Target Onstream 2028, Gas Andaman 160 MMSCFD Resmi Dijual ke PLN

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Selasa, 07 Juli 2026
Target Onstream 2028, Gas Andaman 160 MMSCFD Resmi Dijual ke PLN
Platform migas lepas pantai (FOTO: NET)

JAKARTA PUSAT - Kabar baik datang bagi sektor hulu migas tanah air setelah proyek gas raksasa Andaman memasuki fase krusial usai Mubadala Energy dan PT PLN (Persero) secara sah mengesahkan Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG/Gas Sales Agreement/GSA) demi mengalirkan gas sebesar 160 juta kaki kubik per hari (MMSCFD).

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto melalui pemaparannya kepada Menteri ESDM, Wakil Menteri ESDM, Komisi Pengawas SKK Migas, dan jajaran direksi pada Senin (6/7/2026) mengungkapkan jika langkah ini menjadi salah satu kriteria mendasar menuju Final Investment Decision (FID) yang diusahakan dapat segera dieksekusi.

“Alhamdulillah, PJBG/GSA antara K3S Mubadala dan PLN untuk gas Andaman 160 MMSCFD baru saja selesai ditandatangani guna keperluan FID yang insya Allah dalam waktu dekat selesai. Rencana onstream pada 2028, bahkan lebih cepat dibandingkan proyek Masela,” ujar Djoko, seperti diceritakan dari Sumbernya.

Menurut Djoko, struktur Tangkulo yang dijadikan langkah awal operasi menyimpan cadangan berkisar 1 triliun kaki kubik (TCF) dengan proyeksi volume produksi dipatok menyentuh 300 MMSCFD.

Dari total cadangan tersebut, sejumlah 160 MMSCFD telah diikat oleh pembeli melalui PLN, sedangkan sisa 140 MMSCFD masih dalam langkah pencarian mitra beli sekaligus perumusan pola tata kelolanya.

Potensi area Andaman sendiri dipandang jauh lebih melimpah.

Djoko mengemukakan jika aktivitas berikutnya akan bersumber dari Lapangan Selayar dan sejumlah struktur di sekitarnya dengan total simpanan gas yang telah diidentifikasi menyentuh 10 TCF, menjadikan sektor ini sebagai penopang energi gas masa depan Indonesia.

Djoko memaparkan, mulanya prosesi pengesahan PJBG tersebut diagendakan berjalan di tengah perhelatan IPA Convention and Exhibition 2026.

Kendati demikian, tahapannya sempat tertunda lantaran terdapat revisi pada salah satu poin tentang price review yang mewajibkan restu dari kantor pusat Mubadala di Abu Dhabi.

“Persetujuan dari headquarters di Abu Dhabi baru diperoleh sehingga penandatanganan dapat dilakukan pada 6 Juli 2026,” jelasnya.

Blok Andaman sendiri sedari fase awal penjajakan mengadopsi mekanisme gross split.

Saat ini, Mubadala Energy mengontrol 80 persen participating interest (PI), sedangkan Harbour Oil menggenggam 20 persen PI.

Porsi saham milik Harbour Oil tersebut ke depannya akan dilego lewat skema farm-out kepada korporasi baru.

Dalam langkah Plan of Development (POD)-1, pengerjaan akan memakai metode kombinasi hybrid offshore-onshore.

Gas bumi yang disedot dari sumur-sumur laut dalam akan dipisahkan terlebih dahulu menggunakan Floating Production Storage and Offloading (FPSO) guna menyaring gas, kondensat, karbon dioksida (CO?), serta hidrogen sulfida (H?S).

Setelah itu, gas bersih (lean gas) dipompakan melewati saluran bawah laut sepanjang kurang lebih 80 kilometer menuju Onshore Receiving Facility (ORF) yang akan didirikan pada area KEK Arun, Aceh.

Djoko memaparkan pembangunan infrastruktur darat beserta instalasi pipa darat sudah mengantongi persetujuan pemanfaatan lahan dari Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN) Kementerian Keuangan.

Menurut Djoko, pemanfaatan FPSO merupakan prasyarat teknis yang tidak bisa ditawar lantaran gas bumi dari blok Andaman menyimpan kontaminasi CO? dan H?S dalam skala yang lumayan tinggi.

Kedua zat ini memicu sifat korosif yang tinggi sehingga jika tidak dibersihkan terlebih dahulu dapat membikin pipa penyalur cepat berkarat, bocor, hingga merusak komponen fisik infrastruktur.

Bukan cuma demi faktor keselamatan operasional, eliminasi zat pengotor pun menjadi standar baku agar komoditas gas memenuhi spesifikasi kualitas yang dipersyaratkan oleh Pertagas, PLN, beserta regulasi BPH Migas dalam klausul hak akses pipa gas.

“Gas dari sumur-sumur offshore Andaman tidak dapat langsung dibawa ke darat karena kandungan CO? dan H?S cukup tinggi sehingga harus dipisahkan terlebih dahulu sebelum dialirkan ke darat,” terang Djoko.

Dia menyisipkan, konsep perancangan infrastruktur sejenis ini bukanlah metode anyar di dunia migas, berhubung metode yang sama pun digunakan pada proyek laut dalam lain semisal Masela, beberapa blok di Natuna, Selat Madura, hingga wilayah lepas pantai Kalimantan Timur.

Djoko pun mengimbau seluruh pihak terkait untuk senantiasa mengalirkan sokongan agar proyek prioritas ini berjalan sesuai estimasi waktu.

“Semoga seluruh tahapan berjalan lancar, aman, dan selamat sehingga target onstream pada 2028 dapat tercapai. Bersama kami bisa meningkatkan lifting migas nasional,” pungkasnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua