BNEF: Lonjakan Permintaan Listrik Global Dongkrak Tenaga Surya
JAKARTA - Kebutuhan global terhadap listrik yang melonjak di hampir semua daerah bakal menempatkan tenaga surya sebagai pasokan energi paling utama di awal dekade berikutnya, berdasarkan kajian teranyar BloombergNEF.
Pertumbuhan kebutuhan dari pusat data, pertambahan penduduk, kenaikan penghasilan, hingga melonjaknya total kendaraan berbasis baterai menjadi aspek pendorong dominan bagi permintaan listrik, ungkap tim peneliti lewat laporan tahunan Prospek Energi Baru BNEF pada Selasa.
Kajian itu menyimpulkan bahwa proses elektrifikasi yang masif bakal mempercepat peralihan menuju energi bersih.
“Sejauh dekade ini, dunia telah mengalami tiga guncangan besar pada sistem energi: pandemi Covid-19, perang di Ukraina, dan, yang terbaru, konflik di Teluk Persia,” tulis para analis.
“Guncangan pasar energi yang beruntun ini dapat menjadi berkah bagi transisi energi karena beberapa negara berupaya melepaskan diri dari bahan bakar fosil impor dan memperkuat keamanan energinya.”
Kajian BNEF bertumpu pada dua buah prediksi skenario masa depan.
Skenario Transisi Ekonomi (ETS) bersandar pada potensi hal yang paling mungkin terwujud melihat kekuatan ekonomi saat ini.
Skenario Net-Zero (NZS) menempatkan kebijakan iklim selaku roda penggerak utama—artinya, skenario tersebut ditopang oleh janji yang sudah dipaparkan pemerintah dalam Perjanjian Paris guna memangkas emisi.
Pada skenario ETS, saat kebijakan hijau eksis namun bukan prioritas utama bagi pemerintah, tenaga surya serta angin tetap menaikkan porsi mereka di kombinasi energi dunia.
Tenaga surya bertransformasi menjadi pemasok terbesar di tahun 2032, sedangkan angin menyusul di peringkat kedua pada 2034, yang mana keduanya menggeser posisi batu bara yang kini berada di urutan teratas.
Lonjakan energi terbarukan ini ditopang oleh pemanfaatan baterai, yang bakal sangat diperlukan untuk menyimpan daya bersih saat matahari terbenam dan angin sedang reda.
BNEF merevisi naik prediksi penyimpanan energi dunia dari 220 gigawatt di tahun 2025 menjadi sebesar 2.000 gigawatt pada 2035.
Kendati China diprediksi tetap menguasai porsi penempatan baterai dalam sekian dekade ke depan, skenario ETS pun mengestimasi adanya permintaan tinggi di India serta Eropa mulai era 2030-an.
Kajian BNEF, melihat pada arah emisi karbon sekarang, memperlihatkan bahwa dunia tengah berada di jalur yang keliru guna menggapai target paling besar dari Perjanjian Paris, yakni menahan laju kenaikan suhu bumi di bawah 1,5°C dari masa pra-industri.
Dalam skenario ETS, bumi bakal menghangat sebesar 2,4°C pada tahun 2050, seiring emisi dari dua di antara tiga produsen emisi terbesar—India, Asia Tenggara, serta Amerika Latin—yang terus merangkak naik.
China, selaku produsen emisi tertinggi global, bakal mencatatkan penurunan emisi usai menyentuh titik tertingginya pada tahun 2025.
Sekalipun dunia sanggup menyentuh emisi nol bersih di tahun 2050, pemanasan yang diprediksi pada penutupan abad ini berpotensi melampaui 1,8°C, angka yang lebih tinggi dari estimasi BNEF sebesar 1,75°C pada tahun 2024.