Harga Emas Naik Dipicu Pelemahan Dolar AS dan Isu Geopolitik
JAKARTA - Harga emas pulih seiring melemahnya dolar AS serta penurunan harga minyak.
Selain itu, kabar bahwa ekonomi AS mencatatkan penambahan 122.000 lapangan kerja pada bulan Mei—angka yang lebih tinggi dari perkiraan sebesar 110.000—turut membantu harga emas berbalik naik.
Harga emas juga melonjak karena investor tengah menilai kembali prospek berakhirnya konflik antara AS, Israel, dan Iran.
Meskipun demikian, para investor meyakini bahwa tren kenaikan harga emas saat ini masih sangat bergantung pada fluktuasi harga minyak dan dolar AS.
Harga emas dinilai baru akan benar-benar naik tajam apabila harga minyak dan dolar AS melemah.
Hal ini menjadikan logam mulia tersebut sangat bergantung pada perkembangan berita positif terkait hubungan AS-Iran guna mempertahankan momentum kenaikan yang berkelanjutan.
Pasar emas domestik melanjutkan tren penurunan pada pagi hari tanggal 4 Juni, yang mencerminkan kondisi tarik-menarik di pasar global.
Usulan Bank Negara Vietnam untuk mengenakan pajak penghasilan pribadi atas transaksi emas batangan guna meningkatkan transparansi sempat menarik perhatian, namun Kementerian Keuangan menegaskan bahwa peraturan tersebut belum diterapkan dalam rancangan regulasi baru.
Pada pukul 06:00 pagi tanggal 5 Juni, harga emas batangan di Doji dan SJC tercatat di level 153 juta VND/ounce (beli) hingga 156 juta VND/ounce (jual), turun 1 juta VND/ounce dibandingkan sesi sebelumnya.
Sementara itu, harga cincin emas di Doji juga tercatat sebesar 153 juta VND/ounce (beli) hingga 156 juta VND/ounce (jual), atau mengalami penurunan sebesar 1 juta VND/ounce.
Harga emas dunia yang tercantum di Kitco berada di angka $4.467 per ons, meningkat $22 per ons dibandingkan awal pagi kemarin.
Para ahli meyakini bahwa pasar emas sedang berada di bawah tekanan di tengah munculnya berbagai faktor yang tidak menguntungkan.
Dalam jangka pendek, harga emas menghadapi volatilitas signifikan.
Ketegangan antara AS dan Iran memang meningkatkan permintaan aset safe-haven, namun kenaikan tajam harga minyak memicu kekhawatiran inflasi yang mendukung penguatan dolar AS serta imbal hasil obligasi.
Secara teknis, kisaran $4.460–$4.500 per ons dianggap sebagai level resistensi terdekat bagi harga emas dunia.
Jika kisaran ini berhasil ditembus, logam mulia ini berpotensi menuju level yang lebih tinggi.
Sebaliknya, jika zona support di sekitar $4.438 per ons ditembus, tekanan penurunan diperkirakan akan berlanjut.