Bahaya Karbon Monoksida: Satu Keluarga Tewas di Tenda Posong
TEMANGGUNG - Tragedi tewasnya satu keluarga ketika berkemah di kawasan wisata Posong, Temanggung, saat ini tengah memicu perhatian khalayak terkait ancaman gas karbon monoksida di dalam area tertutup.
Dokter spesialis forensik dan medikolegal yang juga mitra RS Bhayangkara Semarang, Istiqomah, memaparkan jika gas itu bisa memicu kematian hanya dalam waktu beberapa menit saja.
Kejadian memilukan tersebut merenggut nyawa satu keluarga yang berasal dari Ambarawa, Kabupaten Semarang, yaitu Muhammad Ali Munawar (52), sang istri Maghfirah (43), serta kedua putra mereka, Bagas Amar Hakiki (21) dan Alvino Evan Hakim (16).
Lewat temuan penyelidikan pihak kepolisian, para korban diindikasikan memasukkan tungku berisi arang briket yang masih membara ke dalam tenda yang terkunci rapat usai mereka merampungkan aktivitas memasak.
Situasi itu menyebabkan terjadinya akumulasi karbon monoksida di dalam tenda yang menghalangi masuknya asupan oksigen.
Menurut Istiqomah, karbon monoksida ialah gas beracun yang menggantikan fungsi oksigen di dalam darah, sehingga tubuh bakal kekurangan suplai oksigen secara berkala.
“Korban kemungkinan meninggal pada dini hari menjelang pagi. Dalam kasus keracunan karbon monoksida, kematian dapat terjadi dalam waktu relatif singkat, bahkan hanya dalam hitungan menit,” ujar Istiqomah, Selasa (16/6/2026).
Dirinya memaparkan bahwa jalannya keracunan karbon monoksida berjalan amat kilat.
Usai terhirup, gas beracun itu bakal seketika merusak peredaran oksigen menuju organ-organ vital di dalam tubuh.
“Begitu karbon monoksida masuk ke dalam tubuh, pasokan oksigen langsung berkurang. Dalam waktu sekitar delapan menit, korban dapat mengalami kondisi mulai dari kekurangan oksigen hingga sesak napas,” jelasnya.
Berdasarkan penuturan Istiqomah, ada empat tahapan krusial yang bisa menimpa tubuh sewaktu menghirup karbon monoksida dengan kadar yang tinggi.
Masing-masing tahapan berjalan dalam tempo yang pendek, yakni berkisar dua menit.
Tahap pertama diawali lewat merosotnya kadar oksigen, yang kemudian diikuti oleh reaksi sistem pernapasan yang memaksa tubuh bekerja lebih keras demi memenuhi asupan oksigen.
Fase berikutnya memperlihatkan timbulnya kendala pernapasan yang kian parah hingga berujung sesak napas.
Bila paparan gas terus berlanjut, kinerja organ vital bakal pincang dan korban akan pingsan sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir akibat asfiksia atau kehabisan oksigen.
Istiqomah memperkirakan para korban tidak menyadari ancaman mematikan itu lantaran karbon monoksida tak memiliki aroma yang tajam.
“Asap pasti terlihat, tetapi mungkin tidak disadari karena tidak memiliki bau yang menyengat. Karbon monoksida juga tidak menimbulkan sensasi yang mengganggu tenggorokan, sehingga kemungkinan korban tidak menyadari bahaya yang mengintai,” tuturnya.
Di sisi lain, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Tengah, Kombes Pol Anwar Nasir, mengimbau warga agar tidak memindahkan peranti pemanas, kompor gas, ataupun media pembakaran lain ke dalam tempat tertutup yang minim ventilasi udara.
“Membawa alat-alat tersebut ke dalam ruangan tanpa sirkulasi udara yang memadai sangat berbahaya dan dapat mengakibatkan mati lemas,” tegasnya.
Aparat kepolisian sebelumnya pun telah memastikan bahwa tewasnya empat anggota keluarga di Posong diakibatkan oleh keracunan gas karbon monoksida yang bersumber dari arang briket di dalam tenda yang tertutup.