Sabtu, 02 Mei 2026

Peran Biopori Jadi Solusi Cerdas Atasi Banjir Jabodetabek Berbasis Masyarakat

Peran Biopori Jadi Solusi Cerdas Atasi Banjir Jabodetabek Berbasis Masyarakat
Peran Biopori Jadi Solusi Cerdas Atasi Banjir Jabodetabek Berbasis Masyarakat

JAKARTA - Upaya menekan potensi banjir di wilayah Jabodetabek kini kembali digencarkan melalui pendekatan berbasis masyarakat. 

Wakil Menteri Lingkungan Hidup (Wamen LH) Diaz Hendropriyono mengajak masyarakat untuk aktif terlibat dalam menjaga keseimbangan lingkungan, khususnya di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung. Salah satu langkah yang ditekankan adalah pemanfaatan biopori sebagai solusi sederhana namun efektif.

Ajakan ini disampaikan dalam rangkaian kegiatan yang bertepatan dengan peringatan Hari Air Sedunia. Pemerintah melihat pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan, terutama di wilayah hulu yang memiliki peran besar dalam mengatur aliran air. Dengan keterlibatan aktif warga, upaya pengendalian banjir diharapkan dapat berjalan lebih optimal.

Baca Juga

ADHI Cetak Rekor Kontrak Baru di TW I 2026, Naik Hingga 131%

Distribusi Biopori untuk Wilayah Hulu DAS Ciliwung

Dalam kunjungannya, Wamen LH/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Diaz Hendropriyono menyerahkan bantuan unit biopori kepada masyarakat. Bantuan tersebut diberikan kepada 10 desa di Kecamatan Cisarua sebagai bagian dari program penguatan lingkungan. Penyerahan dilakukan dalam momentum Hari Air Sedunia yang jatuh pada Minggu.

Bantuan yang diberikan berupa masing-masing 50 unit biopori untuk setiap desa. Wilayah Kecamatan Cisarua dipilih karena berada di kawasan hulu DAS Ciliwung, yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan air. Dengan adanya fasilitas ini, masyarakat diharapkan dapat lebih mudah menerapkan teknologi sederhana untuk mengelola air hujan.

Biopori Sebagai Solusi Sederhana Pengelolaan Air

Menurut Wamen Diaz, idealnya setiap rumah memiliki unit biopori sebagai langkah preventif terhadap genangan air. Biopori memungkinkan air hujan langsung meresap ke dalam tanah, sehingga mengurangi potensi limpasan air yang dapat menyebabkan banjir. Selain itu, metode ini juga membantu menjaga keseimbangan siklus air di lingkungan sekitar.

"Idealnya, setiap rumah harus punya unit biopori, supaya tidak ada genangan, dan air bisa langsung turun ke tanah, jadi ada keseimbangan air, dan mengurangi risiko banjir. Jadi sebaiknya setiap rumah tanam satu pohon dan lubang biopori," ujar Wamen Diaz.

Selain biopori, penanaman pohon juga menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Kombinasi antara vegetasi dan lubang resapan air diharapkan mampu memperkuat daya serap tanah terhadap air hujan.

Pentingnya Menjaga Keseimbangan Air di Lingkungan

Wamen LH menekankan bahwa menjaga keseimbangan air merupakan hal yang sangat krusial, mengingat ketersediaan air bersih yang semakin terbatas. Dalam konteks ini, masyarakat diingatkan untuk tidak membuang sampah sembarangan, terutama di sumber-sumber air seperti sungai dan danau.

"Air bersih disini itu ditemukan di sungai dan danau, tapi jumlahnya makin lama makin sedikit karena banyaknya sampah, maka dari itu, kita harus jaga air ini," jelasnya.

Kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan menjadi faktor utama dalam menjaga kualitas air. Tanpa dukungan dari masyarakat, berbagai upaya pemerintah dalam menjaga lingkungan tidak akan berjalan maksimal.

Menghindari Kelebihan dan Kekurangan Air

Selain kekurangan air, Wamen Diaz juga menyoroti pentingnya mengantisipasi kelebihan air yang dapat menyebabkan banjir. Oleh karena itu, keberadaan biopori menjadi solusi yang mampu membantu mengatur aliran air di lingkungan permukiman.

"Jangan sampai kekurangan air dan juga kelebihan air, kalau kelebihan akan jadi banjir, maka kita harus menjaga keseimbangan air masuk dan air keluar," tambahnya.

Dengan adanya sistem biopori, air hujan dapat diserap lebih cepat ke dalam tanah, sehingga mengurangi risiko genangan. Konsep ini menjadi bagian dari pendekatan sederhana namun efektif dalam pengelolaan air berbasis lingkungan.

Dukungan Sarana dan Aksi Nyata Pelestarian Lingkungan

Selain bantuan unit biopori, Kementerian Lingkungan Hidup juga menyalurkan berbagai bantuan lain sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian lingkungan. Bantuan tersebut meliputi bibit pohon, tiga unit perahu karet, serta alat dan pipa biopori yang dapat digunakan masyarakat.

Tidak hanya itu, kegiatan ini juga diikuti dengan aksi nyata berupa penanaman 1.500 pohon dan pembangunan sumur resapan di Agrowisata Gunung Mas. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya konkret dalam meningkatkan daya dukung lingkungan, khususnya dalam mengelola air hujan secara berkelanjutan.

Langkah-langkah ini diharapkan dapat menjadi contoh nyata kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menjaga lingkungan. Dengan sinergi yang baik, potensi banjir dapat ditekan, sekaligus menjaga ketersediaan air bersih bagi generasi mendatang.

Ferdi Tri Nor Cahyo

Ferdi Tri Nor Cahyo

variaenergi.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Jaecoo 7 Tawarkan Solusi Berkendara Hemat di Booth Kota Kasablanka

Jaecoo 7 Tawarkan Solusi Berkendara Hemat di Booth Kota Kasablanka

Torehkan Prestasi Mendunia, PLN Indonesia Power Borong 9 Penghargaan di Ajang Global CSR & ESG Awards 2026

Torehkan Prestasi Mendunia, PLN Indonesia Power Borong 9 Penghargaan di Ajang Global CSR & ESG Awards 2026

Prancis Bidik Jadi Arab Saudi Eropa Lewat Ekspor Listrik Bersih

Prancis Bidik Jadi Arab Saudi Eropa Lewat Ekspor Listrik Bersih

PLN Rampungkan Kajian Jaringan Listrik Hijau Jawa-Sumatra

PLN Rampungkan Kajian Jaringan Listrik Hijau Jawa-Sumatra

Lingkar Kediri Resmi Rilis, Mbak Wali Teken Aksi Literasi Hijau

Lingkar Kediri Resmi Rilis, Mbak Wali Teken Aksi Literasi Hijau