Kurangi Impor LPG, Kementerian ESDM Dorong Penggunaan CNG

Kurangi Impor LPG (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Selasa, 19 Mei 2026 | 15:14:35 WIB

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) optimistis bahwa pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) dapat menjadi jalan keluar yang tepat untuk menyuplai kebutuhan energi rumah tangga di masa depan.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas), Laode Sulaeman, menegaskan bahwa stok gas bumi domestik sangat melimpah dan penggunaannya dijamin aman karena didukung oleh penerapan teknologi modern.

Pengalihan jenis energi ini merupakan langkah strategis pemerintah dalam menekan pembengkakan dana subsidi akibat tingginya angka impor Liquefied Petroleum Gas (LPG).

Berdasarkan penjelasan Laode, karakteristik sumber gas di dalam negeri saat ini minim kandungan senyawa berat, sehingga memicu kurang optimalnya produksi LPG domestik.

"LPG itu kandungannya C3 dan C4, sedangkan lapangan kami itu sedikit yang menghasilkan gas dengan kandungan tersebut. Sekarang konsumsi LPG kami sudah di angka 8 jutaan atau 8,7 juta ton. Artinya, kami sudah terbebani subsidi sangat besar dan sangat tergantung dari suplai luar (impor)," ujar Laode dalam sebuah sesi podcast di Kementerian ESDM, dikutip Senin 18 Mei 2026.

Realitas saat ini mirip dengan situasi pada tahun 2007 lampau, ketika pemerintah mengambil langkah berani mengonversi minyak tanah ke LPG.

Laode menggambarkan penggunaan minyak tanah pada masa itu seperti menghamburkan bahan bakar pesawat terbang.

"Minyak tanah itu sebenarnya kandungan avtur. Jadi kalau kami dulu pakai minyak tanah, itu mirip kami goreng pisang pakai avtur," ucapnya.

Untuk memangkas ketergantungan pada produk impor, pemerintah sekarang memfokuskan opsi pada CNG dan LNG.

Melihat struktur kimianya, Laode menjelaskan bahwa kedua jenis gas ini serupa karena didominasi unsur metana (C1) dan etana (C2) yang cadangannya sangat melimpah di Indonesia.

Pembeda utama keduanya hanya terletak pada metode distribusi ketika jaringan pipa gas reguler tidak dapat menjangkau lokasi konsumen, terutama di wilayah kepulauan seperti Indonesia.

Laode pun menggunakan perumpamaan sederhana agar masyarakat mudah memahami proses produksi CNG.

"Salah satu caranya gas tersebut kami kompres. Secara sederhananya itu dari jeruk kami kompres jadi kelereng. Jadi jeruk-jeruk yang besar tadi dikecil-kecilin biar bisa diantarkan melalui tabung. Tapi memang tekanannya tinggi, sekitar 200 sampai 250 bar. Beda jauh dengan LPG yang cuma 5 sampai 10 bar," jelas Laode.

Sementara untuk skenario LNG, mekanismenya berbeda dengan CNG yang mengandalkan tekanan tinggi.

LNG memanfaatkan teknologi pembekuan super ekstrem agar bentuk gas berubah menjadi cairan.

"Kalau CNG itu dikompres maksimum 1/250 sampai 1/300 kalinya. Tapi kalau LNG itu bisa diperkecil hingga 1/600 kalinya, tapi temperaturnya harus dijaga minus 160 derajat Celcius agar tetap cair. Ini yang kami pakai untuk dikirim jauh atau diekspor menggunakan kapal," tambahnya.

Upaya masif pemerintah mengintegrasikan CNG ke sektor rumah tangga untuk menggantikan tabung melon 3 kg sempat memicu keraguan publik.

Masyarakat pada umumnya mengkhawatirkan aspek keselamatan, sebab CNG bekerja dengan tingkat tekanan yang jauh lebih tinggi daripada LPG.

Menanggapi kecemasan warga, Laode menegaskan bahwa rencana transisi ini telah dikaji secara matang.

Pemerintah juga telah menyiapkan fasilitas pendukung dengan teknologi terdepan, yaitu tabung khusus spesifikasi tipe 4.

"CNG ini sebenarnya bukan hal baru, risetnya sudah banyak. Sekarang teknologi tabung untuk CNG itu sudah ada Tipe 1 sampai Tipe 4," kata Laode.

Laode memaparkan bahwa tabung tipe 1 murni menggunakan bahan logam berat.

Sedangkan untuk Tipe 2 dan Tipe 3, komponennya sudah dikombinasikan dengan lapisan fiber.

Menyambut era baru penggunaan CNG ini, pemerintah langsung menerapkan standar kualitas tertinggi.

"Tipe 4 itu sudah sama sekali fiber, sangat ringan dan sangat kuat, tetapi memang mahal. Jadi ketika sekarang Pak Menteri mencanangkan CNG ini, memang kami sudah sampai pada teknologi tipe 4. Pak Menteri sudah mempersiapkan itu, jadi bukan berarti kami baru mulai meraba-raba," pungkas Laode.

Sebelumnya, Pemerintah melalui Kementerian ESDM resmi meluncurkan proyek skala besar untuk mengurangi ketergantungan impor energi lewat uji coba penerapan CNG sebagai substitusi LPG.

Langkah taktis ini diperkirakan dapat menyelamatkan devisa negara hingga mencapai Rp130 triliun.

Selain memperkuat ketahanan energi nasional, peralihan ini juga ditargetkan mampu memangkas beban subsidi energi dalam postur APBN.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa secara nilai komersial, CNG jauh lebih bernilai ekonomis dengan perkiraan harga sekitar 30 hingga 40 persen lebih murah daripada LPG.

Keunggulan utama CNG bersumber dari ketersediaan bahan baku serta rantai infrastruktur yang seluruhnya dikelola di dalam negeri.

Hal tersebut secara otomatis memotong pos pengeluaran impor yang selama ini memberatkan neraca perdagangan Indonesia.

"Karena yang pertama gasnya itu ada di kami dan industrinya ada di kami, dalam negeri. Jadi tidak kami melakukan import," jelas Bahlil dalam pernyataan resminya.

Reporter: David Ilham