Minggu, 17 Mei 2026

BI Luncurkan Kalkulator Hijau Versi 2 Guna Ukur Emisi Karbon Bank

BI Luncurkan Kalkulator Hijau Versi 2 Guna Ukur Emisi Karbon Bank
BI Luncurkan Kalkulator Hijau (FOTO: NET)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) meluncurkan secara resmi instrumen Kalkulator Hijau Versi 2 pada Jumat, 15 Mei 2026, demi menghadirkan sistem kalkulasi emisi karbon yang tepercaya sekaligus terstandarisasi bagi industri perbankan nasional.

Berdasarkan data yang dihimpun dari beraneka sumber, peluncuran ini dilaksanakan untuk memperkuat manajemen risiko iklim sekaligus menyokong perwujudan target Net Zero Emission Indonesia pada tahun 2060.

Sistem terbaru ini dirancang secara spesifik guna mendongkrak ketepatan pelaporan keberlanjutan bagi para pelaku bisnis dan institusi keuangan.

Baca Juga

Solusi Energi Hijau DOGO Power untuk Tambang Indonesia

Kebijakan strategis tersebut dijalankan untuk menjawab tantangan perubahan iklim global yang berdampak pada stabilitas ekonomi dalam negeri melalui integrasi data emisi yang lebih valid.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa perilisan perangkat ini akan memicu terciptanya standar baru dalam menyempurnakan pengelolaan data emisi di sektor keuangan. "Inisiatif ini diharapkan mampu meningkatkan akurasi pelaporan keberlanjutan serta mendukung pengelolaan risiko iklim secara lebih berdampak bagi ketahanan ekonomi nasional," kata Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.

Di sisi lain, pihak pemerintah telah menyusun kerangka regulasi fiskal untuk mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon melalui pemanfaatan anggaran APBN.

Langkah tersebut mencakup pengalokasian beragam insentif bagi sektor-sektor usaha yang mengimplementasikan kegiatan ramah lingkungan di tanah air.

Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, menilai bahwa penyelarasan kalkulasi emisi ke dalam manajemen risiko perbankan kini telah menjadi urgensi yang mendesak. "Langkah fiskal ini bertujuan untuk merangsang investasi pada sektor-sektor ramah lingkungan demi menjaga keselarasan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian ekologi," jelas Juda Agung, Wakil Menteri Keuangan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan pentingnya korelasi antara risiko iklim dengan ketahanan sektor finansial.

Hingga Desember 2025, catatan positif berhasil dibukukan oleh Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) hijau yang melesat hingga 70,08 persen (yoy) dengan rasio kredit bermasalah (NPL) yang sangat rendah di level 0,30 persen.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mendorong para pelaku industri perbankan untuk memasukkan penghitungan emisi sebagai bagian dari rencana bisnis jangka panjang mereka.

BI sendiri telah menyediakan insentif likuiditas hingga mencapai 1 persen dari GWM untuk bank-bank yang aktif menyalurkan pembiayaan hijau.

Sistem Kalkulator Hijau Versi 2 ini menggunakan metodologi yang telah selaras dengan Greenhouse Gas (GHG) Protocol berstandar internasional.

Mengacu pada survei BI tahun 2025 terhadap 105 bank, perangkat ini terbukti telah dimanfaatkan sebagai rujukan utama perbankan nasional untuk menghitung emisi secara mandiri.

David Ilham

David Ilham

variaenergi.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Ford Energy Luncurkan DC Block, Targetkan Pasar Industri Besar

Ford Energy Luncurkan DC Block, Targetkan Pasar Industri Besar

Rupiah Melemah, Penetapan RUU Migas Dinilai Kian Mendesak

Rupiah Melemah, Penetapan RUU Migas Dinilai Kian Mendesak

Azhari Idris Resmi Menjabat VP Dukungan Bisnis SKK Migas

Azhari Idris Resmi Menjabat VP Dukungan Bisnis SKK Migas

Pasokan BBM Diesel SPBU Shell Kini Berasal dari Pertamina

Pasokan BBM Diesel SPBU Shell Kini Berasal dari Pertamina

Rusia Siap Lanjutkan Proyek Migas Blok Tuna Juni Depan

Rusia Siap Lanjutkan Proyek Migas Blok Tuna Juni Depan