Harga Minyak Dunia Turun 23 Persen, Cek Prospek Emiten Jasa Migas

ILUSTRASI. Emiten-emiten di sektor migas (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Senin, 22 Juni 2026 | 14:02:59 WIB

JAKARTA - Tren penurunan harga minyak dunia yang terjadi akhir-akhir ini di atas kertas berpotensi memengaruhi kelangsungan usaha emiten-emiten jasa minyak dan gas (migas).

Namun, hal itu bukan berarti kinerja emiten di sektor tersebut bakal melemah begitu saja.

Merujuk data Trading Economics, harga minyak dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) telah terkoreksi 21,30% dalam sebulan terakhir ke level US$ 77,33 per barel pada Jumat (19/6/2026).

Pada waktu yang sama, harga minyak dunia Brent menyusut 23,26% ke level US$ 80,59 per barel.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, penurunan harga minyak mentah menjadi bukti perubahan angin setelah konflik geopolitik di Timur Tengah yang berangsur-angsur mereda.

Meskipun demikian, dampak penurunan harga komoditas ini tidak akan langsung terasa bagi emiten jasa migas, mengingat kontrak drilling atau aktivitas untuk memperoleh minyak bumi biasanya berdurasi 1–3 tahun.

"Jadi, tekanan pada margin baru terasa saat pembaruan kontrak," ujar dia, Jumat (19/6/2026).

Wafi juga menilai aktivitas produksi migas pada dasarnya masih tergolong ekonomis ketika harga minyak mentah berada di kisaran US$ 77–US$ 80 per barel.

Risiko bagi kinerja emiten jasa migas baru muncul ketika harga minyak berada di bawah level US$ 70 per barel, belanja modal Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dipotong, dan aktivitas pengeboran mengalami perlambatan.

Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Sekolah Saham Indonesia, Raden Bagus Bima, mengatakan penurunan harga minyak yang terjadi akhir-akhir ini belum menjadi sinyal berakhirnya siklus positif bagi sektor migas maupun turunannya.

Pasalnya, aktivitas hulu migas umumnya ditentukan oleh Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) jangka menengah dan panjang masing-masing emiten, bukan semata pergerakan harga minyak dalam jangka pendek.

Selama harga minyak dunia masih berada di atas level aman bagi produsen serta pemerintah terus mendorong peningkatan produksi dan lifting minyak nasional, maka permintaan terhadap jasa pengeboran, workover, well services, dan offshore support masih berpotensi tumbuh.

Raden juga meyakini prospek kinerja emiten jasa migas seperti PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS), dan PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) relatif bakal tetap positif, terutama jika mereka telah berhasil mengamankan kontrak jangka panjang dan memiliki order book yang kuat.

"Tantangan utamanya justru berasal dari potensi penundaan proyek eksplorasi berisiko tinggi apabila harga minyak terus melemah," kata dia, Sabtu (20/1).

Oleh sebab itu, strategi yang perlu diperkuat emiten jasa migas adalah meningkatkan utilisasi aset, efisiensi operasional, diversifikasi layanan bernilai tambah selain layanan operasional utama, serta penguatan kontrak jangka panjang untuk menjaga stabilitas pendapatan dan margin laba.

Lebih lanjut, investasi penambahan peralatan dan fasilitas pengeboran tetap relevan bagi emiten jasa migas.

Namun, hal tersebut harus dilakukan secara selektif dan disesuaikan dengan visibilitas permintaan.

Menurut Raden, emiten jasa migas yang berpotensi dapat meraih kinerja positif di tengah tren harga minyak dunia yang melemah adalah perusahaan yang memiliki basis pelanggan kuat, kontrak jangka panjang, tingkat utilisasi aset tinggi, struktur biaya efisien, dan eksposur yang lebih besar pada aktivitas produksi dan pemeliharaan dibandingkan eksplorasi murni.

"Sebab, kebutuhan untuk menjaga produksi lapangan migas umumnya tetap berjalan, meski harga minyak mengalami koreksi," imbuh dia.

Terlepas dari itu, untuk sementara Raden menyarankan investor untuk wait and see saham-saham jasa migas, mengingat konsentrasi pasar sedang agak menurun dari sisi frekuensi dan nilai transaksi.

Di lain pihak, Wafi menyebut saham ELSA tetap menjadi salah satu unggulan dari sektor jasa migas berkat dukungan kontrak dari Pertamina dan valuasi yang wajar.

Sebaliknya, RUIS dan APEX cenderung lebih rentan terhadap risiko perlambatan belanja modal KKKS dan daya tawar mereka lebih terbatas.

"Subsektor jasa migas masih menarik untuk horizon investasi 12 bulan jika harga minyak stabil di atas US$ 70 per barel," tandas dia.

Reporter: David Ilham