Dorong Transisi Energi, Pertamina Mantapkan Kesiapan Infrastruktur

pemanfaatan energi terbarukan mulai berkembang (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Rabu, 01 Juli 2026 | 16:18:43 WIB

JAKARTA - PT Pertamina (Persero) tengah mematangkan kesiapan prasarana penyaluran energi serta pengembangan bahan bakar minim emisi sebagai bagian dari akselerasi transisi energi di tingkat nasional.

Langkah tersebut diambil demi mendukung sasaran kemandirian energi serta mempercepat pencapaian Net Zero Emission (NZE) melalui pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) dan penyaluran biosolar B50.

Dedikasi tersebut merupakan salah satu fokus dalam agenda kunjungan kerja Komisaris Utama Pertamina Mochamad Iriawan di wilayah Regional Jawa Timur, Bali, serta Nusa Tenggara (Jatim Balinus) pada 29 Juni sampai 3 Juli 2026.

Agenda tersebut dimulai dengan management walkthrough (MWT) ke aviation fuel terminal (AFT) Juanda dan integrated terminal (IT) Surabaya demi memastikan kesiapan operasional sarana energi strategis.

Saat meninjau AFT Juanda, Iriawan menekankan krusialnya kesiapan Pertamina dalam menunjang penerapan SAF sebagai avtur ramah lingkungan untuk industri penerbangan.

"Langkah nyata dari Juanda ini diharapkan mampu membuktikan kepemimpinan Pertamina dalam mewujudkan target Net Zero Emission. Tugas menjaga pasokan avtur juga menuntut toleransi nol terhadap kekurangan stok dan jeda pelayanan," ujar Iriawan dari Sumbernya, Selasa (30/6/2026).

Menurut Iriawan, kesiapan infrastruktur dan tenaga kerja untuk penerapan SAF selaras dengan instruksi pemerintah dalam memperkuat kemandirian energi nasional, sekaligus memangkas ketergantungan terhadap energi fosil impor.

Iriawan menyoroti pengembangan SAF bukan sekadar menjawab kebutuhan energi rendah karbon, melainkan juga membuka kesempatan optimalisasi sumber daya domestik yang berkelanjutan serta bernilai tambah bagi perekonomian nasional.

Seusai meninjau AFT Juanda, Iriawan meneruskan kunjungan ke integrated terminal Surabaya yang merupakan salah satu titik distribusi energi utama bagi kawasan Indonesia timur.

Dalam momen tersebut, Manager IT Surabaya Indriati Purba Lestari menyampaikan bahwa seluruh sarana terminal telah siap menunjang penyediaan serta distribusi biosolar B50 menjelang dimulainya program tersebut.

Selanjutnya, Iriawan pun menginstruksikan IT Surabaya agar menjadi pelopor pengembangan energi hijau di lingkungan Pertamina, sekaligus menjadi contoh penerapan program energi berkelanjutan bagi terminal lain.

Di samping pengembangan energi baru serta terbarukan, Iriawan turut mendesak optimalisasi digitalisasi operasional lewat penggunaan Pertamina Integrated Command Center (PICC) dan terminal automation system.

Iriawan menilai, pengaplikasian sistem itu mampu meningkatkan efisiensi penyaluran energi, memperkuat akuntabilitas operasional, serta mendukung target zero loss perusahaan.

Di tengah situasi geopolitik global yang berisiko memengaruhi rantai pasok energi, Iriawan juga menegaskan krusialnya menjaga keandalan aset strategis, mulai dari tangki timbun, dermaga, sampai jaringan pipa supaya tetap berfungsi optimal.

Peningkatan cadangan operasional juga dianggap sebagai faktor vital guna menjaga ketahanan pasokan energi nasional ketika terjadi gejolak pasar global.

Iriawan menambahkan, aspek keselamatan kerja harus tetap dijadikan prioritas di tengah mendesaknya transformasi energi.

"Budaya Corporate Life Saving Rules perlu diterapkan secara konsisten guna melindungi pekerja sekaligus menjaga keandalan aset strategis negara dalam mendukung transisi energi nasional," kata Iriawan dari Sumbernya.

Reporter: David Ilham