Teknologi Penyimpanan Energi Dukung Tambang Hijau

Minggu, 17 Mei 2026 | 11:35:22 WIB
Ilustrasi PLTS (FOTO: NET)

JAKARTA - Transformasi hijau pada industri pertambangan kini kian diperhatikan seiring melonjaknya tuntutan efisiensi energi serta reduksi emisi karbon secara global.

Sektor pertambangan saat ini tidak hanya diwajibkan untuk mempertahankan stabilitas operasional, namun juga didorong mulai menerapkan sistem energi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, terutama pada wilayah operasional terpencil yang masih bergantung pada pembangkit diesel konvensional.

Tingginya ketergantungan pada bahan bakar diesel ini dinilai memicu pembengkakan biaya operasional sekaligus menghasilkan emisi karbon yang masif dari sektor tambang.

Merujuk data dari Global Energy Monitor, aktivitas tambang batu bara di Indonesia menyumbang sekitar 58 juta ton CO2e emisi metana per tahun, yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu kontributor emisi metana tambang terbesar di dunia.

Kondisi tersebut memicu percepatan inovasi solusi teknologi penyimpanan energi, termasuk penerapan sistem grid-forming yang diklaim mampu menyediakan pasokan listrik yang lebih stabil sekaligus memfasilitasi integrasi energi bersih di area pertambangan.

Pada pameran Indonesia International Coal and Energy Exhibition 2026, Dogo Power memperkenalkan inovasi penyimpanan energi grid-forming dan microgrid demi mensukseskan konsep tambang hijau.

Perwakilan dari Dogo Power, Pan Pamela, menjelaskan bahwa pihak perusahaan berkomitmen menyokong transisi industri pertambangan di Indonesia ke arah operasional yang lebih efisien dan rendah karbon.

“DOGO Power menawarkan layanan energi hijau sepanjang siklus operasional bagi perusahaan tambang lokal, serta mendukung transformasi industri pertambangan Indonesia menuju kegiatan operasional yang rendah karbon dan lebih efisien,” ujar Pan Pamela.

Ia menambahkan, teknologi 4S Grid-Forming yang diciptakan perusahaan telah memadukan sistem manajemen energi, manajemen daya, konversi penyimpanan energi, serta manajemen baterai ke dalam satu kesatuan sistem yang solid.

Berbeda dengan teknologi grid-following yang konvensional, inovasi grid-forming ini dapat berfungsi secara mandiri tanpa memerlukan ketergantungan pada jaringan listrik utama.

Teknologi ini diklaim mampu mengontrol stabilitas tegangan serta frekuensi listrik secara otomatis, sehingga dianggap jauh lebih andal dalam menopang operasional tambang di daerah terpencil.

Di samping itu, adanya fitur black start memungkinkannya untuk melakukan pemulihan sistem hanya dalam waktu sekitar dua menit ketika terjadi pemadaman listrik, sehingga kelangsungan produksi tetap terjaga.

Dogo Power pun turut meluncurkan teknologi baterai short-blade yang diklaim mempunyai daya tahan hingga lebih dari 10.000 siklus penggunaan, atau sekitar 30% lebih tinggi daripada standar industri pada umumnya.

Sistem perangkat baterai tersebut dilaporkan memiliki efisiensi performa mencapai 87% dan sengaja dirancang tangguh untuk menghadapi kondisi lingkungan tambang yang panas sekaligus berdebu.

Bukan hanya menyediakan perangkat keras, perusahaan ini juga membangun sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) lewat Cloud EMS guna memproyeksikan beban listrik serta produksi tenaga surya secara lebih presisi.

Implementasi teknologi AI tersebut diaplikasikan untuk mengoptimalkan penataan proyek energi dan diklaim sanggup menaikkan imbal hasil proyek hingga sebesar 10 persen.

Pihak Dogo Power juga menyatakan bahwa sistem desain otomatis yang mereka kembangkan mampu mempercepat proses penyusunan konfigurasi sistem hibrida antara tenaga surya, penyimpanan energi, serta diesel untuk wilayah pertambangan.

Waktu perancangan proyek yang berskala 100 MW diklaim dapat dipangkas secara drastis dari yang semula memakan waktu satu bulan menjadi hanya satu minggu, sekaligus menekan biaya belanja modal hingga di atas 20 persen.

Lewat kehadiran teknologi ini, perusahaan optimistis industri pertambangan bisa meraih tiga profit utama, yaitu efisiensi biaya energi, penguatan keamanan sistem, serta penurunan emisi karbon.

Jika ditinjau dari aspek ekonomi, pengeluaran listrik pada wilayah tambang diklaim dapat dipotong dari yang sebelumnya berkisar US$0,28-US$0,40 per kWh dengan generator diesel konvensional, menjadi hanya berkisar US$0,12-US$0,16 per kWh. (E-3)

Terkini