Tekan Emisi, PLN EPI Ubah Limbah Sawit Jadi Energi Rendah Karbon

Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Senin, 15 Juni 2026 | 15:29:38 WIB

JAKARTA - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menganggap bahwa pengolahan Compressed Biomethane Gas (CBG) yang memanfaatkan limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) dapat menjadi salah satu opsi paling manjur dalam memangkas emisi metana sekaligus meminimalkan ketergantungan nasional pada gas alam cair (liquefied natural gas/LNG).

Pernyataan ini disampaikan oleh Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir saat menghadiri forum Climate Policy Initiative (CPI) dengan tema Peluang dan Strategi Pembiayaan Kegiatan Pengurangan Emisi metana untuk Sektor Industri di Indonesia di Pullman Hotel Thamrin Jakarta pada Kamis (11/6/2026).

Hokkop memaparkan bahwa Indonesia menyimpan potensi yang amat besar dalam mengonversi limbah kelapa sawit menjadi sumber energi bernilai ekonomi yang rendah karbon.

Pemanfaatan POME menjadi CBG tersebut dipandang bisa menyokong target dekarbonisasi sekaligus memperkokoh ketahanan energi di dalam negeri.

"Kalau industri sawit ini bisa kami manfaatkan untuk kepentingan energi ekonomi, potensinya sangat besar. Sumbernya ada, teknologinya ada, pembiayaannya ada. Tinggal bagaimana kami membangun skema bisnis yang tepat sehingga bisa segera diimplementasikan," kata Hokkop

Indonesia sendiri mempunyai kurang lebih 3.000 pabrik kelapa sawit dengan volume limbah cair yang mencapai kisaran 130 juta meter kubik setiap tahunnya.

Kendati demikian, sampai saat ini mayoritas dari potensi melimpah tersebut masih belum dioptimalkan secara maksimal sebagai pasokan energi domestik.

Di lain sisi, limbah POME justru menjadi salah satu faktor penentu tingginya emisi metana yang dilepaskan ke udara.

Pihak PLN EPI memproyeksikan emisi yang dihasilkan dari limbah sawit tersebut menyentuh angka berkisar 20 juta ton CO2e per tahun.

"Kami melihat sumber emisi dari POME ini mencapai sekitar 20 juta ton karbon ekuivalen. Hampir 90 persen sebenarnya bisa diselesaikan melalui utilisasi menjadi sumber energi baru," ujarnya.

Hokkop menjabarkan bahwa langkah pengembangan CBG tidak cuma berimbas positif pada penurunan emisi, melainkan turut menyukseskan target bauran energi baru terbarukan (EBT) nasional di angka 44–48 persen menjelang tahun 2030 serta perwujudan Net Zero Emissions (NZE) pada tahun 2060.

Demi mengakselerasi pertumbuhan industri biomethane ini, PLN EPI tengah merancang ekosistem CBG yang saling terintegrasi, mencakup proteksi ketersediaan pasokan bahan baku, pembangunan fasilitas produksi, hingga pembentukan pasar.

Melalui skema tersebut, PLN EPI memegang peran vital sebagai agregator dan juga offtaker yang mempertemukan pihak pabrik kelapa sawit, penyuplai teknologi, badan pembiayaan, dunia industri, hingga unit pembangkit listrik.

"Produksi saja CBG-nya, nanti kami beli dan kami distribusikan ke pembangkit. Kami siap menjadi agregator sehingga investasi di sektor ini bisa berjalan lebih cepat," kata Hokkop.

Salah satu wujud nyata yang sedang digodok oleh PLN EPI yaitu agenda cofiring CBG yang bertempat di PLTGU Belawan.

Bagi satu unit turbin gas dengan kapasitas sebesar 130 megawatt (MW) dan mengusung tingkat cofiring 2,5 persen, pasokan Bio-CBG yang diperlukan adalah sekitar 450 MMBTUD, di mana jumlah ini berasal dari utilisasi kurang lebih 330.000 meter kubik POME per tahun atau setara dengan satu unit fasilitas CBG.

