Eropa Hemat 60 Miliar Dolar AS Berkat Lonjakan Energi Terbarukan

Eropa Hemat 60 Miliar Dolar AS (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Selasa, 02 Juni 2026 | 15:06:52 WIB

JAKARTA - Uni Eropa berhasil mencatatkan penghematan anggaran sebesar 51,4 miliar euro atau setara dengan 60 miliar dolar AS selama tahun 2025 yang lalu.

Langkah efisiensi ini dapat tercapai berkat pengurangan volume impor komoditas bahan bakar fosil serta akselerasi yang masif dalam pengembangan sektor energi bersih.

Berdasarkan laporan resmi dari Badan Energi Internasional (IEA), perluasan kapasitas pembangkit listrik tenaga surya dan bayu terbukti efektif memangkas ketergantungan kawasan tersebut pada pasokan batu bara, gas, maupun minyak dari luar negeri.

Keberhasilan penekanan biaya ini terjadi di tengah situasi ketidakpastian harga energi di pasar global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik yang melanda wilayah Timur Tengah.

Lembaga kajian energi dan iklim, Ember, menilai bahwa langkah transisi ke energi bersih tersebut sekaligus memperkuat daya tahan kawasan Eropa dalam menghadapi volatilitas harga dan risiko gangguan pasokan.

"Penghematan dari bahan bakar fosil pada tahun 2025 kemungkinan akan meningkat tahun ini karena harga minyak, gas, dan batu bara terus naik," kata seorang perwakilan Ember.

Mengacu pada data publikasi Strategic Perspectives, total impor produk energi oleh Uni Eropa sepanjang tahun 2025 mencapai angka 723,3 juta ton dengan nilai total sebesar 336,7 miar euro atau sekitar 392,7 miliar dolar AS.

Jika dikomparasikan dengan periode tahun 2024, nilai transaksi impor tersebut mengalami penurunan sebesar 11,1 persen, sementara volume barangnya menyusut sebesar 0,6 persen.

Pada periode yang sama, kawasan benua biru tersebut juga telah menginvestasikan dana sekitar 105 miliar dolar AS demi menggenjot pengembangan infrastruktur energi terbarukan.

Sektor tenaga surya tampil sebagai bidang dengan akselerasi paling signifikan, di mana total produksinya sanggup menyentuh angka di atas 340 TWh pada tahun 2025 atau memasok 12,5 persen dari akumulasi produksi listrik di Uni Eropa.

Peningkatan produksi listrik dari tenaga surya tersebut bertambah lebih dari 60 TWh dibanding tahun sebelumnya, sebuah angka yang setara dengan seluruh pasokan listrik tahunan negara Portugal.

Seorang analis energi dari Strategic Perspectives, Marin Gillot, menjabarkan pandangannya bahwa pemanfaatan energi bersih saat ini bukan lagi sekadar alat pemenuh target mitigasi perubahan iklim, melainkan sudah bertransformasi menjadi strategi ekonomi dan geopolitik.

"Semakin sedikit Eropa bergantung pada bahan bakar fosil, semakin kecil kemungkinan masyarakat dan bisnis akan rentan terhadap fluktuasi harga energi dan ketidakpastian global ," kata Gillot.

Tren pertumbuhan pemanfaatan energi ramah lingkungan ini nyatanya tidak hanya terjadi secara eksklusif di dataran Eropa semata.

Melalui hasil telaah Ember, bulan April 2026 menjadi sebuah rekor baru berskala global karena kombinasi energi surya dan angin untuk pertama kalinya menghasilkan pasokan listrik yang lebih besar ketimbang penggunaan gas alam.

Kedua sumber energi terbarukan tersebut menyumbang porsi sebesar 22 persen dari total bauran listrik di seluruh dunia pada bulan April, melampaui kontribusi gas alam yang tertahan di angka 20 persen.

Pihak Ember menambahkan bahwa torehan prestasi ini digapai tepat pada bulan pertama terjadinya krisis energi gelombang baru akibat konflik di Timur Tengah, yang sekaligus menegaskan peran krusial energi hijau dalam bauran pasokan listrik dunia.

Output dari pembangkit listrik tenaga bayu dan surya di tingkat global diproyeksikan tumbuh sebesar 13 persen secara tahunan, dengan capaian pertumbuhan dua digit di sejumlah pasar utama seperti Tiongkok sebesar 14 persen, Uni Eropa 13 persen, Inggris 35 persen, Australia 17 persen, serta Chili sebanyak 24 persen.

Meskipun begitu, Ember memberikan catatan khusus bahwa rekor capaian yang diraih ini masih berada dalam perhitungan skala bulanan dan bukan akumulasi tahunan.

Bulan April dinilai sebagai momentum yang sangat ideal bagi sektor energi bersih karena adanya peralihan musim semi di wilayah Belahan Bumi Utara yang memicu optimalnya produksi listrik tenaga surya dan angin.

Di sisi lain, tingkat konsumsi listrik masyarakat global cenderung mengalami penurunan pada masa transisi antara musim pendinginan ruang dan musim pemanasan ruang, sehingga ketergantungan terhadap pembangkit gas alam menjadi lebih rendah daripada bulan-bulan lainnya.

Namun demikian, sejumlah pengamat tetap optimistis bahwa pencapaian ini merupakan cerminan nyata dari masifnya pergeseran ke energi terbarukan serta semakin dominannya peran teknologi angin dan surya dalam struktur sistem kelistrikan dunia.

Reporter: David Ilham