IBC Dorong Baterai Sodium-Ion demi Hilirisasi Nikel
- Selasa, 19 Mei 2026
JAKARTA - Pemanfaatan momentum pertumbuhan pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT) guna mendukung hilirisasi nikel di Indonesia dianggap terlambat akibat pergeseran pasar global Battery Energy Storage System (BESS) yang kini beralih total ke lithium iron phosphate (LFP).
Langkah strategis yang baru dinilai sangat krusial demi mengamankan posisi komoditas nikel domestik di masa depan, seperti yang dihimpun dari Lestari pada Senin (18/5/2026).
Situasi pasar global saat ini terpantau tidak lagi menerapkan campuran nikel sama sekali di dalam sistem penyimpanan energi tersebut.
Baca Juga
Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC), Aditya Farhan Arif memaparkan sejumlah tantangan teknis dalam diskusi bertajuk MIND Club; Bincang-Bincang Baterai mengenai penggunaan material tersebut.
"Itu sudah no compromise, artinya enggak bisa kami otak-atik lagi jadi pakai (baterai) NMC (Nickel Manganese Cobalt). Enggak bisa karena secara teknikal memang sangat sulit kalau pakai NMC," ujar Aditya Farhan Arif, Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC).
Kendala pembuangan panas yang tergolong sangat tinggi ketika pengoperasian maupun pengisian daya menjadi faktor utama teknologi berbasis nikel sulit diaplikasikan pada BESS.
Di lain sisi, Indonesia dinilai berpeluang menggantikan posisi LFP melalui pemanfaatan ruang baru dari pengembangan teknologi baterai sodium-ion.
"(Kalau baterai sodium-ion) nikel masih punya ruang di sana. Jadi, itulah alasannya kenapa kok kami pengen ke sana. Kami enggak mau ketinggalan momentum ya untuk nikel di baterai yang generasi baru," tutur Aditya Farhan Arif, Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC).
Untuk menyuplai kebutuhan pasar terdekat, IBC tengah menyiapkan operasional pabrik Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang, Jawa Barat.
Fasilitas produksi ini ditargetkan mulai berjalan pada Juli 2026 demi menyokong program pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 100 gigawatt (GW) melalui produksi BESS berteknologi LFP.
"Untuk 2026, kami impor dulu dari China karena memang ya tadi chemistry-nya masih didominasi LFP juga. Jadi, memang engak bisa suplai di sini sekarang," ucap Aditya Farhan Arif, Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC).
Pihak manajemen memproyeksikan pabrik CATIB baru dapat memproduksi BESS berbasis teknologi NMC dengan kapasitas 6,9 hingga 8,1 gigawatt hour (GWh) pada tahun 2028 kelak.
Tingkat keandalan sistem penyimpanan energi dari pabrik ini diklaim mengadopsi standar presisi yang sangat tinggi dari CATL.
"Toleransi kesalahannya itu one part per billion (1 PBB). Jadi, 1 miliar produksi hanya boleh ada 1 sel yang cacat. Jadi segitu yang sudah masuk ke precision manufacturing-nya mereka. Baterai itu cuma satu tingkat di bawah semikonduktor," ujar Aditya Farhan Arif, Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC).
Ditinjau dari nilai keekonomian, PLTS yang diintegrasikan dengan BESS saat ini dinilai belum dapat menandingi harga listrik dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara jika tanpa insentif tambahan.
Dukungan subsidi dari pihak pemerintah sangat diperlukan agar teknologi ramah lingkungan tersebut dapat bersaing secara kompetitif di pasar.
"Kami akan satisfy kedua-duanya, baik BESS maupun EV (electric vechile). Yang penting, mana market yang bisa kami secure duluan," tutur Aditya Farhan Arif, Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC).
David Ilham
variaenergi.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026
Manchester United Incar Shea Charles Murah Untuk Gantikan Casemiro Musim Panas
- Jumat, 10 April 2026
Chelsea Tolak Real Madrid Demi Pertahankan Bek Muda Josh Acheampong Masa Depan
- Jumat, 10 April 2026
Liverpool Semakin Dekat Amankan Kontrak Baru Ibrahima Konate Di Anfield Musim Ini
- Jumat, 10 April 2026
Berita Lainnya
Terpopuler
3.
Panduan Cermat Persiapan Pensiun Dini Sejak Muda
- 18 Mei 2026












