Pasar Karbon Global 2026 Fokus pada Peningkatan Kualitas Kredit

Ilustrasi bursa karbon, perdagangan karbon (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Rabu, 03 Juni 2026 | 15:02:25 WIB

JAKARTA - Laporan terbaru mencatat lonjakan signifikan jumlah negara dan wilayah yang menerapkan instrumen harga karbon melalui mekanisme kepatuhan dalam 10 tahun terakhir, dari yang semula hanya 58 kini menjadi 87 wilayah.

Secara lebih mendalam, sistem perdagangan izin emisi (ETS) berlipat ganda dari 19 menjadi 40, sementara penerapan regulasi pajak karbon melonjak dari 21 menjadi 47 kebijakan.

Hingga saat ini, instrumen harga karbon telah berhasil mengover mendekati 29% dari seluruh total emisi gas rumah kaca yang ada di bumi.

Akumulasi pendapatan dari instrumen ini diproyeksikan menyentuh angka $107 miliar pada tahun 2025, mengalami kenaikan sebesar 2% dari periode tahun sebelumnya, yang sekaligus mempertegas peran krusial pasar karbon dalam proses transisi menuju roda ekonomi rendah emisi.

Satu hal yang menarik perhatian, sistem perdagangan kuota emisi milik Vietnam untuk pertama kalinya mendapatkan pengakuan dari Bank Dunia di dalam laporan berkala tahun 2026.

Melalui rencana kerja yang ada saat ini, tahap awal dari sistem tersebut bakal diimplementasikan pada sekitar 110 korporasi besar yang bergerak di bidang pembangkit listrik tenaga termal, industri besi, baja, hingga semen.

Menurut Dr. Nguyen Sy Linh, "pengakuan ini menandakan bahwa Vietnam secara resmi telah selaras dengan tren global dalam pengembangan pasar dan mekanisme harga karbon."

Jika menilik pada skala internasional, sistem kerja sama yang mengacu pada Pasal 6 Perjanjian Paris juga terus memperlihatkan grafik pergerakan yang positif.

Tercatat ada sebanyak 108 kesepakatan yang telah ditandatangani di seluruh dunia, atau bertambah 22 kesepakatan baru jika dibandingkan dengan periode yang lalu.

Walau demikian, jumlah proyek yang dinilai sukses melangsungkan proses transfer kredit karbon secara penuh masih sangat minim, yakni baru mencapai 4 proyek saja.

Pada sudut pandang berbeda, lembaga standar kredit karbon independen semacam Verra serta Gold Standard diperkirakan bakal menerbitkan mendekati 306 juta kredit di tahun 2025, atau mengalami penurunan 4% dari pencapaian tahun lalu.

Kondisi terbalik justru terjadi pada mekanisme yang dikelola langsung oleh pihak pemerintah, di mana sektor ini tumbuh pesat lewat penerbitan 56 juta kredit atau melonjak hingga 40%, dengan Australia sebagai penyumbang terbesar mencapai hampir 22 juta kredit.

Melalui kompilasi data tersebut, Bank Dunia menarik kesimpulan bahwa bursa karbon internasional kini telah menapak ke babak perkembangan baru yang tidak lagi mengejar kuantitas total penerbitan, melainkan menitikberatkan pada perbaikan kualitas serta integritas lingkungan dari instrumen kredit tersebut.

Parameter utamanya terlihat jelas dari lonjakan porsi kredit yang berasal dari sektor kehutanan serta tata guna lahan hingga menyentuh angka 36%, sedangkan kredit yang bersumber dari proyek energi terbarukan justru merosot ke angka 38%.

Realita ini merefleksikan tingginya animo pasar terhadap kepemilikan kredit dengan mutu tinggi, utamanya pada program-program berbasis alam yang mampu menyuplai benefit ganda bagi lingkungan sekaligus kehidupan sosial.

Informasi dari pasar juga memaparkan bahwa nilai jual sebuah kredit sangat terikat pada mutu dari proyek itu sendiri.

Menilik pada skema pemeringkatan yang berlaku, sebuah proyek dengan predikat BBB atau yang lebih tinggi di atasnya dapat dihargai mendekati $30 per kredit, sementara proyek dengan rating rendah hanya mentok di angka $8,7, dan untuk kredit tanpa status peringkat berada di kisaran $6,3 per kredit.

Temuan riset dari BeZero Carbon turut memperlihatkan adanya disparitas harga yang teramat mencolok di antara kelompok proyek yang berjalan.

Nilai dari instrumen kredit untuk proyek reboisasi serta pemulihan hutan dengan mutu prima bisa dibanderol 87% lebih mahal bila dikomparasikan dengan proyek sejenis yang bermutu rendah.

Kondisi ini membuktikan bahwa pelaku pasar saat ini jauh lebih mengapresiasi faktor transparansi, aspek keterukuran verifikasi, serta bobot integritas lingkungan ketimbang sekadar melihat kuantitas volume emisi yang berhasil diikat atau dikurangi.

Di dalam laporan resminya, Bank Dunia memetakan keberadaan tiga tren utama yang sedang berjalan.

Pertama, peta perdagangan pasar mulai bergeser dari yang awalnya bertumpu pada penjualan kredit yang telah terbit, kini mengarah ke bentuk investasi masa depan lewat sistem perjanjian pembelian di muka yang volumenya melesat hingga tiga kali lipat.

Program yang berbasis pada pengelolaan sumber daya alam menyerap porsi 19% dari total transaksi jenis ini, yang sekaligus membuka keran pendanaan segar lebih awal bagi para inovator proyek.

Kedua, sekat pemisah antara bursa karbon kepatuhan dengan bursa sukarela kini kian memudar lantaran kedua sektor tersebut sama-sama berburu kepemilikan kredit bermutu tinggi, sehingga ketersediaan unit kredit kepatuhan menjadi semakin langka dan bernilai tinggi.

Ketiga, para penanam modal terpantau semakin meminati model portofolio kredit yang bervariasi, yang tidak cuma mengalkulasi volume emisi semata, namun juga memperhitungkan aspek kemanfaatan ekstra seperti proteksi keanekaragaman hayati dan konsep pembangunan berkelanjutan.

Menurut Dr. Nguyen Sy Linh, "tren ini memberi tiga wawasan bagi Vietnam. Pertama, pemilik proyek harus proaktif bersiap karena permintaan tidak muncul secara otomatis. Kedua, kualitas akan menjadi penentu nilai kredit. Ketiga, pasar beralih ke investasi proyek yang menuntut transparansi, kepastian hak karbon, hak penggunaan lahan, serta mekanisme pembagian keuntungan yang transparan."

Sejumlah pengamat memberikan pandangan bahwa kendati regulasi hukum di Vietnam terus dipoles menuju kesempurnaan, tingkat keberhasilan operasional di lapangan tetap memerlukan sinergi yang solid antara pihak birokrasi, pelaku industri, hingga para pemilik proyek.

Mengusung target implementasi penuh secara total pada tahun 2029, dinamika tren global yang tengah terjadi ini wajib dijadikan stimulus sekaligus referensi krusial bagi para pemilik proyek dalam mematangkan peta strategi pengembangan mereka.

Khusus untuk industri di bidang kehutanan, prospek paling menjanjikan terletak pada kapabilitas dalam merancang proyek bermutu tinggi yang selaras dengan kriteria internasional demi memikat modal investasi untuk jangka panjang.

Reporter: David Ilham