Pembangkit Listrik LNG Dukung Target Emisi Nol Bersih 2050
JAKARTA - Pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga gas terus berjalan di mana para insinyur menginspeksi peralatan operasional secara berkala.
Pada forum COP26, Vietnam bersama sekitar 150 negara lainnya telah menyepakati komitmen bersama untuk mencapai target emisi nol bersih pada tahun 2050 sekaligus menyepakati Deklarasi Global tentang Transisi dari Pembangkit Listrik Tenaga Batu Bara ke Energi Bersih.
Dalam upaya merealisasikan komitmen global tersebut, pemanfaatan pembangkit listrik berbasis gas alam cair (LNG) menjadi sebuah langkah strategis yang mendukung ketahanan energi nasional sekaligus menekan jumlah emisi.
Sudah sejak lama LNG dikenal luas sebagai bahan bakar fosil yang ramah lingkungan.
Melalui proses pencairan, volume gas alam mampu menyusut hingga 600 kali lipat sehingga membuat proses pengangkutan serta penyimpanan menjadi jauh lebih efisien.
Karakteristik LNG yang tidak berwarna, tidak berbau, serta tidak korosif menjadikannya sebagai opsi bahan bakar fosil paling bersih untuk saat ini.
Jika dikomparasikan dengan energi konvensional, tingkat emisi CO2 yang dihasilkan oleh LNG tercatat 45-50% lebih rendah daripada batu bara dan 30% lebih rendah dibanding minyak bumi.
Tingkat emisi unsur lain seperti nitrogen, sulfur, merkuri, serta partikulat (PM2.5) dari bahan bakar ini juga berada pada level yang sangat minimal.
Kondisi tersebut tidak sekadar mendatangkan dampak positif bagi peningkatan kualitas udara, melainkan juga menekan risiko kerusakan lingkungan sekaligus memproteksi tingkat kesehatan masyarakat.
Meninjau aspek keselamatan, LNG memiliki massa yang lebih ringan dibandingkan air sehingga apabila terjadi kebocoran, zat tersebut akan menguap ke udara secara cepat dan meminimalkan dampak buruk pada ekosistem perairan jika dibandingkan dengan solar atau bensin.
Para pakar di bidang energi menilai bahwa eksistensi pembangkit listrik LNG tidak hanya menjadi instrumen utama dalam menghijaukan sistem kelistrikan, tetapi juga menjadi fondasi kuat bagi ketahanan energi nasional.
Dr. Nguyen Huu Luong dari Institut Perminyakan Vietnam menjelaskan bahwa teknologi LNG menawarkan solusi yang bersih sekaligus bernilai ekonomis tinggi untuk diterapkan pada sektor domestik, transportasi, manufaktur, konstruksi, hingga sistem logistik.
Senada dengan hal itu, Profesor Madya Dr. Dinh Trong Thinh yang merupakan pengajar senior pada Akademi Keuangan bawah Kementerian Keuangan menegaskan bahwa implementasi pembangkit listrik LNG merupakan keniscayaan demi menjaga pasokan listrik yang konsisten bagi laju ekonomi serta mengakselerasi transisi energi di Vietnam.
Faktor utamanya adalah karena pembangkit bertenaga gas ini memiliki stabilitas operasional yang baik, waktu pemanasan yang cepat, serta responsif dalam menyuplai daya ke jaringan nasional saat produksi energi terbarukan sedang menurun, sembari tetap menjaga tingkat emisi CO2 pada level rendah.
Bagi kalangan masyarakat serta pelaku usaha yang merasakan langsung dampak stabilitas setrum, ketersediaan jaringan listrik yang andal menjadi kebutuhan yang paling utama.
