JAKARTA - Fitoplankton, organisme mikroskopis yang mendiami lautan, memainkan fungsi vital dalam upaya memitigasi krisis iklim lewat kemampuannya menyerap karbon dioksida (CO2) dari atmosfer.
Uniknya, kelangsungan hidup fitoplankton juga terbantu oleh kotoran paus yang sarat akan nutrisi.
Pakar kelautan asal Universitas Stanford, Matthew Savoca, memaparkan bahwa fitoplankton bekerja serupa dengan vegetasi di daratan yang mengikat karbon dioksida melalui mekanisme fotosintesis.
“Fitoplankton hampir seperti rumput, hanya saja berada di lautan. Saat mereka tumbuh, mereka menyerap karbon dioksida dan memasukkannya ke dalam sel-sel mereka,” ujar Savoca, dikutip dari Anadolu, Sabtu (6/6/2026).
Karbon yang terperangkap dalam tubuh fitoplankton berpotensi tersimpan di laut dalam saat organisme tersebut mati dan tenggelam ke dasar samudera.
Mekanisme ini memungkinkan karbon menetap selama ratusan hingga ribuan tahun sebelum terlepas kembali ke atmosfer.
Fungsi fitoplankton tak sekadar krusial bagi iklim, namun juga bagi kelestarian ekosistem laut.
Organisme ini menjadi dasar rantai makanan laut karena dikonsumsi oleh zooplankton, seperti krill, yang selanjutnya menjadi sumber energi bagi ikan serta mamalia laut, termasuk paus.
Dalam siklus tersebut, paus memiliki kontribusi yang setara pentingnya.
Mamalia laut raksasa itu membantu menyuburkan fitoplankton lewat kotorannya yang mengandung zat besi dan nitrogen tinggi.
Savoca mengibaratkan paus sebagai "tukang kebun" yang menjaga produktivitas ekosistem laut.
“Melalui proses itu, kami memperkirakan paus dapat memberikan dampak terhadap iklim, meski jalurnya bersifat tidak langsung,” kata dia.
Fenomena ini lazim disebut sebagai "pompa paus" (whale pump).
Saat mencari makan, jenis paus seperti paus sperma dan paus biru akan menyelam ke kedalaman laut untuk memburu krill atau cumi-cumi yang kaya nutrisi.
Ketika naik ke permukaan, paus membuang kotoran yang membawa nutrisi dari laut dalam ke lapisan atas.
Nutrisi inilah yang kemudian diserap fitoplankton untuk tumbuh.
Semakin subur fitoplankton, kian banyak pula karbon dioksida yang terserap dari atmosfer.
Menurut International Fund for Animal Welfare (IFAW), fitoplankton juga berperan besar dalam memproduksi oksigen.
Organisme renik ini diyakini menyumbang sekitar separuh dari total oksigen yang dihirup manusia di Bumi.
Selain menjaga kehidupan laut, eksistensi plankton dianggap kian mendesak di tengah ancaman krisis iklim.
Kenaikan suhu dan tingkat keasaman laut dapat merusak keseimbangan ekosistem, termasuk terumbu karang.
Ahli biologi paus sekaligus pendiri Dominica Sperm Whale Project, Shane Gero, mengungkapkan bahwa paus sperma di perairan Dominika diduga punya kontribusi signifikan dalam mendukung pertumbuhan plankton karena sering buang kotoran di dekat permukaan laut.
Menurut Gero, aktivitas tersebut secara tidak langsung menunjang penyerapan karbon dioksida melalui ledakan populasi plankton.
“Dalam beberapa hal, paus sperma memerangi krisis iklim atas nama kami,” ujar Gero.
Walaupun demikian, peneliti masih terus mendalami besaran kontribusi paus terhadap siklus karbon global.
Yang pasti, hubungan antara paus dan plankton menegaskan bahwa kesehatan ekosistem laut sangat berpengaruh terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca dan stabilitas iklim dunia.