Henkel Tawarkan Solusi Dekarbonisasi Infrastruktur Migas

Henkel Tawarkan Solusi Dekarbonisasi Migas Tanpa Ubah Infrastruktur (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Senin, 25 Mei 2026 | 10:30:51 WIB

JAKARTA - Perusahaan teknologi perekat asal Jerman, Henkel Adhesive Technologies, memamerkan teknologi terbarunya untuk mendukung dekarbonisasi sektor minyak dan gas bumi atau migas.

Teknologi tersebut diperkenalkan dalam ajang Indonesian Petroleum Association Convention and Exhibition 2026 atau IPA Convex 2026.

Melalui konsep Invisible Decarbonization, Henkel menampilkan pendekatan pengurangan emisi karbon yang berfokus pada penguatan integritas aset dan peningkatan efisiensi energi pada infrastruktur yang sudah beroperasi.

OPEX Manager SEA Henkel Adhesive Technologies, Mickey Kasemphaibulsuk, mengatakan strategi ini memungkinkan industri migas menekan emisi tanpa perlu melakukan perubahan besar pada sistem produksi utama.

Dua teknologi utama yang diperkenalkan dalam seminar IPA Convex 2026 adalah STOPAQ dan Mascoat.

STOPAQ diklaim mampu mengurangi emisi CO2 hingga 91 persen dibandingkan metode perlindungan korosi konvensional.

Teknologi itu juga memiliki profil emisi 11 kali lebih rendah per 100 meter persegi.

Sementara itu, Mascoat diklaim mampu meningkatkan efisiensi termal secara konsisten hingga 42 persen.

Peningkatan efisiensi tersebut berdampak langsung pada penghematan bahan bakar dan pengurangan jejak karbon operasional.

“Kedua solusi tersebut fokus pada pemeliharaan preventif dan integritas asset sebagai instrumen dekarbonisasi yang efisien dari sisi biaya dan mampu memberikan hasil terukur dalam waktu singkat,” kata Kasemphaibulsuk dalam keterangan resmi, Minggu (24/5/2026).

Henkel juga mengintegrasikan aspek keberlanjutan ke dalam solusi perlindungan dan perbaikan infrastruktur.

Langkah tersebut ditujukan untuk mengurangi emisi tersembunyi yang muncul dari kehilangan panas, korosi, dan kebocoran.

“Dengan memperpanjang siklus hidup aset, perusahaan secara otomatis dapat mengurangi konsumsi material baru seperti baja, yang memiliki jejak karbon produksi sangat tinggi, sekaligus mengoptimalkan konsumsi energi pada peralatan produksi yang rentan mengalami penurunan performa,” ungkap Kasemphaibulsuk.

Reporter: David Ilham