Sinergi BUMN Kembangkan CCS untuk Amonia Rendah Karbon

Diskusi panel bertajuk "Clean Ammonia Development in Indonesia (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Kamis, 28 Mei 2026 | 13:17:43 WIB

TANGERANG - PT Pertamina Hulu Energi (PHE) bersama dengan PT Pertamina (Persero), PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, serta PT Pupuk Indonesia (Persero) telah menyepakati penandatanganan Joint Study Agreement (JSA).

Kesepakatan ini dilakukan guna mengkaji pengembangan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) demi mendorong terciptanya amonia rendah karbon.

Prosesi penandatanganan tersebut dilangsungkan di tengah perhelatan Indonesia Petroleum Association Convention and Exhibition 2026 yang bertempat di ICE BSD, pada Kamis (21/5/2026).

Kerja sama ini menjadi sebuah langkah strategis di antara perusahaan-perusahaan nasional dalam menjajaki rantai nilai dekarbonisasi sektor industri.

Hal tersebut diupayakan melalui integrasi emisi CO? yang bersumber dari pabrik amonia kepunyaan Pupuk Indonesia beserta afiliasinya.

Emisi karbon tersebut selanjutnya bakal diangkut lalu diinjeksikan menuju wilayah kerja Pertamina yang menyimpan potensi sebagai tempat penampungan karbon.

Proses penandatanganan kesepakatan dilakukan secara langsung oleh Senior Vice President Technology Innovation & Implementation Pertamina Hana Timoti, Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PHE Dannif Utojo Danusaputro, PTH. Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN Hery Murahmanta, serta Direktur Teknik dan Pengembangan Bisnis Pupuk Indonesia Jamsaton Nababan.

Agenda penandatanganan tersebut juga disaksikan secara langsung oleh VP Business Support SKK Migas Firera, Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza, beserta Direktur Utama PHE Awang Lazuardi.

Studi bersama yang diinisiasi ini mempunyai target untuk mengeksplorasi peluang kolaborasi dalam pengembangan CCS demi memproduksi amonia rendah karbon.

Hal ini juga selaras dengan langkah dalam mendorong percepatan transisi energi sekaligus menekan angka emisi pada sektor industri.

Melalui mekanisme ini, gas CO? yang dilepaskan dari fasilitas produksi amonia kepunyaan Pupuk Indonesia bakal diintegrasikan ke dalam jaringan CCS.

Proses integrasi ini berjalan mulai dari tahap penangkapan, pengangkutan, hingga penyuntikan ke area penyimpanan yang potensial di wilayah kerja milik Pertamina.

Cakupan dari studi ini meliputi pengembangan produksi amonia rendah karbon pada fasilitas-fasilitas eksisting milik Pupuk Indonesia beserta afiliasinya.

Sisa CO? yang berlebih dari fasilitas operasi tersebut akan dikaji agar dapat dialirkan menuju lokasi penyimpanan potensial yang berada di kawasan Jawa Barat serta Jawa Timur.

Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PHE Dannif Utojo Danusaputro mengutarakan bahwa kolaborasi ini menjadi sebuah pijakan krusial dalam membangun ekosistem CCS yang terintegrasi di tanah air.

“Kerja sama lintas sektor ini menunjukkan komitmen bersama dalam menghadirkan solusi dekarbonisasi yang nyata untuk industri strategis nasional. Sinergi ini diharapkan dapat membuka peluang pengembangan CCS yang lebih luas sekaligus mendukung target net zero emission Indonesia,” ujarnya.

Senior Vice President Technology Innovation & Implementation Pertamina Hana Timoti turut mengimbuhkan bahwa pengembangan CCS untuk amonia rendah karbon menjadi satu di antara sekian langkah strategis dalam memperlebar implementasi teknologi rendah karbon di sektor industri tanah air.

“Studi bersama ini merupakan wujud sinergi antarentitas dalam Pertamina Group dan mitra strategis nasional untuk mengembangkan rantai nilai karbon yang terintegrasi. Melalui pemanfaatan teknologi CCS, kami berharap dapat mendukung pengembangan produk rendah karbon seperti amonia, sekaligus memperkuat daya sang industri nasional dalam menghadapi transisi energi global,” kata Hana.

Lewat kolaborasi ini, PHE bersama dengan segenap mitra strategisnya berharap bisa mempercepat penerapan teknologi CCS sebagai bagian dari ekspansi bisnis rendah karbon.

Langkah ini juga sekaligus untuk memperkokoh posisi Indonesia dalam menghadirkan solusi energi yang berkelanjutan di tingkat regional.

PHE bakal terus menanamkan investasi dalam tata kelola operasi serta bisnis hulu migas yang berlandaskan pada prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

PHE pun senantiasa memegang teguh komitmen Zero Tolerance on Bribery dengan memastikan langkah pencegahan terhadap tindakan fraud serta menjamin perusahaan bersih dari segala bentuk penyuapan.

Salah satu upaya nyata yang ditempuh adalah lewat penerapan Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) yang telah mengantongi standardisasi ISO 37001:2016.

Reporter: David Ilham