Menkeu Purbaya Tegaskan Kunjungan ke China Bukan karena Terdesak

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Kamis, 18 Juni 2026
Menkeu Purbaya Tegaskan Kunjungan ke China Bukan karena Terdesak
Purbaya Bertemu Menkeu China (FOTO: NET)

JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan dengan tegas bahwa lawatan kerjanya ke Negeri Tirai Bambu bukan dipicu oleh kebutuhan pembiayaan Indonesia yang mendesak.

Langkah tersebut justru menjadi bagian dari rencana jangka panjang pemerintah guna memperkokoh ketahanan fiskal serta melebarkan sayap sumber pendanaan pembangunan di tengah situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian.

Pernyataan itu diutarakan Purbaya kala melangsungkan pertemuan bilateral bersama Menteri Keuangan China Lan Fo'an di Beijing pada Rabu (17/6/2026).

Fokus utama dari kunjungan tersebut yakni mematangkan persiapan perilisan sovereign Panda Bond, sebuah instrumen surat utang negara dalam mata uang Renminbi yang bakal ditawarkan kepada para investor di China.

“Kami datang ke Beijing bukan karena terdesak, tetapi karena Indonesia memiliki posisi yang kuat untuk membangun kerja sama yang saling menguntungkan. Ketika fondasi ekonomi kokoh, kami memiliki ruang untuk bertindak lebih strategis dan lebih percaya diri,” kata Purbaya dalam keterangannya pada Rabu (17/6/2026).

Purbaya memaparkan bahwa pemerintah sengaja mengambil langkah lebih cepat demi mengokohkan fondasi pendanaan negara supaya program pembangunan tetap berjalan aman walaupun dunia tengah diintai risiko ketegangan geopolitik hingga kelesuan ekonomi makro global.

“Indonesia tidak menunggu. Kami bergerak lebih awal dengan membangun fondasi pembiayaan yang kuat dan berkelanjutan agar pembangunan dapat terus berjalan di tengah berbagai tantangan global,” ujarnya.

Peluncuran Panda Bond diproyeksikan sebagai salah satu taktik diversifikasi pendanaan yang kini tengah dimatangkan oleh pemerintah.

Di samping memperluas jaringan investor, instrumen ini diharapkan dapat meminimalkan ketergantungan pada sumber pendanaan berbasis dolar AS sekaligus membuka peluang penetrasi yang lebih lebar ke ceruk pasar keuangan lokal China.

Langkah ini juga dinilai Purbaya sejalan dengan program penguatan transaksi menggunakan mata uang lokal masing-masing negara atau Local Currency Transaction (LCT) antara Indonesia dan China.

Sinergi sektor keuangan dari kedua negara dinilai perlu terus dikembangkan mengingat ikatan perdagangan maupun investasi yang terjalin sudah semakin kuat.

Dia menerangkan bahwa agenda ke Beijing ini merupakan rangkaian dari rencana pembiayaan yang telah dirancang sejak jauh-jauh hari.

Pemerintah berupaya memastikan agar Indonesia mempunyai berbagai opsi sumber pendanaan alternatif, sehingga tidak bertumpu hanya pada satu pasar atau instrumen keuangan tertentu saja.

Purbaya pun menyanggah asumsi yang menyebutkan bahwa upaya menjaring pemodal di China mengindikasikan adanya masalah pada postur fiskal dalam negeri.

Dia memastikan fundamental perekonomian domestik masih kokoh, disokong oleh rasio utang negara yang aman, defisit anggaran yang terkelola dengan baik, serta laju pertumbuhan ekonomi yang meyakinkan.

Situasi positif ini dinilai justru memberikan daya tawar yang lebih menguntungkan bagi Indonesia ketika membangun kemitraan di kancah internasional.

Sesaat sebelum bertolak ke China, Purbaya menyatakan rasa optimisnya bisa memikat perhatian para investor lokal di sana untuk ikut serta dalam penerbitan instrumen Panda Bond.

Dia diagendakan bertatap muka dengan deretan investor beserta pelaku pasar finansial demi mempromosikan surat utang tersebut secara langsung.

“Ya kan akan kami temui investor-investor itu, untuk yang Panda Bonds,” kata Purbaya di Kompleks Parlemen, Senin (15/6/2026).

Selain berdiskusi dengan Menteri Keuangan China, Purbaya juga dijadwalkan mengadakan pertemuan dengan institusi keuangan krusial seperti People's Bank of China, Asian Infrastructure Investment Bank, hingga Shanghai Cooperation Organization Development Bank.

Panda Bond dipandang oleh Purbaya bukan cuma sebagai instrumen pendanaan anyar, melainkan bagian dari strategi jangka panjang demi mendongkrak reputasi dan kredibilitas Indonesia di pasar internasional.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua