PLN EPI Dorong Dekarbonisasi Lewat Restorasi Mangrove

PLN EPI Dorong Dekarbonisasi (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Jumat, 29 Mei 2026 | 15:06:52 WIB

JAKARTA - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) terus memperkuat upaya dekarbonisasi serta transisi energi berkelanjutan melalui pendekatan berbasis alam (nature-based solutions).

Komitmen ini diwujudkan melalui penyelenggaraan HSSE Talk #4 dengan tema Nature-Based Solutions for Decarbonization: Unlocking the Power of Blue Carbon Ecosystems dalam rangka peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2026.

Kegiatan yang dilaksanakan secara daring pada Jumat (22/5) ini diikuti oleh jajaran manajemen serta insan PLN EPI Group sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya keberlanjutan di lingkungan perusahaan.

Vice President Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (K3KL) PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), Muhammad Aminuddin, menegaskan bahwa perusahaan tidak hanya berfokus menjaga ketahanan pasokan energi nasional, tetapi juga memikul tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan, khususnya ekosistem pesisir.

“PLN EPI memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan energi nasional. Namun di saat yang sama, kami juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga ekosistem pesisir yang menjadi rumah bagi mangrove dan padang lamun sebagai penyerap karbon alami atau blue carbon,” ujar Aminuddin.

Ia menjelaskan, ekosistem padang lamun dan mangrove mampu menyerap karbon hingga sepuluh kali lebih efektif dibandingkan hutan daratan.

Potensi tersebut menjadikan kawasan pesisir sebagai salah satu solusi penting dalam mendukung target penurunan emisi nasional serta pencapaian Net Zero Emission Indonesia 2060.

PLN EPI juga menyoroti ancaman perubahan iklim yang kian meningkat, mulai dari abrasi pantai, kenaikan muka air laut, hingga cuaca ekstrem yang berdampak langsung terhadap masyarakat pesisir.

Berdasarkan data CarbonEthics, Indonesia memiliki sekitar 3,4 juta hektare kawasan mangrove dengan kapasitas penyimpanan mencapai 3,1 miliar ton CO2.

Namun, sekitar 40 persen kawasan mangrove di Indonesia mengalami degradasi dalam tiga dekade terakhir.

Menurut Aminuddin, pengembangan bisnis energi ke depan harus dilakukan dengan pendekatan yang lebih berkelanjutan dan bertanggung jawab.

“PLN EPI perlu memposisikan diri sebagai pelopor integrasi nature-positive strategy dalam operasional energi. Keberlanjutan bukan lagi sekadar pelengkap, tetapi bagian penting dalam membangun bisnis energi masa depan yang resilien dan bernilai tambah,” katanya.

Dalam forum tersebut, PLN EPI menghadirkan Senior Business Development Manager CarbonEthics, Farhan Prastiyan, sebagai narasumber.

Farhan menilai solusi berbasis alam memiliki peluang besar untuk mendukung mitigasi perubahan iklim sekaligus menciptakan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat pesisir.

Menurutnya, konservasi lahan gambut, rehabilitasi mangrove, hingga pengelolaan kawasan pesisir berkelanjutan tidak hanya meningkatkan kapasitas penyerapan karbon, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui pemberdayaan masyarakat lokal dan blue economy.

Salah satu implementasi nyata dilakukan melalui proyek rehabilitasi mangrove di Karawang yang melibatkan komunitas lokal.

Program tersebut turut menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir lewat pelatihan, pengembangan UMKM, serta penguatan sektor ekowisata.

Melalui HSSE Talk #4, PLN EPI berharap seluruh insan perusahaan semakin memahami pentingnya menjaga ekosistem pesisir dan keanekaragaman hayati sebagai bagian dari upaya nyata menghadapi perubahan iklim.

Langkah ini sejalan dengan tema Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2026, “Acting Locally for Global Impact”, yang menekankan pentingnya aksi lokal dalam menciptakan dampak global bagi keberlanjutan bumi.

Reporter: David Ilham