Balai untuk mencegah uap terbuang percuma ke rock muffler.

Di samping itu, pihak manajemen juga konsisten memacu beragam terobosan efisiensi energi serta reduksi emisi, salah satunya memprioritaskan pemanfaatan energi bersih demi menyokong kebutuhan internal operasional, seperti pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di perkantoran serta fasilitas kerja.

"Langkah ini dilakukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan listrik dan uap panas bumi agar dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap sistem ketenagalistrikan nasional," ungkap dia dalam keterangan tertulis, kemarin.

Di lain sisi, PGE berhasil mencatatkan rasio intensitas energi sebesar 0,037 MWh/MWh pada tahun 2025, yang berarti mengalami penurunan sebesar 10,10 persen jika disandingkan dengan tahun lalu.

Angka rasio ini didapat dari perbandingan antara jumlah keseluruhan energi yang dipakai oleh perusahaan dengan total pasokan listrik panas bumi yang berhasil diproduksi.

Pencapaian tersebut menjadi bukti nyata bahwa penggunaan energi untuk menyokong aktivitas operasional korporasi berjalan dengan semakin efisien.

Sementara itu, porsi pemakaian energi terbarukan dalam menunjang kegiatan operasional harian tetap terjaga pada level yang tinggi, yakni mencapai 94,36 persen.

Meninjau aspek pengelolaan emisi, tingkat intensitas emisi yang dihasilkan PGE bertengger di angka 41,12 g CO2e/kWh, posisi yang terhitung masih sangat jauh di bawah batas maksimal yang ditetapkan oleh EU Taxonomy serta Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia, yaitu sebesar 100 g CO2e/kWh.

Hasil positif ini menegaskan bahwa aktivitas operasional panas bumi yang dijalankan PGE tetap masuk dalam kelompok energi rendah karbon.

Pada periode yang sama, kapasitas operasional dari panas bumi PGE juga ikut menyumbang andil dalam mencegah pelepasan emisi hingga lebih dari 4,29 juta ton CO2e sepanjang tahun 2025.

Bukan hanya fokus pada pengurangan emisi dan efisiensi energi semata, PGE pun terus memperkuat sistem tata kelola limbah non-B3 secara ramah lingkungan lewat metode 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Recovery).

Sepanjang tahun 2025, jumlah volume limbah non-B3 yang sukses diproses menggunakan metode tersebut menembus angka 17 ton, atau terkerek naik sebesar 24,5 persen dari capaian tahun 2024 yang tercatat sebesar 13,66 ton.

Sistem pengelolaan limbah terpadu ini digulirkan melalui konsep waste circularity dengan mengeksekusi penanganan limbah non-B3 secara berkala serta bertanggung jawab.

Berbagai limbah non-B3 tersebut kemudian disalurkan ke bank sampah ataupun tempat pemrosesan akhir (TPA) yang berada di luar kawasan operasional PGE agar bisa dikelola secara kolaboratif bersama warga lokal lewat proses pemilahan, pemanfaatan kembali, daur ulang, hingga pembuatan kompos.

Upaya ini diimplementasikan demi menyukseskan gerakan penanganan sampah berbasis prinsip 4R sekaligus memantik keterlibatan aktif masyarakat dalam pusaran ekonomi sirkular.

Di sudut lain, PGE terus mematangkan pengelolaan sumber daya air secara bijak dan bertanggung jawab sebagai fondasi dasar dari penerapan operasi yang berkelanjutan.

Memasuki tahun 2025, tingkat pemakaian air oleh perusahaan dilaporkan menyusut hingga 33,31 persen menjadi 262,24 megaliter, berbanding terbalik dari konsumsi tahun 2024 yang menyentuh 393,23 megaliter.

Komitmen kuat tersebut turut diejawantahkan lewat ekspansi program beyond electricity, termasuk di antaranya membangun ekosistem green hydrogen berbasis energi panas bumi.

Salah satu langkah konkritnya tertuang dalam proyek Tanjung Sekong Green Terminal yang mendayagunakan green hydrogen bersumber dari panas bumi guna menyuplai kebutuhan energi bersih di terminal LPG Cilegon.

Inovasi strategis ini menjadi bagian integral dari misi korporasi dalam menyuguhkan solusi dekarbonisasi yang menjangkau lintas sektor industri.

PGE juga senantiasa membuka lebar pintu kerja sama untuk memperluas pemanfaatan energi panas bumi bagi pemenuhan kebutuhan sektor industri hijau lainnya, termasuk penyediaan green data center yang disokong oleh energi bersih rendah emisi.

Beriringan dengan penguatan aspek keberlanjutan tersebut, implementasi nilai-nilai LST di internal perusahaan terus membuahkan rapor yang positif.

Keberhasilan ini dibuktikan lewat raihan skor Sustainalytics ESG Risk Rating yang menyentuh angka 7,1 atau masuk dalam kategori risiko yang dapat diabaikan pada tahun 2025.

Lewat perolehan skor ini, PGE sukses mengukuhkan posisinya sebagai satu-satunya representasi korporasi asal Indonesia yang berhasil menembus peringkat Top 50 ESG Global dari total 42 negara di dunia.

Reporter: David Ilham