Perkuat Energi, Rusia Garap Lagi Blok Tuna Bulan Depan

Minggu, 17 Mei 2026 | 10:43:13 WIB
Malacca Strait PSC (FOTO: NET)

JAKARTA - Proyek strategis hulu minyak dan gas bumi (migas) di Blok Tuna, Laut Natuna, dipastikan akan kembali berjalan.

Perusahaan migas asal Rusia, Zarubezhneft, melalui anak usahanya VNIIneft, menyatakan kesiapannya untuk melanjutkan aktivitas operasional di blok yang berbatasan langsung dengan Vietnam tersebut mulai bulan depan.

Kelanjutan proyek ini menjadi angin segar bagi target produksi migas nasional, setelah sebelumnya sempat mengalami hambatan operasional akibat dampak sanksi internasional terhadap perusahaan-perusahaan Rusia.

Blok Tuna memiliki peran krusial tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga sebagai penegasan kedaulatan Indonesia di wilayah perbatasan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, persiapan teknis untuk mobilisasi peralatan dan personel telah memasuki tahap final.

Fokus utama pada bulan depan adalah melanjutkan fase pengembangan yang sempat tertunda, termasuk koordinasi dengan SKK Migas terkait jadwal pengeboran dan pembaruan rencana pengembangan (Plan of Development/PoD).

Hingga saat ini, data mengenai detail skema pendanaan terbaru dan mitra konsorsium pasca-divestasi mitra sebelumnya masih dalam tahap finalisasi.

Redaksi sedang melakukan verifikasi lebih lanjut terkait struktur kepemilikan saham terbaru di Blok Tuna.

Blok Tuna diperkirakan memiliki potensi cadangan gas yang signifikan dengan estimasi produksi mencapai 100 hingga 150 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD).

Gas dari blok ini rencananya akan diekspor ke Vietnam melalui pipa bawah laut, yang diharapkan dapat memberikan pemasukan devisa yang besar bagi negara.

Selain aspek ekonomi, kehadiran aktivitas migas di Blok Tuna memiliki nilai strategis geopolitik.

Aktivitas permanen di wilayah tersebut secara tidak langsung memperkuat posisi Indonesia di Laut Natuna Utara yang sering kali menjadi titik panas klaim wilayah oleh pihak asing.

Keterlibatan Rusia melalui Zarubezhneft sebelumnya sempat memicu kekhawatiran terkait transaksi keuangan dan pengadaan barang jasa akibat sanksi global.

Namun, pemerintah Indonesia melalui Kementerian ESDM dan SKK Migas terus berupaya mencari solusi pragmatis agar proyek ini tetap berjalan demi kepentingan ketahanan energi regional.

“Kelanjutan proyek ini menunjukkan bahwa iklim investasi migas di Indonesia tetap menarik dan kami mampu menavigasi tantangan geopolitik global demi kepentingan nasional,” ujar salah satu sumber internal di lingkungan industri hulu migas.

Dengan dimulainya kembali aktivitas di Blok Tuna bulan depan, pemerintah optimis target lifting gas nasional dapat terdongkrak, sekaligus mempererat kerja sama energi antara Indonesia dan mitra internasional di tengah dinamika global yang kompleks.

Terkini