JAKARTA - Raksasa otomotif asal China, BYD, dilaporkan sedang kewalahan memenuhi kebutuhan komponen paling krusial untuk kendaraan listriknya.
Pimpinan sekaligus Presiden BYD, Wang Chuanfu, secara terbuka mengakui bahwa perusahaan saat ini tengah menghadapi kendala serius terkait keterbatasan pasokan baterai di lini produksi mereka.
Kondisi ini terjadi akibat masifnya peluncuran berbagai model mobil listrik baru secara bersamaan.
BYD saat ini sedang menggenjot kapasitas produksi (production ramp-up) untuk empat lini merek besar mereka sekaligus, yaitu seri Dynasty, Ocean, sub-brand premium Denza, hingga merek mobil mewah mereka, Yangwang.
Dalam pidatonya di konferensi Yangwang Business Research Institute pada Jumat (15/5), Wang Chuanfu menjelaskan bahwa meskipun fasilitas pabrik baterai mereka sudah bekerja keras, kapasitas yang ada saat ini masih sangat ketat dan belum mampu mengbingi laju perakitan mobil.
Namun, ia optimis bahwa angka penjualan bulanan BYD akan terus mencetak rekor baru begitu pasokan baterai tambahan mulai mengalir ke pabrik perakitan.
Sejumlah analis industri di China menyebutkan bahwa kelangkaan ini dipicu oleh sangat tingginya permintaan konsumen terhadap mobil-mobil terbaru BYD.
Model-model anyar ini sudah menggunakan paket Blade Battery generasi kedua yang mendukung sistem pengisian daya ultra-cepat (ultra-fast charging), sebuah fitur yang menjadi daya tarik utama bagi konsumen saat ini.
“Teknologi Blade Battery generasi kedua dan sistem flash-charging ini baru saja resmi diluncurkan BYD pada 5 Maret lalu. Pabrikan mengklaim teknologi mutakhir ini mampu mengisi daya mobil dari 10% ke 70% hanya dalam waktu 5 menit, atau hingga 97% dalam waktu 9 menit saja pada kondisi yang mendukung,” tulis Carnewschina, Sabtu (16/5/2026).
Namun, teknologi pengisian kilat ini sempat memicu perdebatan hangat di jagat maya China setelah sebuah uji coba livestream menunjukkan suhu permukaan baterai melonjak hingga di atas 76 derajat celsius saat pengisian daya berkecepatan tinggi dilakukan.
Hal ini memicu diskusi panjang di kalangan konsumen mengenai manajemen suhu dan faktor keamanan baterai.
Meskipun menghadapi kendala pasokan dalam negeri, skala produksi baterai BYD secara keseluruhan sebenarnya sangat masif.
Sepanjang April 2026, BYD tercatat telah mengirimkan total baterai sebesar 20,98 GWh, yang membuat akumulasi pengiriman baterai mereka sepanjang tahun ini menyentuh angka 81,2 GWh.
Khusus untuk pasar domestik China, data dari China EV DataTracker menunjukkan BYD berhasil memasang baterai sebesar 10,49 GWh pada mobil listrik yang beredar di sana selama bulan April.
Angka tersebut mengamankan 16,83% pangsa pasar baterai domestik dari total kapasitas terpasang secara nasional yang mencapai 62,4 GWh.
Di sisi lain, untuk mendukung ekosistem mobil listriknya, BYD terus memperluas jaringan infrastruktur pengisian daya.
Hanya dalam waktu satu minggu (7–14 Mei), BYD menambah 55 stasiun flash-charging baru, sehingga totalnya kini mencapai 5.979 stasiun yang tersebar di 312 kota di China.
Aplikasi pengisian daya khusus milik BYD pun kini telah menembus lebih dari 1 juta pengguna aktif.
Tak puas hanya menguasai pasar domestik, BYD juga terus melebarkan sayapnya ke kancah internasional.
Wakil Presiden Eksekutif BYD, Stella Li, membeberkan bahwa perusahaan saat ini tengah melakukan pembicaraan serius dengan beberapa produsen otomotif Eropa untuk memanfaatkan kapasitas pabrik yang belum terpakai di benua biru tersebut guna melokalisasi jaringan produksi mereka.
Menutup konferensi tersebut, Wang Chuanfu menegaskan bahwa produsen mobil asal China kini tengah memasuki periode emas terbaik dalam sejarah untuk membangun merek global.
Ia juga menambahkan bahwa separuh dari waktu kerjanya sehari-hari kini difokuskan penuh untuk merumuskan strategi teknologi dan produk masa depan agar BYD tetap memimpin pasar global.