Sektor Migas Dorong TKDN Lewat Komponen Lokal Jereh Global

Sektor Migas Nasional Dorong Penggunaan Komponen Lokal (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Senin, 25 Mei 2026 | 10:30:51 WIB

JAKARTA - Jereh Global memastikan komitmennya dalam mendukung penguatan infrastruktur dan teknologi sektor minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia.

Perusahaan penyedia mesin kompresor dan teknologi gas tersebut juga terus mendorong peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) melalui kerja sama dengan industri lokal.

General Manager Southeast Asia Jereh Global, Wesley Liu, mengatakan pemerintah Indonesia sejak beberapa tahun terakhir terus mendorong penggunaan kandungan lokal dalam proyek-proyek energi nasional.

Menurut dia, kebijakan TKDN menjadi bagian penting dalam pengembangan industri migas nasional.

“Untuk produk seperti gas compressor memang membutuhkan local content. Karena itu kami mendukung perusahaan lokal untuk membangun kemampuan fabrikasi di Indonesia,” ujar Wesley dalam siaran wawancaranya, dikutip Minggu (24/5/2026)

Ia mengungkapkan hingga saat ini Jereh telah menyediakan lebih dari 30 unit gas compressor di Indonesia.

Dalam sejumlah proyek yang membutuhkan pemenuhan TKDN, perusahaan bekerja sama dengan mitra lokal untuk melakukan fabrikasi beberapa komponen seperti scrubber dan air cooler.

Menurut Wesley, Jereh menyediakan dukungan desain dan engineering, sementara proses fabrikasi dilakukan bersama mitra lokal agar proyek dapat memenuhi sertifikasi TKDN.

“Kolaborasi dengan partner lokal menjadi bagian penting agar target TKDN bisa tercapai,” katanya.

Di tengah ketidakpastian global, Wesley menilai investasi hulu migas di Indonesia masih menunjukkan momentum yang kuat tahun ini.

Konflik geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak mentah dinilai membuat kebutuhan peningkatan produksi migas nasional semakin mendesak.

Ia menyebut kebutuhan energi domestik Indonesia masih sangat besar, sementara produksi minyak dan gas saat ini belum mencukupi permintaan pasar dalam negeri.

“Banyak perusahaan migas, bukan hanya Pertamina, meningkatkan pengeboran sumur gas baru. Ketika jumlah sumur bertambah, kebutuhan gas processing plant juga meningkat,” ujarnya.

Jereh sendiri mengaku memiliki kemampuan menyediakan fasilitas pengolahan gas secara terintegrasi, mulai dari water removal hingga CO2 removal.

Saat ini, perusahaan juga tengah mengerjakan sejumlah proyek pengolahan gas di Indonesia.

Namun demikian, Wesley mengakui industri penunjang migas saat ini menghadapi tantangan besar akibat ketidakpastian ekonomi global dan gangguan rantai pasok internasional.

Lonjakan harga bahan baku hingga perubahan tarif impor menjadi tantangan utama bagi perusahaan.

Ia menjelaskan sebagian komponen utama produk Jereh seperti gas engine dan transmission masih diimpor dari Amerika Serikat.

Ketegangan perdagangan antara China dan AS membuat biaya impor meningkat signifikan.

“Biaya bahan baku naik cukup besar dan perubahan import duty juga menjadi tantangan besar bagi bisnis kami di Indonesia,” katanya.

Selain faktor rantai pasok, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga turut memberikan tekanan terhadap industri.

Meski begitu, Jereh berupaya memberikan fleksibilitas pembayaran kepada pelanggan di Indonesia.

“Sekarang kami juga bisa menerima pembayaran langsung menggunakan RMB sehingga tidak harus memakai dolar AS,” ujar Wesley.

Di sisi lain, Jereh juga mulai memperluas fokus bisnisnya menuju sektor energi bersih seiring meningkatnya dorongan global terhadap dekarbonisasi.

Salah satu yang tengah dikembangkan perusahaan adalah teknologi daur ulang baterai kendaraan listrik atau EV battery recycle.

Wesley menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam industri tersebut mengingat pertumbuhan kendaraan listrik yang terus meningkat, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta.

“Dalam lima hingga enam tahun ke depan, kebutuhan pengolahan baterai kendaraan listrik bekas akan semakin besar. Karena itu kami mulai mengembangkan teknologi EV battery recycle,” jelasnya.

Saat ini Jereh juga disebut tengah menjajaki diskusi potensial dengan sejumlah perusahaan besar seperti LG, SK Group, dan Samsung terkait peluang pengembangan fasilitas daur ulang baterai kendaraan listrik di Indonesia.

Menurut Wesley, pengembangan industri tersebut berpotensi menjadi peluang bisnis baru sekaligus mendukung agenda transisi energi nasional di masa depan.

Reporter: David Ilham