Mahasiswa ITB Juara 1 Internasional Petrolida 2026 Lewat Inovasi Migas

Mahasiswa ITB (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Rabu, 03 Juni 2026 | 15:02:25 WIB

SURABAYA – Sekelompok mahasiswa Teknik Perminyakan dari Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM), Institut Teknologi Bandung (ITB) sukses meraih Juara 1 di ajang internasional Petrolida 2026 (Petroleum Integrated Days) yang diselenggarakan oleh SPE ITS Student Chapter.

Grup ini beranggotakan Naufal Herdian Saputra, Naufal Abiyyu Partowijoyo, Rayhan Andrasakti, Kevin Akbar Nasution, Muhammad Reza Muhtadi, serta Gabriel Chris Palanza Sihotang, yang memperkenalkan proyek pengembangan lapangan migas bernama “FALAH Field”.

Proyek tersebut memadukan metode enhanced oil recovery (EOR), carbon capture utilization and storage (CCUS), serta teknologi intelligent completion.

Pada kompetisi itu, tim berkonsentrasi menyusun Plan of Development (POD) secara menyeluruh, mulai dari karakterisasi reservoir bawah permukaan, estimasi cadangan, simulasi produksi, perencanaan sumur, hingga penyediaan fasilitas produksi dan aspek keselamatan lingkungan.

Eksekusi proyek didistribusikan berdasarkan keahlian tiap anggota: Naufal Herdian Saputra mengelola fasilitas permukaan dan jaringan pipa; Naufal Abiyyu Partowijoyo menangani program pengeboran dan penyelesaian; Rayhan Andrasakti, Kevin Akbar Nasution, dan Muhammad Reza Muhtadi berfokus pada pengembangan lapangan dan reservoir bawah permukaan; sedangkan Gabriel Chris Palanza Sihotang pada analisis geomekanika dan petrofisika.

Motivasi mereka mengikuti kompetisi ini adalah untuk memperluas cakrawala sekaligus menguji kemampuan dalam menyelesaikan persoalan teknis yang rumit di sektor perminyakan.

Kendala utama yang dihadapi berupa kondisi reservoir karbonat yang tidak homogen, sehingga berpotensi menurunkan efisiensi produksi.

Guna mengatasinya, tim menerapkan strategi pengembangan lewat kombinasi injeksi air dan CO? yang ditunjang teknologi pengontrol aliran otomatis demi memastikan distribusi produksi lebih efektif.

Di samping itu, mereka merancang ulang model simulasi reservoir lantaran data awal yang terbatas, sedangkan kebutuhan simulasi injeksi CO? memerlukan model yang lebih terperinci.

Nilai lebih proyek ini terletak pada integrasi antardisiplin yang sistematis.

Seluruh tingkatan, dari analisis reservoir hingga analisis ekonomi dan perdagangan karbon, dikonsep saling berkaitan.

Metode ini terbukti sanggup mendongkrak produksi minyak secara signifikan sekaligus memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan melalui penyimpanan CO? permanen.

Di tengah jalannya kompetisi, tim sempat mengalami kendala waktu lantaran kesibukan akademik serta keterbatasan perangkat untuk simulasi berat.

“Proses simulasi cukup memakan waktu karena keterbatasan perangkat laptop yang kami gunakan. Akhirnya kami mencoba menghubungi Kaprodi Teknik Perminyakan, Pak Dedy Irawan, untuk meminjam ruangan dan perangkat yang dapat mendukung pengerjaan simulasi,” ujar Naufal Herdian Saputra.

Selain sokongan fasilitas, mereka juga memperoleh bimbingan dari para alumni mengenai strategi presentasi dan menjawab pertanyaan teknis dari dewan juri.

Tukar pikiran dengan praktisi industri membantu mereka memahami pendekatan profesional dalam menuntaskan problem di lapangan.

Bagi mereka, ajang ini memberikan pengalaman berharga dalam menghadapi tantangan di luar kurikulum kelas.

“Kompetisi ini benar-benar membuat kami untuk belajar lebih dari apa yang diajarkan di kelas. Selain itu, kami juga belajar untuk berani menjawab pertanyaan juri secara teknikal dan melatih manajemen waktu karena dalam satu minggu ada banyak hal yang harus dikejar,” ungkap Naufal Herdian Saputra.

Lewat kompetisi ini, tim berhasil mengasah kemampuan teknis, kerja sama, dan manajemen waktu.

Mereka berharap pencapaian ini dapat memicu motivasi mahasiswa lain untuk terus berkompetisi.

“Kami berharap mahasiswa dari jurusan yang sama bisa terus belajar dan melatih kemampuan agar dapat melanjutkan prestasi di kompetisi serupa. Karena menurut kami, TOD adalah kompetisi yang memberikan banyak pengalaman berharga,” ujar Gabriel Chris Palanza Sihotang.

Reporter: David Ilham