Sinergi Migas dan EBT Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Pekerja PHE di fasilitas hulu migas Pertamina (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Kamis, 18 Juni 2026 | 15:56:32 WIB

JAKARTA – Ketegangan geopolitik yang meningkat di berbagai wilayah dunia dianggap berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global.

Situasi ini mendesak Indonesia untuk memperkokoh ketahanan energi domestik agar tidak mudah goyah oleh fluktuasi harga ataupun hambatan pasokan yang bisa memicu dampak buruk bagi perekonomian.

Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), Yusri Usman, mengutarakan bahwa tahun 2026 menjadi waktu krusial bagi Indonesia untuk memperkokoh landasan ketahanan energi lewat taktik yang menyeimbangkan kemajuan sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) sekaligus akselerasi energi baru dan terbarukan (EBT).

Berdasarkan penuturan Yusri, migas dan EBT semestinya tidak dianggap sebagai dua bidang yang saling menyingkirkan.

Malah keduanya harus melangkah bersama sebagai alat vital untuk memastikan keamanan suplai energi domestik di tengah kondisi global yang kian rumit.

"Ketahanan energi nasional tidak dapat hanya mengandalkan satu sumber energi. Indonesia membutuhkan kombinasi yang seimbang antara peningkatan produksi migas dan percepatan pengembangan energi terbarukan agar mampu menghadapi berbagai risiko global yang semakin kompleks," kata Yusri dalam keterangannya, Rabu (17/6/2026).

Yusri memaparkan, sektor hulu migas tetap memegang peranan vital dalam menyuplai keperluan energi domestik.

Oleh sebab itu, penaikan investasi, akselerasi aktivitas eksplorasi, pembukaan ladang baru, serta optimalisasi tingkat produksi wajib terus dijadikan prioritas oleh pemerintah maupun para pelaku usaha.

Yusri berpendapat bahwa beberapa penemuan cadangan migas anyar, seperti yang berada di area Andaman, membuktikan Indonesia tetap mempunyai potensi sumber daya energi masif guna menopang ketahanan energi dalam jangka panjang.

Kendati demikian, menurut Yusri, potensi besar itu mesti disertai dengan proses eksekusi yang lebih tangkas agar bisa secepatnya menyumbang bagi produksi energi domestik.

Pada aspek berbeda, akselerasi energi baru dan terbarukan pun wajib terus digenjot sebagai bagian dari taktik jangka panjang dalam menyikapi transisi energi di tingkat global.

Yusri menambahkan bahwa gas bumi dapat mengemban peran krusial sebagai energi transisi yang menghubungkan keperluan energi saat ini dengan sasaran penaikan bauran energi terbarukan di masa depan.

Melalui formula tersebut, Indonesia dianggap bakal sanggup memelihara keseimbangan antara keperluan ekspansi ekonomi, ketangguhan energi, serta tanggung jawab pada pembangunan rendah karbon.

Menurut Yusri, kolaborasi antara pemanfaatan migas dan energi terbarukan menjadi solusi utama supaya Indonesia sanggup melewati aneka tantangan global sekaligus memperkokoh daya saing ekonomi domestik.

"Jika sinergi ini dapat dijalankan secara konsisten, Indonesia tidak hanya mampu menjaga ketahanan energinya, tetapi juga memperkuat daya saing ekonomi nasional di tengah dinamika geopolitik global yang terus berkembang," ujarnya.

Reporter: David Ilham