Malaysia Jajaki Tenaga Nuklir demi Stabilitas Energi

Malaysia Jajaki Tenaga Nuklir (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Kamis, 11 Juni 2026 | 19:07:39 WIB

KUALA LUMPUR - Malaysia tengah melakukan penilaian komprehensif terhadap potensi program tenaga nuklir melalui lembaga khususnya.

Penilaian tersebut meliputi pengembangan kebijakan, kerangka hukum dan peraturan, kelayakan proyek, partisipasi industri, keterlibatan pemangku kepentingan, serta pengembangan sumber daya manusia.

Wakil Perdana Menteri Fadillah Yusof mengutarakan langkah mengeksplorasi tenaga nuklir untuk pembangkit listrik ini menjadi upaya strategis dalam memperkuat keamanan energi jangka panjang sekaligus mendukung transisi energi bersih nasional, berdasarkan laporan BERNAMA yang dikutip di Kuala Lumpur, Sabtu.

Fadillah Yusof mencatat bahwa inisiatif tersebut selaras dengan Rencana Malaysia Ketigabelas (13MP) yang diajukan oleh Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim pada 31 Juli 2025.

"Kebutuhan untuk mengevaluasi kelayakan tenaga nuklir semakin relevan di tengah lanskap energi global yang berubah, yang dibentuk oleh ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi pasokan serta harga bahan bakar," kata Fadillah Yusof yang juga merupakan Menteri Transisi Energi dan Transformasi Air (PETRA) Malaysia.

Evaluasi program tenaga nuklir dijalankan oleh MyPOWER Corporation Malaysia, sebuah lembaga di bawah Kementerian PETRA yang telah ditunjuk sebagai Organisasi Pelaksana Program Tenaga Nuklir (NEPIO), dengan tugas mengkoordinasikan persiapan berdasarkan pendekatan bertahap yang direkomendasikan oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Fadillah Yusof menunjukkan bahwa ketegangan global, khususnya di Timur Tengah dan gangguan pada jalur energi utama seperti Selat Hormuz, telah membawa dampak pada pasar energi dan stabilitas pasokan.

"Dalam konteks ini, tenaga nuklir menawarkan daya beban dasar yang stabil dan rendah karbon serta dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil," katanya.

Fadillah Yusof menambahkan bahwa beberapa negara ASEAN juga sedang mempertimbangkan kembali tenaga nuklir sebagai bagian dari strategi diversifikasi.

Filipina menargetkan kapasitas nuklir hingga 4.800 megawatt pada tahun 2050, sedangkan Vietnam telah memperkenalkan kembali tenaga nuklir ke dalam rencana energi nasionalnya.

Sementara itu, Indonesia sendiri sedang menjajaki reaktor modular kecil (SMR), termasuk reaktor terapung, dengan target waktu sekitar tahun 2030.

Fadillah Yusof menekankan bahwa prioritas Malaysia adalah memastikan bahwa setiap pengembangan nuklir di masa depan dievaluasi secara cermat melalui analisis teknis yang komprehensif dan diselaraskan dengan prioritas nasional dan kewajiban internasional.

Reporter: David Ilham