Sinergi PHE, PGN, dan Pupuk Indonesia Kembangkan Teknologi CCS

Indonesia Kembangkan Teknologi CCS (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Kamis, 28 Mei 2026 | 13:17:43 WIB

JAKARTA - PT Pertamina Hulu Energi (PHE) senantiasa memperkokoh perannya dalam menyukseskan program transisi energi di tingkat nasional.

Bersama dengan PT Pertamina (Persero), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), dan PT Pupuk Indonesia (Persero), anak usaha hulu Pertamina ini menyepakati Joint Study Agreement (JSA) guna mendalami penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) demi mendorong produksi amonia rendah karbon di dalam negeri.

Penandatanganan kerja sama ini dilaksanakan di tengah pergelaran Indonesia Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex).

Kemitraan tersebut ditujukan untuk memadukan program reduksi emisi pada industri pupuk dengan kapasitas penyimpanan karbon yang dimiliki sektor hulu migas.

Lewat kolaborasi ini, gas karbon dioksida yang dihasilkan dari pabrik amonia milik Pupuk Indonesia beserta anak usahanya akan ditangkap, ditransfer, lalu disuntikkan secara aman ke dalam struktur geologi di area kerja Pertamina yang potensial dijadikan tempat penyimpanan karbon permanen.

Riset bersama ini dipersiapkan untuk memetakan seluruh rantai nilai CCS, mulai dari metode teknis penangkapan gas buang, moda transportasi karbon, hingga proses injeksi ke dalam reservoir.

Seluruh pihak terkait juga akan melihat peluang modifikasi fasilitas amonia rendah karbon pada aset-aset yang saat ini dioperasikan oleh Pupuk Indonesia.

Berdasarkan rencana, sisa emisi CO2 dari pabrik tersebut bakal dialirkan menuju wilayah penyimpanan potensial di Jawa Barat serta Jawa Timur yang dianggap strategis lantaran dekat dengan area industri dan ditunjang oleh struktur geologi yang memadai.

Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PHE, Dannif Utojo Danusaputro, menganggap kolaborasi ini menjadi momentum krusial untuk menciptakan ekosistem CCS yang saling terintegrasi di Indonesia.

"Kerja sama lintas sektor ini menunjukkan komitmen bersama dalam menghadirkan solusi dekarbonisasi yang nyata untuk industri strategis nasional. Sinergi ini diharapkan dapat membuka peluang pengembangan CCS yang lebih luas sekaligus mendukung target net zero emission Indonesia," ujar Dannif dalam keterangan resminya, Jumat (22/5).

Prosesi penandatanganan dilakukan oleh jajaran direksi dari tiap-tiap perusahaan, antara lain Senior Vice President Technology Innovation & Implementation Pertamina, Hana Timoti; Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PHE, Dannif Utojo Danusaputro; PTH Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN, Hery Murahmanta; serta Direktur Teknik dan Pengembangan Bisnis Pupuk Indonesia, Jamsaton Nababan.

Agenda tersebut turut disaksikan oleh VP Business Support SKK Migas, Firera; Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza; dan Direktur Utama PHE, Awang Lazuardi.

Kehadiran para petinggi tersebut menegaskan kuatnya komitmen antarsektor dalam mematangkan implementasi CCS di tanah air.

SVP Technology Innovation & Implementation Pertamina, Hana Timoti, mengutarakan bahwa pemanfaatan CCS untuk memproduksi amonia rendah karbon menjadi bagian dari langkah memperluas penerapan teknologi ramah lingkungan di sektor industri domestik.

"Studi bersama ini merupakan wujud sinergi antarentitas dalam Pertamina Group dan mitra strategis nasional untuk mengembangkan rantai nilai karbon yang terintegrasi. Melalui pemanfaatan teknologi CCS, kami berharap dapat mendukung pengembangan produk rendah karbon seperti amonia, sekaligus memperkuat daya saing industri nasional dalam menghadapi transisi energi global," kata Hana.

Kerja sama ini diproyeksikan mampu mempercepat proses penyerapan serta komersialisasi teknologi CCS di Indonesia, memperkaya portofolio sektor bisnis rendah karbon, sekaligus memosisikan Indonesia sebagai pionir penyedia solusi energi berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara.

Sebagai perwujudan visi jangka panjang, PHE merealisasikan seluruh aktivitas operasional hulu migas dengan berpijak pada prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta mengimplementasikan regulasi Zero Tolerance on Bribery lewat Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) yang telah mengantongi sertifikat ISO 37001:2016.

Reporter: David Ilham