Logistik Tambang & Migas Jadi Pasar Potensial Kapal Kargo Multifungsi

Kapal Accommodation Work Barge (AWB) yang dibeli oleh PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Minggu, 14 Juni 2026 | 12:25:56 WIB

SURABAYA - Kebutuhan logistik guna menyokong aktivitas operasional di sektor pertambangan, minyak dan gas (migas), konstruksi, serta beragam proyek strategis di daerah terpencil terus mengalami peningkatan seiring dengan berkembangnya kegiatan industri di tiap-tiap wilayah.

Hambatan akses menuju area hulu serta minimnya infrastruktur pelabuhan memicu kebutuhan akan adanya armada yang sanggup beroperasi secara fleksibel di kawasan yang sukar dicapai oleh kapal konvensional.

Guna menjawab tantangan tersebut, Interport melalui anak perusahaannya, Interport Dirandra Syandana (INDIS), kini mengoperasikan armada baru jenis multipurpose vessel yang diberi nama Interport Sandikala VII.

Kapal yang menggunakan bendera Indonesia ini pun telah melangsungkan pelayaran perdananya (maiden voyage) dari Pelabuhan Tanjung Perak menuju Balikpapan yang memakan estimasi waktu perjalanan berkisar empat hari.

Interport Sandikala VII sendiri merupakan kapal multipurpose perdana yang dipunyai oleh INDIS.

Peluncuran armada ini diharapkan sanggup menjadi jalan keluar logistik yang strategis demi mengatasi tantangan distribusi kargo di wilayah perairan Nusantara yang mempunyai karakteristik geografis serta kelengkapan infrastruktur yang bermacam-macam.

Direktur Interport Dirandra Syandana (INDIS) Yusuf Indrawarman menyampaikan bahwa pelayaran pertama dari armada ini merupakan sebuah langkah krusial bagi perusahaan dalam memperkuat sektor layanan logistik, khususnya untuk industri yang beroperasi di wilayah yang minim akses.

"Pelayaran perdana Interport Sandikala VII menjadi momen yang membanggakan bagi kami. Kapal ini hadir untuk menjawab kebutuhan operasional di wilayah yang sulit dijangkau, khususnya bagi industri pertambangan yang membutuhkan solusi logistik yang lebih fleksibel dan andal," ujar Yusuf dalam keterangan tertulis, Sabtu (13/6).

Berbekal kapasitas sebesar 1.400 DWT (Deadweight Tonnage), kapal ini menawarkan fleksibilitas yang baik untuk mengangkut beraneka jenis barang muatan.

Bila dioptimalkan seluruhnya untuk mengangkut kontainer, Interport Sandikala VII sanggup membawa hingga 107 TEUs.

Sedangkan jika dimanfaatkan untuk jenis muatan breakbulk, daya tampung kapal ini bisa menyentuh angka sekitar 1.200 ton.

Armada baru tersebut juga sudah mengantongi sertifikat kelayakan teknis yang dikeluarkan oleh PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero) atau BKI demi menjamin terpenuhinya standar keselamatan sekaligus kelayakan operasional kapal.

Salah satu nilai tambah utama yang dimiliki oleh Interport Sandikala VII ada pada aspek desainnya yang memang dikonsep khusus agar mampu menjangkau wilayah pedalaman serta area yang memiliki keterbatasan infrastruktur pelabuhan.

Kapal ini mempunyai panjang total (length overall/LOA) mencapai 67,2 meter dengan water draft yang hanya sedalam 3,2 meter saja, sehingga dinilai sangat ideal saat beroperasi di area sungai maupun wilayah perairan dangkal yang punya keterbatasan dalam hal lebar jalur serta kedalaman air.

Karakteristik khusus ini menjadikan kapal tersebut mampu menjangkau berbagai titik kawasan yang selama ini sulit disentuh oleh kapal kargo yang berukuran besar, termasuk area operasional korporasi pertambangan, migas, hingga proyek-proyek pembangunan di pelosok daerah.

Guna menyokong aktivitas bongkar muat secara mandiri di wilayah pelabuhan perintis ataupun remote area, kapal ini ditunjang dengan marine crane Liebherr yang memiliki daya angkat tertinggi hingga 40 ton.

Bukan hanya itu, Interport Sandikala VII juga mengaplikasikan sistem penggerak azimuth thruster yang memberikan kemampuan manuver lebih prima sewaktu berlayar di perairan yang sempit ataupun saat melangsungkan proses bersandar.

Perpaduan antara volume angkut yang besar, ukuran kapal yang terbilang ringkas, serta kapabilitas bongkar muat yang mandiri membuat armada ini dinilai punya daya saing tinggi dalam menopang rantai pasok di berbagai sektor industri.

Di samping sektor pertambangan dan migas, kapal ini pun direncanakan untuk mengakomodasi kebutuhan logistik di sektor konstruksi serta rupa-rupa proyek strategis lain yang bertempat di kawasan hulu maupun daerah dengan fasilitas pelabuhan yang terbatas.

Hadirnya Interport Sandikala VII juga menjadi bagian dari langkah nyata dalam memperkokoh konektivitas maritim nasional sekaligus menyokong distribusi logistik ke daerah-daerah yang selama ini kerap menghadapi kendala aksesibilitas.

Lewat armada teranyar ini, Interport berharap dapat menyajikan layanan logistik yang jauh lebih fleksibel, aman, serta efisien untuk beragam sektor industri sekaligus menguatkan kelancaran rantai pasok di tingkat nasional.

Reporter: David Ilham