PLTS Oelpuah 5 MWp Perkuat Transisi Energi Bersih di NTT
KUPANG - Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Oelpuah di Desa Oelpuah, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi salah satu upaya memperkuat bauran energi baru terbarukan (EBT) di wilayah NTT.
Pembangkit yang dikelola oleh Independent Power Producer (IPP) tersebut memiliki kapasitas terpasang sebesar 5 Megawatt peak (MWp).
General Manager PT PLN Unit Induk Wilayah (UIW) NTT, F. Eko Sulistyono, saat meninjau lokasi PLTS Oelpuah, Kamis (18/6), menjelaskan pembangkit tersebut merupakan milik pihak swasta, sementara PLN berperan sebagai pembeli energi listrik yang dihasilkan.
“PLN tidak memiliki pembangkit ini. Ini milik swasta atau Independent Power Producer (IPP). PLN membeli energi listrik yang dibangkitkan dari PLTS ini untuk disalurkan kepada pelanggan,” kata Eko.
Menurutnya, PLTS Oelpuah memiliki area panel surya yang sangat luas dengan total lahan sekitar 5 hektare.
Luasan tersebut dimanfaatkan untuk menangkap radiasi matahari yang kemudian dikonversi menjadi energi listrik.
“Total kapasitasnya 5 MW. Luas ladang panel suryanya sekitar 5 hektare. Dengan perkembangan teknologi saat ini, kebutuhan lahan untuk menghasilkan 1 MW semakin efisien dibandingkan beberapa tahun lalu,” ujarnya.
Eko menjelaskan, produksi listrik dari PLTS sangat bergantung pada intensitas radiasi matahari.
Daya listrik yang dihasilkan tidak selalu mencapai kapasitas maksimum 5 MW karena dipengaruhi kondisi cuaca dan tingkat penyinaran matahari.
“Puncak produksi biasanya terjadi mulai sekitar pukul 11.00 hingga 14.00 Wita saat radiasi matahari berada pada tingkat tertinggi. Setelah itu produksinya akan menurun mengikuti berkurangnya intensitas sinar matahari,” jelasnya.
Ia menambahkan, mekanisme kerja PLTS berbeda dengan pembangkit berbahan bakar fosil.
Jika pembangkit konvensional menggunakan proses mekanis melalui turbin dan generator, PLTS memanfaatkan teknologi elektronik untuk mengubah energi matahari menjadi listrik.
“Energi yang ditangkap panel surya berbentuk arus searah atau DC. Selanjutnya energi tersebut dikonversi oleh inverter menjadi arus bolak-balik atau AC yang sesuai dengan sistem jaringan listrik PLN,” terangnya.
Setelah melalui inverter, energi listrik dialirkan ke transformator (trafo) untuk meningkatkan tegangan menjadi tegangan menengah 20 kilovolt sebelum disalurkan ke jaringan PLN.
PLTS Oelpuah menggunakan sistem on-grid, sehingga listrik yang dihasilkan langsung masuk ke jaringan tanpa melalui penyimpanan baterai.
“Karena sistemnya on-grid, saat radiasi matahari tidak mencukupi, pembangkit ini tidak menyuplai energi ke jaringan. Sistemnya relatif sederhana karena proses konversinya dilakukan secara elektronik tanpa menggunakan bahan bakar,” kata Eko.
Menurut Eko, pengembangan PLTS menjadi salah satu solusi penyediaan energi ramah lingkungan di NTT yang memiliki potensi sinar matahari melimpah sepanjang tahun.
Seiring kemajuan teknologi panel surya, efisiensi pembangkitan listrik tenaga surya diperkirakan akan terus meningkat di masa mendatang.