EESA Fasilitasi Kolaborasi Teknologi Energi Bersih RI-China

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Kamis, 11 Juni 2026
EESA Fasilitasi Kolaborasi Teknologi Energi Bersih RI-China
Pekerjaan meninjau jaringan instalasi panel surya di Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) (FOTO: NET)

JAKARTA — Energy Storage Alliance (EESA) memperkuat komitmennya dalam memperkokoh hubungan kerja sama antara Indonesia dan China terkait pengembangan energi bersih dan teknologi penyimpanan energi demi menyokong transisi energi di tanah air.

Sekretaris Jenderal EESA Rene Duan berpendapat bahwa Indonesia mempunyai prospek yang sangat besar untuk tumbuh menjadi salah satu pasar terdepan dalam pengembangan energi bersih di wilayah Asia Tenggara.

“Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam mengembangkan energi bersih. Melalui EESA Summit Indonesia ini, kami berkomitmen untuk terus menjadi jembatan kerja sama antara China dan Indonesia sehingga dapat mewujudkan sistem energi masa depan yang andal dan ramah lingkungan,” ujar Rene dalam keterangannya, Rabu (10/6/2026).

Berdasarkan pandangan Rene, pemanfaatan teknologi penyimpanan energi bakal memegang andil krusial dalam menyokong implementasi energi baru dan terbarukan (EBT), khususnya pada pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) serta pembangkit listrik tenaga angin yang tingkat produksinya sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca.

Oleh sebab itu, EESA memfasilitasi pertemuan antara pihak pemerintah, para pelaku industri, penanam modal, hingga korporasi teknologi penyimpanan energi dari China guna mengkaji potensi investasi, kolaborasi teknologi, sekaligus peta kebijakan pada sektor energi di Indonesia.

Melalui forum tersebut, EESA turut menyosialisasikan rekam jejak China dalam mengelola proyek penyimpanan energi dengan skala masif, yang mencakup skema pendanaan serta metode pengembangan proyek yang dinilai relevan untuk diimplementasikan di negara berkembang.

Rene memproyeksikan bahwa keperluan Indonesia akan sistem penyimpanan energi bakal terus melonjak selaras dengan target pengembangan pembangkit listrik tenaga surya dalam peta jalan nasional yang dibidik menyentuh angka 100 gigawatt (GW).

Menurutnya, penerapan teknologi penyimpanan energi beserta sistem microgrid menjadi elemen vital demi mempertahankan stabilitas distribusi listrik, khususnya bagi wilayah kepulauan serta area pelosok yang belum sepenuhnya terintegrasi dengan jaringan listrik pusat.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua