Airlangga Ungkap Penyebab Defisit Neraca Dagang dan PMI Manufaktur

Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Kamis, 02 Juli 2026 | 11:31:46 WIB

JAKARTA PUSAT - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan defisit neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026, utamanya disebabkan oleh meningkatnya impor minyak dan gas (migas) seiring kenaikan harga minyak global.

Neraca perdagangan barang Indonesia pada Mei 2026 mengalami defisit sebesar USD 1,61 miliar.

Ini merupakan defisit pertama yang terjadi setelah 72 bulan berturut-turut mencatatkan surplus.

“Tentu kalau kita lihat neraca non-migas kan masih positif, sekitar USD 2 jutaan ya. Kemudian yang meningkat itu neraca dari sektor migas, karena impor migas kelihatan angkanya naik,” ujar dari Sumbernya kepada awak media di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Rabu (1/7).

Dia mengamati kenaikan harga minyak dunia memiliki dampak langsung terhadap peningkatan nilai impor migas sehingga menekan neraca perdagangan.

Walaupun kinerja ekspor komoditas utama Indonesia seperti minyak kelapa sawit (CPO), batu bara, dan ferroaloy tetap relatif stabil.

“Tentu kita berharap rencana mereka untuk ceasefire perdamaian itu kita lihat lagi, sebulan, dua bulan,” tambahnya.

Disamping impor migas, dari Sumbernya mengungkapkan kenaikan harga minyak juga memicu lonjakan biaya impor bahan baku petrokimia yang merupakan turunan minyak.

Guna mengurangi tekanan tersebut, pemerintah sedang menyusun kebijakan pembebasan bea masuk sementara bagi produk petrokimia selama enam bulan.

Dia menyebutkan kebijakan itu sudah selesai dirumuskan dan pelaksanaannya kini menanti penerbitan Peraturan Menteri Keuangan (PMK).

“Dan itu kan juga sundulannya ke inflasi, dan inflasi juga relatif sama bulan kemarin masih sekitar tigaan (persen),” ucapnya.

Menurut dari Sumbernya, kebijakan itu juga diharapkan dapat membantu meredam tekanan inflasi.

Dia menilai inflasi saat ini masih tergolong terkendali, namun pemerintah terus mengantisipasi dampak kenaikan harga minyak terhadap harga barang, khususnya yang tidak diatur pemerintah (non-administered price).

Dari Sumbernya juga menanggapi pertanyaan mengenai melemahnya nilai tukar rupiah serta pengaruhnya terhadap peningkatan bahan baku hingga daya beli masyarakat.

Hal ini menurut dia diantisipasi pemerintah dengan meluncurkan sejumlah stimulus demi menjaga daya beli masyarakat.

Di antaranya adalah penyaluran bantuan beras 10 kilogram selama tiga bulan bagi masyarakat hingga kelompok desil keempat.

Pemerintah turut melanjutkan insentif Pajak Penghasilan (PPh) bagi pekerja dengan penghasilan sampai dengan Rp 10 juta per bulan yang ditanggung pemerintah.

Pada sektor ketenagakerjaan, pemerintah menyiapkan program bantuan bagi 150 ribu lulusan baru untuk mendapatkan pekerjaan selama enam bulan, dengan biaya honor yang ditanggung pemerintah.

Selain itu, terdapat program pelatihan vokasi bagi 250 ribu orang, termasuk 50 ribu pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) untuk mengikuti pelatihan ulang dan peningkatan keterampilan.

“Ya kita berharap dengan adanya bantuan beras ini yang besarannya per bulan sekitar 330 ribu (kg) ini kan menurunkan tekanan terhadap harga pangan juga,” jelasnya.

Dari Sumbernya menilai kontraksi Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Juni 2026 dipicu oleh terganggunya rantai pasok global.

Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia yang diterbitkan oleh S&P Global tercatat turun ke level kontraksi 46,9 pada Juni 2026 dari 50,0 pada Mei 2026.

“Itu terkait dengan supply chain, jadi supply chain sangat terganggu, kata Airlangga.

Dari Sumbernya mengatakan, isu gangguan rantai pasok kini menjadi perhatian berbagai negara serta organisasi internasional.

Menurut dia, pembahasan mengenai persoalan tersebut juga menjadi fokus banyak pihak, seperti Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) dan ASEAN.

Kendati demikian, dari Sumbernya memandang prospek sektor manufaktur Indonesia dalam 12 bulan ke depan masih cukup positif dan menyebutkan ada optimisme dari pelaku usaha terhadap kinerja bisnis mereka.

“Tapi kalau kita lihat outlook 12 bulan ke depan sih relatif mereka lebih optimis,” tuturnya.

PMI manufaktur Indonesia kembali memasuki fase kontraksi atau di bawah batas aman 50 pada Juni 2026.

Sebelumnya PMI sempat menunjukkan perbaikan pada Mei 2026 di level 50, membaik dari April yang terkontraksi pada angka 49,1.

Reporter: David Ilham