Sementara itu, guna mencukupi keperluan operasional empat turbin di PLTGU Belawan, dibutuhkan setidaknya empat unit fasilitas CBG yang menguras total investasi di kisaran US$ 20 juta.

Langkah implementasi ini diprediksi mampu mencegah pelepasan emisi hingga menyentuh angka sekitar 500 ribu ton CO2e.

Hokkop menerangkan bahwa proyek percontohan yang dijalankan di PLTGU Belawan bakal dijadikan acuan awal dalam menyatukan biomethane ke dalam jaringan ketenagalistrikan nasional.

Di samping meminimalisasi emisi, metode cofiring ini memberikan peluang pemanfaatan sarana pembangkit gas yang sudah eksis, sehingga akselerasi peningkatan bauran energi terbarukan dapat dicapai tanpa harus mendirikan pembangkit baru dalam kapasitas raksasa.

PLN EPI pun mengalkulasi bahwa prospek ekspansi CBG di tingkat nasional tergolong sangat masif.

Melihat dari total kapasitas pembangkit listrik berbasis gas yang ada sebesar 18,4 gigawatt (GW), pasokan CBG bagi keperluan skema cofiring 2,5 persen diestimasikan menyentuh angka 60.000 MMBTUD dengan melibatkan setidaknya 200 pabrik kelapa sawit.

Dampak penurunan emisi yang dihasilkan pun berpotensi menembus angka sekitar 14 juta ton CO2e.

Bukan hanya mendatangkan profit bagi kelestarian lingkungan, pengolahan CBG ini juga berpeluang menghadirkan nilai ekonomis yang sangat tinggi.

Berdasar pada perhitungan simulasi oleh PLN EPI, satu unit proyek CBG mampu menciptakan nilai ekonomi hingga menyentuh Rp1,7 triliun serta mereduksi emisi berkisar 700 ribu ton CO2e.

PLN EPI membidik target ekspansi sektor bisnis CBG ini secara bertahap hingga tahun 2030 nanti.

Merujuk pada roadmap internal korporasi, volume produksi CBG dipatok merangkak naik dari yang semula 1.000 MMBtu di tahun 2026 menjadi sebesar 2.957 BBTU pada tahun 2030.

Dalam kurun waktu yang sama, agenda ini dibarengi dengan pendirian tiga unit fasilitas CBG guna menyuplai kebutuhan operasional pembangkit sekaligus menyokong program dedieselisasi di tingkat nasional.

"Bioenergi menjadi jembatan antara transisi energi, ketahanan energi, dan ekonomi kerakyatan. Limbah yang selama ini menjadi sumber emisi dapat diubah menjadi sumber energi yang bernilai tambah sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional," kata Hokkop.

Turut ambil bagian sebagai narasumber dalam forum implementasi agenda pemanfaatan metana tersebut ialah Direktur Lingkungan dan Energi Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) August MS Sinaga, Head of Legal PT KIS Biofuel Indonesia Yasmine Surachman, serta perwakilan dari Indonesia Bio Methane Society (IBMS) Satria Wira Tenaya.

Pertemuan tersebut mengulas secara mendalam mengenai taktik pengembangan biomethane demi mendukung reduksi emisi gas rumah kaca sekaligus mempercepat jalannya transisi energi di Indonesia.

Upaya pengembangan CBG ini memperlihatkan bahwasanya jalan keluar bagi transisi energi tidak selamanya bertumpu pada inovasi teknologi baru yang berbiaya selangit.

Melalui optimalisasi penanganan limbah kelapa sawit, Indonesia menggenggam peluang besar dalam menekan laju emisi metana, memangkas ketergantungan terhadap LNG, serta membentuk ketahanan energi yang jauh lebih hijau berlandaskan pada sumber daya lokal.

Reporter: David Ilham