Ford Energy Luncurkan DC Block, Targetkan Pasar Industri Besar

Minggu, 17 Mei 2026 | 10:43:13 WIB
Kerja Sama dengan Perusahaan China (FOTO: NET)

JAKARTA - Ford Motor Company secara resmi memperkenalkan anak perusahaan barunya yang dimiliki sepenuhnya oleh pabrikan tersebut, yaitu Ford Energy.

Entitas baru ini bakal memfokuskan bisnisnya pada pembuatan sekaligus penjualan sistem penyimpanan energi baterai yang dirakit di Amerika Serikat.

Sasaran utama dari unit bisnis ini menyasar perusahaan utilitas, pusat data, serta konsumen industri skala besar.

Ford Energy memproyeksikan produksi kapasitas penyimpanan energi mencapai 20 GWh per tahun lewat fasilitas gigafactory kepunyaannya di Kentucky.

Presiden Ford Energy Lisa Drake mengungkapkan bahwa pembentukan unit ini ialah buah dari persiapan yang matang selama beberapa bulan belakangan.

Perusahaan berupaya menyelaraskan kapasitas manufaktur mereka dengan lonjakan permintaan penyimpanan energi domestik.

"Tim kami telah menghabiskan sebagian besar tahun ini untuk mengeksekusi pengamanan rantai pasok, menyiapkan lokasi manufaktur, dan menyelaraskan teknologi kami dengan permintaan pasar," kata Lisa dilansir dari sumbernya, Sabtu (16/5/2026).

Pusat produksi Ford Energy sendiri bertempat di Glendale, Kentucky.

Pabrik tersebut awalnya didirikan untuk memproduksi baterai kendaraan listrik dalam kemitraan BlueOval SK, sebelum akhirnya diambil alih penuh oleh Ford untuk dialihfungsikan.

Produk andalan yang dipasarkan adalah Ford Energy DC Block.

Sistem tersebut berupa unit kontainer standar berukuran 20 kaki yang mengadopsi teknologi sel prismatik Lithium Iron Phosphate (LFP) dengan kapasitas 512 Ah.

Pemanfaatan kimia LFP dipilih lantaran menyuguhkan stabilitas termal yang lebih prima serta siklus hidup lebih panjang jika disandingkan dengan baterai NMC.

Ford Energy mengklaim bahwa produk ini dirancang supaya mempunyai masa pakai performa sampai 20 tahun.

Bila ditinjau secara teknis, Ford Energy DC Block mempunyai kapasitas energi terukur sebesar 5,45 MWh.

Sistem ini beroperasi pada rentang tegangan antara 1.040 hingga 1.500 VDC yang terintegrasi dengan manajemen termal cairan serta sistem manajemen baterai mandiri.

Unit ini ditawarkan dalam dua konfigurasi, ialah FE-250 untuk sistem durasi dua jam dan FE-450 untuk durasi empat jam.

Perangkat ini didesain kokoh agar sanggup beroperasi di lingkungan ekstrem dengan rentang suhu -35°C sampai +55°C.

Ford pun membekali sistem ini memakai perlindungan korosi kategori C5 serta proteksi ingress IP55.

Ketentuan spesifikasi itu memungkinkan unit tetap bekerja optimal di ketinggian hingga 4.000 meter tanpa mengalami penurunan performa atau derating.

Langkah strategis Ford ini menandai pergeseran fokus usai sebelumnya menghadapi tantangan kelebihan kapasitas baterai EV.

Strategi tersebut diambil sesudah Ford dan SK On membatalkan kemitraan BlueOval SK senilai US$11,4 miliar pada akhir tahun silam.

Ford Energy bakal bersaing ketat dengan Tesla yang saat ini menguasai segmen penyimpanan energi lewat Megapack.

Tesla tercatat telah menyebarkan 46,7 GWh penyimpanan energi pada 2025 dan tengah bersiap memproduksi Megapack 3 dalam volume besar.

Walau target 20 GWh milik Ford masih berada di bawah kapasitas produksi Tesla, pasar penyimpanan energi Amerika Serikat diprediksi bakal terus tumbuh signifikan.

Penambahan kapasitas penyimpanan skala utilitas diestimasikan menyentuh 24 GW pada 2026 mendatang.

Pembangunan infrastruktur AI menjadi faktor pendorong utama dari permintaan ini.

Pusat data diproyeksikan akan menyerap hingga 83% dari penempatan penyimpanan energi komersial dan industri di belakang meteran pada tahun 2030.

Ford mengagendakan pengiriman pertama Ford Energy DC Block kepada para pelanggan pada akhir 2027.

Perusahaan bertumpu pada aspek manufaktur domestik demi memfasilitasi kelayakan insentif pajak Investment Tax Credit bagi para pembeli di Amerika Serikat.

Terkini