Bapak Tran Van Tinh, selaku direktur bengkel manufaktur mekanik yang berlokasi di Kawasan Industri Nam Thang Long, mengungkapkan kekhawatiran: "Dengan mesin dan jalur produksi yang sangat otomatis, bahkan beberapa detik pemadaman listrik atau gangguan listrik mendadak dapat merusak seluruh batch barang di bengkel saya, mengakibatkan kerugian ratusan juta dong, belum lagi kerusakan peralatan. Kami sangat mendukung kebijakan penggunaan energi bersih, tetapi yang terpenting, pasokan listrik harus berkelanjutan dan stabil. Mengetahui bahwa Pemerintah Kota dan Negara berinvestasi besar-besaran di pembangkit listrik tenaga gas untuk memastikan pasokan yang stabil dalam segala keadaan, kami para pelaku usaha merasa sangat tenang dan yakin untuk meminjam modal dan memperluas produksi di masa mendatang."
Seiring dengan lonjakan konsumsi listrik yang terus terjadi, terutama saat memasuki musim kemarau di wilayah utara, pemenuhan sumber daya listrik yang masif dan andal menjadi prioritas utama sektor energi.
Guna mengantisipasi tantangan tersebut, proyek pembangkit listrik LNG Quynh Lap tengah dibangun di kawasan Nigeria Tengah bagian Utara sebagai salah satu proyek strategis di provinsi Nghe An.
Fasilitas ini diproyeksikan memegang peranan krusial untuk menambah pasokan setrum di area utara pada beberapa tahun ke depan, sekaligus mendorong kemajuan sektor industri, logistik, dan pelabuhan setempat.
Pengerjaan proyek ini digarap oleh sebuah konsorsium yang beranggotakan Vietnam Oil and Gas Power Corporation (PV Power yang berada di bawah Vietnam National Energy and Industry Group), SK Innovation, serta Nghe An Sugar Company Limited (NASU).
Hingga saat ini, total kapasitas pembangkit listrik yang dikelola oleh PV Power telah mencapai lebih dari 5.800 MW.
Memasuki tahun 2025, perusahaan tersebut menjadwalkan operasional komersial untuk pembangkit Nhon Trach 3 dan 4 yang menjadi pionir pembangkit LNG di Vietnam.
Berdasarkan cetak biru proyek, pembangunan akan berlokasi di Kelurahan Tan Mai, Provinsi Nghe An, dengan kucuran investasi menyentuh angka 59 triliun VND dan kapasitas terpasang mencapai 1.500 MW.
Fasilitas tersebut nantinya akan dilengkapi dengan tangki penyimpanan LNG berkapasitas 250.000 m3, sistem regasifikasi, serta pelabuhan khusus untuk aktivitas impor LNG.
Saat mulai beroperasi nanti, pembangkit ini ditargetkan menyalurkan pasokan daya sekitar 9 miliar kWh per tahun ke jaringan transmisi nasional demi menjaga stabilitas pasokan di wilayah utara dan tengah utara.
Sistem yang dibangun pada proyek ini dirancang sebagai rantai teknologi LNG yang terintegrasi penuh mulai dari proses pembongkaran, penyimpanan, regasifikasi, hingga konversi menjadi daya listrik.
Pasokan LNG yang diimpor akan diangkut menggunakan kapal kargo khusus, bersandar di terminal pelabuhan, kemudian diubah kembali menjadi gas sebelum digunakan untuk memutar turbin pembangkit.
Fasilitas ini juga dikonsepkan untuk mengadopsi teknologi Turbin Gas Siklus Gabungan (CCGT) model mutakhir.
Menurut pandangan para ahli, sistem CCGT memiliki tingkat efisiensi termal yang jauh lebih tinggi ketimbang model pembangkit konvensional, sekaligus efektif dalam memangkas emisi karbon serta zat polutan lainnya selama masa operasional.
Langkah ini dinilai selaras dengan peta jalan Vietnam dalam mengembangkan energi bersih serta memenuhi komitmen netralitas karbon pada tahun 2050.
Mengingat proyeksi kebutuhan listrik yang terus meningkat di masa depan, akselerasi proyek pembangkit listrik LNG menjadi opsi mutlak untuk memperkuat keandalan sistem kelistrikan sekaligus merealisasikan agenda transisi energi Vietnam secara bertahap.