Harga Minyak Dunia Menguat Akibat Ketegangan Timur Tengah dan Penurunan Stok AS
- Rabu, 04 Februari 2026
JAKARTA - Harga minyak dunia kembali menguat pada Rabu, 4 Februari 2026, setelah melonjak pada sesi sebelumnya. Lonjakan ini dipicu kekhawatiran pasar terhadap eskalasi ketegangan di Timur Tengah antara Amerika Serikat dan Iran.
Minyak mentah Brent naik 65 sen atau 1,0% menjadi US$67,98 per barel pada pukul 01.11 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 69 sen atau 1,1% menjadi US$63,90 per barel.
Pada perdagangan Selasa, 3 Februari 2026, kedua kontrak acuan tersebut telah melonjak hampir 2%. Kenaikan tersebut menandai reli berkelanjutan di tengah ketidakpastian geopolitik.
Baca JugaStrategi Terbaru Pemerintah Perkuat Pendampingan UMK Menuju Wajib Halal 2026
Insiden Militer dan Ketegangan di Selat Hormuz
Penguatan harga minyak dipicu laporan bahwa militer AS menembak jatuh sebuah drone Iran yang mendekati kapal induk Abraham Lincoln di Laut Arab. Insiden ini meningkatkan kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan minyak global.
Selain itu, ketegangan juga terjadi di Selat Hormuz, jalur vital antara Teluk Persia dan Teluk Oman. Sejumlah kapal cepat bersenjata Iran dilaporkan mendekati kapal tanker berbendera AS di utara Oman.
Di sisi diplomatik, Iran meminta agar perundingan dengan AS yang dijadwalkan pekan ini digelar di Oman, bukan di Turki. Mereka juga membatasi agenda pembahasan hanya pada isu nuklir, menimbulkan keraguan kelancaran pertemuan.
Analis komoditas dari Rakuten Securities, Satoru Yoshida, menyebut bahwa ketegangan yang meningkat di Timur Tengah mendukung pasar minyak. Hal ini menunjukkan sensitifitas harga minyak terhadap risiko geopolitik.
Anggota OPEC seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak mengekspor sebagian besar minyak mereka melalui Selat Hormuz. Iran sendiri menjadi produsen minyak terbesar ketiga di OPEC pada 2025 menurut data Badan Informasi Energi AS.
Dukungan Harga dari Penurunan Persediaan Minyak AS
Harga minyak juga mendapat sentimen positif dari data industri yang menunjukkan penurunan tajam stok minyak mentah AS. Persediaan minyak di negara produsen dan konsumen terbesar dunia turun lebih dari 11 juta barel pekan lalu.
Data ini berasal dari laporan American Petroleum Institute (API) dan memicu kenaikan harga minyak. Data resmi dari EIA dijadwalkan rilis pada Rabu pukul 10.30 waktu setempat (15.30 GMT).
Sebelumnya, analis yang disurvei Reuters memperkirakan terjadi kenaikan persediaan minyak mentah. Namun data industri menunjukkan arah yang berlawanan, mendukung reli harga minyak.
Selain penurunan stok, perdagangan global juga memengaruhi harga minyak. Kesepakatan dagang antara AS dan India menimbulkan harapan permintaan energi global akan meningkat.
Serangan Rusia yang berlanjut ke Ukraina turut memperkuat kekhawatiran bahwa pasokan minyak Rusia akan tetap terbatas. Sanksi terhadap Rusia membuat pasar memproyeksikan tekanan pasokan yang berkelanjutan.
“Kesepakatan dagang India-AS untuk menghentikan pembelian minyak Rusia, ditambah konflik Rusia-Ukraina yang belum mereda, menopang harga minyak,” ujar Yoshida. Pernyataan ini menegaskan kombinasi geopolitik dan ekonomi memengaruhi pasar.
Proyeksi Pergerakan Harga Minyak ke Depan
Yoshida memproyeksikan harga WTI akan bergerak di kisaran US$65 per barel dalam waktu dekat. Proyeksi ini mempertimbangkan ketegangan di Timur Tengah dan faktor fundamental pasokan global.
Meskipun terjadi fluktuasi jangka pendek, tren harga minyak tetap dipengaruhi oleh risiko geopolitik. Investor memantau pergerakan ini untuk menentukan strategi perdagangan dan manajemen risiko.
Ketegangan di Laut Arab dan Selat Hormuz menjadi sorotan karena jalur ini penting untuk ekspor minyak OPEC ke Asia. Gangguan di wilayah ini dapat berdampak langsung pada ketersediaan minyak global.
Penurunan stok minyak AS memperkuat sentimen pasar yang sebelumnya cenderung berhati-hati. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasokan minyak global semakin sensitif terhadap gangguan geopolitik dan permintaan meningkat.
Sentimen positif lainnya datang dari harapan meningkatnya permintaan energi akibat kesepakatan dagang AS-India. Pasar memandang langkah ini sebagai sinyal bahwa konsumsi minyak akan stabil bahkan meningkat.
Meski demikian, ketidakpastian diplomatik antara AS dan Iran tetap menjadi faktor risiko utama. Perundingan yang dibatasi hanya pada isu nuklir dapat memicu ketidakpastian tambahan di pasar minyak.
Investor kini memperhatikan setiap perkembangan insiden militer dan negosiasi diplomatik. Reaksi pasar terhadap berita-berita tersebut dapat memicu volatilitas yang cukup besar dalam jangka pendek.
Harga minyak yang menguat ini menunjukkan kombinasi antara risiko geopolitik, penurunan persediaan, dan permintaan global. Para pelaku pasar menilai bahwa momentum kenaikan masih dapat berlanjut selama ketegangan tetap tinggi.
Reli harga minyak pada Rabu menjadi contoh bagaimana pasar cepat merespons faktor eksternal. Baik isu geopolitik maupun data persediaan menjadi indikator penting bagi prediksi pergerakan harga ke depan.
Nathasya Zallianty
variaenergi.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Peran Praja IPDN dan ASN Kemendagri dalam Pemulihan Aceh Tamiang Pasca Banjir Bandang
- Rabu, 04 Februari 2026
Wamenkominfo Dorong Platform Digital Terapkan Sistem Deteksi Usia Anak Berbasis Perilaku
- Rabu, 04 Februari 2026
Presiden Prabowo Resmi Tetapkan Jadwal Cuti Bersama ASN Tahun 2026 di Seluruh Indonesia
- Rabu, 04 Februari 2026
Berita Lainnya
Wamenkominfo Dorong Platform Digital Terapkan Sistem Deteksi Usia Anak Berbasis Perilaku
- Rabu, 04 Februari 2026
Presiden Prabowo Resmi Tetapkan Jadwal Cuti Bersama ASN Tahun 2026 di Seluruh Indonesia
- Rabu, 04 Februari 2026
Update Terbaru Harga Emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian Hari Ini Rabu 4 Februari 2026
- Rabu, 04 Februari 2026








