Selasa, 20 Januari 2026

Sering Tidak Disadari, Inilah Sinyal Tubuh Saat Terlalu Banyak Mengonsumsi Gula Tambahan

Sering Tidak Disadari, Inilah Sinyal Tubuh Saat Terlalu Banyak Mengonsumsi Gula Tambahan
Sering Tidak Disadari, Inilah Sinyal Tubuh Saat Terlalu Banyak Mengonsumsi Gula Tambahan

JAKARTA - Kebiasaan mengonsumsi makanan manis kerap dianggap hal wajar dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, tanpa disadari, asupan gula tambahan bisa menumpuk dan memicu berbagai gangguan kesehatan.

Gula tambahan umumnya ditemukan dalam makanan olahan yang praktis dan mudah dijangkau. Jenis gula ini merupakan segala sesuatu yang ditambahkan ke makanan untuk memberikan rasa manis.

Banyak orang sulit membedakan antara gula alami dan gula tambahan. Akibatnya, konsumsi gula sering kali melebihi batas yang dibutuhkan tubuh.

Baca Juga

Bisa Menggunakan Ponsel, 3 Cara Cek NPWP Online dengan NIK 2026

Asupan gula tambahan yang berlebihan dapat memengaruhi energi, suasana hati, berat badan, hingga risiko penyakit. Menurut pelatih kesehatan di New York, Jessica Cording, RD, secara keseluruhan hal tersebut bisa berdampak pada kesejahteraan fisik dan mental.

Dampak gula tambahan tidak selalu langsung terasa. Sebagian besar justru muncul perlahan dan sering diabaikan.

Tubuh sebenarnya memiliki cara tersendiri untuk memberi sinyal. Sayangnya, tanda-tanda ini kerap disalahartikan sebagai kelelahan biasa atau masalah ringan.

Berikut ini adalah beberapa tanda tubuh kelebihan gula yang sering tidak disadari. Memahami tanda-tanda ini penting agar pola makan bisa segera diperbaiki.

Mudah Lapar Meski Sudah Makan

Saat mengonsumsi banyak kalori ekstra dari gula tambahan, rasa lapar biasanya lebih cepat muncul. Kondisi ini sering menjadi tanda awal tubuh kelebihan gula.

Gula memang mampu memuaskan lidah dalam waktu singkat. Namun, efek kenyangnya tidak bertahan lama.

"Gula memang memuaskan indra perasa, tapi sebenarnya tidak memuaskan atau mengenyangkan perut kita," kata ahli diet di Lemond Nutrition di Plano, Texas, Keri Stoner-Davis, RDN.

Makanan manis umumnya rendah protein, serat, dan lemak sehat. Padahal, ketiga zat tersebut berperan penting dalam menjaga rasa kenyang.

Tanpa asupan nutrisi yang seimbang, tubuh akan membakar gula dengan cepat. Hal ini menyebabkan rasa lapar datang kembali dalam waktu singkat.

Kondisi tersebut sering mendorong seseorang untuk ngemil tanpa sadar. Akibatnya, asupan gula pun semakin meningkat.

Rasa lapar yang terus-menerus dapat mengganggu pola makan sehat. Lama-kelamaan, kebiasaan ini berisiko memicu kenaikan berat badan.

Perubahan Suasana Hati dan Mudah Tersinggung

Pernah merasa mudah marah atau gelisah tanpa sebab yang jelas. Kondisi tersebut bisa berkaitan dengan konsumsi gula berlebih.

Merasa murung, sensitif, atau stres sering kali dianggap masalah emosional biasa. Padahal, pola makan juga berperan besar terhadap suasana hati.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi gula tambahan yang berlebihan dapat memicu peradangan. Kondisi ini berpotensi memperburuk suasana hati dan menimbulkan gejala depresi.

Menurut Cording, makanan atau camilan tinggi gula tanpa protein dan lemak akan meningkatkan kadar gula darah dengan cepat. Namun, lonjakan ini tidak bertahan lama.

Setelah gula darah naik drastis, tubuh akan segera menurunkannya kembali. Proses ini membuat energi menurun secara tiba-tiba.

Penurunan energi tersebut dapat memicu rasa lesu dan mudah marah. Akibatnya, emosi menjadi kurang stabil sepanjang hari.

Kondisi ini sering berulang jika konsumsi gula terus berlanjut. Tanpa disadari, gula menjadi pemicu perubahan suasana hati.

Tubuh Mudah Lelah dan Kekurangan Energi

Rasa lelah yang datang meski tidak banyak beraktivitas bisa menjadi tanda kelebihan gula. Banyak orang tidak menyadari hubungan antara gula dan kelelahan.

Gula memang mudah diserap dan dicerna oleh tubuh. Namun, efek energinya hanya bersifat sementara.

"Gula adalah sumber energi yang sangat cepat. Jadi, terlepas dari berapa banyak yang Anda makan, dalam 30 menit Anda akan lapar lagi, kekurangan energi, atau membutuhkan energi lagi," kata Stoner-Davis.

Lonjakan energi akibat gula biasanya diikuti penurunan yang tajam. Inilah yang membuat tubuh terasa cepat lelah.

Kondisi ini sering disebut sebagai sugar crash. Tubuh seolah kehabisan tenaga setelah efek gula menghilang.

Jika pola ini terus berulang, produktivitas harian bisa terganggu. Tubuh juga menjadi lebih bergantung pada asupan manis.

Ketergantungan ini membuat seseorang terus mencari sumber energi instan. Padahal, solusi sebenarnya adalah pola makan seimbang.

Keinginan Berlebih Mengonsumsi Makanan Manis

Keinginan terus-menerus untuk makan manis bukan sekadar soal selera. Kondisi ini bisa menandakan efek gula pada otak.

Seseorang yang selalu ingin makanan manis bisa jadi mengalami ketergantungan. Hal ini berkaitan dengan efek menyenangkan yang ditimbulkan gula.

Gula menargetkan pusat kesenangan di otak. Konsumsi gula memicu pelepasan hormon yang menimbulkan rasa senang.

Jalur di otak ini berperan penting dalam pengambilan keputusan terkait makanan. Jalur tersebut juga memengaruhi keinginan terhadap gula.

Mengonsumsi gula meningkatkan kadar dopamin dalam otak. Peningkatan dopamin ini memperkuat keinginan untuk kembali mengonsumsi gula.

Akibatnya, muncul siklus sulit dihentikan. Semakin sering mengonsumsi gula, semakin kuat pula keinginannya.

Tanpa kontrol, kebiasaan ini dapat berdampak buruk pada kesehatan. Risiko obesitas dan gangguan metabolisme pun meningkat.

Gangguan Tidur yang Tidak Disangka-Sangka

Masalah tidur juga bisa menjadi tanda tubuh kelebihan gula. Banyak orang tidak mengaitkan kualitas tidur dengan pola makan.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi gula tambahan berlebih berkaitan dengan tidur yang buruk. Baik durasi maupun kualitas tidur bisa terganggu.

Siklus tidur diatur oleh berbagai faktor. Cahaya, suhu ruangan, dan kontrol glikemik turut memengaruhi kualitas tidur.

Ketidakseimbangan gula darah dapat mengganggu ritme tidur alami. Akibatnya, tidur menjadi tidak nyenyak.

"Bagi seseorang yang secara kronis mengonsumsi gula tambahan dalam jumlah berlebihan, hal itu benar-benar dapat mengganggu siklus tidur dan kualitas tidur mereka," kata Cording.

Gangguan tidur yang berlangsung lama berdampak pada kesehatan secara keseluruhan. Tubuh menjadi lebih mudah lelah dan sulit fokus.

Kurang tidur juga dapat memicu keinginan mengonsumsi makanan manis. Siklus ini semakin memperparah kondisi tubuh.

Menyadari tanda-tanda ini menjadi langkah awal untuk perubahan. Mengurangi gula tambahan dapat membantu memperbaiki kualitas tidur.

Tubuh sebenarnya mampu memberi sinyal ketika terjadi ketidakseimbangan. Penting untuk lebih peka terhadap pesan tersebut.

Dengan mengontrol asupan gula, keseimbangan energi dan suasana hati bisa terjaga. Langkah kecil ini berkontribusi besar pada kesehatan jangka panjang.

Nathasya Zallianty

Nathasya Zallianty

variaenergi.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Inilah Modal Usaha Ayam Geprek, Panduan Lengkap untuk Pemula 2026

Inilah Modal Usaha Ayam Geprek, Panduan Lengkap untuk Pemula 2026

Jadwal Kapal Pelni Sorong ke Jakarta Januari 2026 Lengkap dengan Rute, Waktu Tempuh, dan Harga Tiket Terbaru

Jadwal Kapal Pelni Sorong ke Jakarta Januari 2026 Lengkap dengan Rute, Waktu Tempuh, dan Harga Tiket Terbaru

Jadwal Lengkap Kapal Ferry Singkil Gunung Sitoli Januari 2026 Beserta Tarif Penumpang dan Kendaraan Terbaru

Jadwal Lengkap Kapal Ferry Singkil Gunung Sitoli Januari 2026 Beserta Tarif Penumpang dan Kendaraan Terbaru

Update Jadwal Lengkap KA Prameks Januari 2026 Rute Yogyakarta–Kutoarjo dan Sebaliknya

Update Jadwal Lengkap KA Prameks Januari 2026 Rute Yogyakarta–Kutoarjo dan Sebaliknya

Jadwal Lengkap Kereta Api Bandara YIA Selasa 20 Januari 2026 Jadi Andalan Akses Praktis ke Bandara

Jadwal Lengkap Kereta Api Bandara YIA Selasa 20 Januari 2026 Jadi Andalan Akses Praktis ke Bandara