SKK Migas Genjot Produksi 2026 Lewat Sumur Pengembangan
JAKARTA – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengakui kondisi turunnya produksi minyak pada awal tahun akibat musibah pada pipa gas PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) serta kondisi reservoir blok Cepu cukup membuat mengkhawatirkan bagi target produksi tahun ini.
Oleh karena itu, SKK Migas terus memacu bermacam program demi merealisasikan target produksi minyak nasional sebesar 610 ribu barel per hari (BOPD) di tahun 2026.
Beberapa strategi telah dipersiapkan, mulai dari akselerasi pengeboran sumur pengembangan, program Filling The Gap (FTG), sampai optimalisasi sumur masyarakat.
Djoko Siswanto, Kepala SKK Migas, menuturkan bahwa salah satu pilar utama kenaikan produksi bersumber dari sumur-sumur pengembangan di kawasan nearfield, stepout, serta new structures yang berada di Zona 4, Zona 7, dan wilayah kerja Pertamina Hulu Rokan (PHR).
“Sumur-sumur nearfield, stepout dan new structures dari Zona 4, Zona 7 dan PHR yang dibor sampai Mei 2026 berhasil mendapatkan hasil produksi yang baik dan telah memberikan kontribusi produksi awal sekitar 10.000 BOPD,” ujar Djoko dalam paparannya pada Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI belum lama ini.
Di samping itu, SKK Migas pun bertumpu pada program Triple 100 dan FTG demi menambah produksi minyak nasional.
Dari aspek subsurface, program FTG diproyeksikan dapat menyumbang tambahan produksi hingga 5.000 BOPD.
Sampai akhir Mei 2026, realisasi tambahan produksi dari program tersebut menyentuh 199 BOPD sehingga masih ada potensi berkisar 4.800 BOPD yang bakal dikejar hingga tutup tahun.
Langkah penaikan produksi juga ditempuh lewat program work over dan well service pada 106 sumur, termasuk aktivitas Mechanical Lift Failure (MLF), dengan target tambahan produksi rata-rata 75 BOPD untuk tiap sumur.
Hingga kini telah terealisasi sebanyak 28 kegiatan well service.
Sementara itu, untuk sumur pengembangan yang masuk ke dalam bagian program FTG dan Triple 100, SKK Migas membidik pengeboran 52 sumur.
Hingga Mei 2026 sudah terealisasi lima sumur dengan volume produksi awal berkisar 300 sampai 1.000 BOPD per sumur.
Program selanjutnya yaitu eksekusi Massive Scale Fracturing (MSF).
Dari target 17 MSF di area kerja WP&B, dua kegiatan telah rampung digarap dan ditargetkan mulai berproduksi pada Juni 2026.
Sebanyak 15 MSF lainnya bakal dilaksanakan dengan target tambahan produksi sebesar 200–300 BOPD per sumur.
Bukan hanya itu, kegiatan MLF dalam program FTG Triple 100 dan WP&B juga bakal diterapkan pada 30 sumur dengan target produksi awal 30–150 BOPD per sumur yang mulai berjalan pada Juni 2026.
Djoko mengimbuhkan, optimalisasi implementasi Permen ESDM Nomor 14 Tahun 2025 pun mulai memperlihatkan hasil positif.
Produksi dari sumur masyarakat pada Mei 2026 telah menyentuh kisaran 1.500 BOPD dan diproyeksikan bakal terus menanjak seiring bertambahnya kemitraan dengan koperasi, BUMD, serta UMKM.