AS Catat Kenaikan Emisi Karbon Tertinggi di Dunia Sepanjang 2025

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Rabu, 01 Juli 2026
 AS Catat Kenaikan Emisi Karbon Tertinggi di Dunia Sepanjang 2025
Emisi gas rumah kaca (GRK) (FOTO: NET)

JAKARTA - Peningkatan emisi karbon Amerika Serikat (AS) sebesar 3,2% pada 2025 tercatat sebagai kenaikan tertinggi dibandingkan negara-negara dengan ekonomi besar lainnya di dunia.

Lonjakan tersebut pun empat kali lipat lebih besar apabila dibandingkan dengan emisi China secara absolut berdasarkan laporan Statistical Review of World Energy edisi ke-75 yang diterbitkan Energy Institute bekerja sama dengan Ember, Kearney, dan KPMG.

Dalam dokumen yang dipublikasikan pada Selasa (30/6/2026) itu, emisi karbon yang diproduksi China hanya naik 0,3% secara tahunan, sementara India mengalami pertumbuhan 0,9%.

Kedua besaran tersebut masih berada di bawah angka rata-rata kenaikan global sebesar 1,1%.

Seluruh emisi yang tercipta dari sektor energi menembus angka 35,80 miliar ton setara karbon dioksida (CO2e) selama 2025, bertambah sekitar 310 juta ton dari 35,49 miliar ton pada periode sebelumnya.

AS menjadi penyumbang terbesar dari kenaikan volume emisi ini, yaitu mencakup hampir sepertiganya dengan angka 129,5 juta ton CO2e.

Peningkatan emisi di AS terutama didorong oleh naiknya pembangkitan listrik yang berbasis batu bara sebesar 13%.

Kecenderungan tersebut berbanding terbalik dengan sejumlah wilayah lain yang justru mempercepat peralihan menuju energi bersih.

Energy Institute menyebutkan arah transisi energi dunia saat ini semakin terfragmentasi.

China mencatatkan rekor baru dalam pembangkitan listrik tenaga angin serta surya dengan pasokan total yang melebihi gabungan dari seluruh negara lain, sementara pembangkitan listrik berbasis batu bara terus berkurang.

India juga melaporkan penurunan pembangkitan listrik batu bara, minyak, dan gas secara serentak, yang dibarengi dengan lonjakan pembangkitan energi terbarukan hampir 24%.

Di Eropa, pembangkitan energi terbarukan naik 7%, walaupun peningkatannya terhambat oleh melemahnya pembangkitan listrik tenaga air serta sedikit penurunan produksi listrik tenaga angin.

Inggris menjadi pengecualian dengan adanya lonjakan pembangkitan listrik tenaga surya sebesar 37%.

Sebaliknya, di AS pembangkitan listrik tenaga surya naik 28%, sedangkan pembangkitan listrik tenaga angin hanya bertambah 3%.

Pada waktu yang bersamaan, pembangkitan listrik berbasis batu bara melonjak 13% dan menjadi faktor utama pemicu peningkatan emisi karbon di negara tersebut.

Dari sektor produksi energi, kawasan Amerika kini memproduksi minyak sekitar 20% lebih banyak ketimbang Timur Tengah.

Produksi minyak dan gas AS naik 4% sepanjang 2025, membalikkan keadaan dua dekade silam ketika produksi Timur Tengah masih sekitar 20% lebih tinggi dibandingkan kawasan Amerika.

Laporan dari Sumbernya juga mencatat produksi minyak Amerika tumbuh 4,8% sehingga membantu mengurangi dampak konflik di Timur Tengah terhadap pasokan energi global.

Secara keseluruhan, kebutuhan energi dunia bertambah 1,7% pada 2025.

Seluruh sumber energi utama kembali mencatatkan rekor konsumsi tertinggi untuk tahun kedua secara beruntun.

Kendati demikian, efisiensi energi terhadap pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) masih berada di level 2%, jauh di bawah target peningkatan efisiensi tahunan sebesar 4% yang telah disepakati dalam COP28.

Di tengah tingginya permintaan energi, energi terbarukan untuk pertama kalinya menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan total pasokan energi (total energy supply/TES) di luar masa resesi.

Energi surya menyumbang sekitar 71% dari pertumbuhan tersebut.

Secara global, pembangkitan listrik tenaga surya meningkat 30%, sementara kapasitas penyimpanan energi berbasis baterai melonjak 66%, yang menjadikannya sebagai teknologi energi bersih dengan laju pertumbuhan tercepat.

Permintaan listrik dunia juga naik 3% secara tahunan, lebih tinggi jika dibandingkan pertumbuhan pasokan energi secara keseluruhan.

Kenaikan tersebut dipicu oleh meningkatnya pemakaian kendaraan listrik, pusat data (data center), dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Untuk pertama kalinya, seluruh tambahan permintaan listrik global berhasil dipenuhi oleh sumber energi rendah karbon.

Energi terbarukan dan tenaga air bahkan melampaui batu bara sebagai sumber pembangkitan listrik terbesar, sementara pembangkitan berbasis bahan bakar fosil secara umum mengalami penurunan.

China mencatatkan pertumbuhan konsumsi listrik paling cepat di antara negara-negara ekonomi besar, yaitu di atas 5%, dengan tambahan konsumsi listrik yang setara total penggunaan listrik Jerman selama satu tahun.

Sementara itu, permintaan listrik AS naik 3%, sesuai dengan rata-rata global.

Laporan dari Sumbernya juga untuk pertama kalinya mencatat konsumsi listrik pusat data dunia yang mencapai 788 terawatt hour (TWh) pada 2025, dengan sekitar 40% di antaranya bersumber dari AS.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua