Masa Depan Nikel Indonesia untuk Baterai EV Dinilai Cerah

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Selasa, 19 Mei 2026
Masa Depan Nikel Indonesia untuk Baterai EV Dinilai Cerah
ILUSTRASI Baterai EV (FOTO: NET)

JAKARTA - Prospek komoditas nikel Indonesia untuk memasok kebutuhan industri baterai kendaraan listrik dinilai tetap mempunyai potensi yang besar, meskipun terdapat prediksi bahwa porsi penyerapan konsumsi domestik dibanding total hasil produksi nasional akan tetap berada pada level yang sangat rendah.

Studi riset dari Energy Shift Institute (ESI) memproyeksikan kurang dari 1 persen hasil produksi nikel di dalam negeri yang bakal diserap oleh sektor industri manufaktur baterai dan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) lokal pada tahun 2035 nanti.

Associate Principal ESI, Ahmad Zuhdi Dwi Kusuma menyampaikan, andai seluruh fasilitas moda transportasi bermotor, terutama jenis mobil, beralih ke segmen kendaraan listrik pada 2035, tingkat kebutuhan nikel di pasar domestik masih belum sebanding dengan besarnya volume produksi skala nasional.

“Perhitungan kami menunjukkan konsumsi nikel domestik untuk baterai dan EV di pasar dalam negeri tidak akan melebihi 1 persen dari produksi nikel Indonesia pada 2024,” ujar Zuhdi dalam webinar Menggali Wawasan Tata Kelola Mineral Kritis di Indonesia, Rabu (6/5/2026).

Meski begitu, Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC), Aditya Farhan Arif menilai penyerapan nikel untuk bahan baku baterai tetap memiliki peluang yang sangat besar di masa mendatang.

Berdasarkan analisisnya, percepatan teknologi baterai ke depan justru berpotensi meningkatkan intensitas pemanfaatan nikel, khususnya dalam pengolahan jenis baterai yang mempunyai kerapatan energi tinggi yang mampu menyuplai daya untuk jarak tempuh kendaraan yang lebih jauh.

“Saya kurang sepakat. Kalau melihat perkembangan teknologi, baterai berbasis nikel masih punya prospek besar,” kata Aditya dalam forum MIND Club: Bincang-Bincang Baterai, Senin (18/5/2026).

Ia menerangkan, tren teknologi baterai lithium-ion pada saat ini mulai beralih ke arah konsep baterai anode-free*, yang memerlukan ketersediaan material katoda dengan tingkat kerapatan energi yang mumpuni.

Dalam aspek tersebut, baterai dengan bahan dasar nikel dianggap mempunyai keunggulan tersendiri jika dibandingkan dengan baterai lithium iron phosphate (LFP).

Aditya memandang komponen katoda yang berbahan dasar nikel, secara lebih spesifik untuk varian mid-nickel hingga high-nickel, masih memiliki peluang yang kuat untuk diimplementasikan secara luas di sektor industri.

Pada masa sekarang, model baterai LFP memang tengah mendominasi pasar global otomotif listrik karena biaya operasional produksinya dinilai lebih ekonomis serta tidak memerlukan penggunaan bahan nikel.

Walau demikian, Aditya menyebutkan bahwa dominasi pasar LFP tidak serta-merta menutup rapat peluang pasar untuk baterai berbahan dasar nikel, terlebih jika inovasi teknologi baterai terus diperbarui.

Melalui sudut pandangnya, varian teknologi terbaru seperti baterai sodium-ion serta solid-state juga tetap memberikan ruang bagi pemanfaatan material nikel.

Pada model baterai sodium-ion, salah satu kombinasi kimia katoda yang tengah dikembangkan adalah Nickel Iron Manganese (NFM).

Sedangkan pada pengembangan baterai solid-state, komponen material katoda yang digunakan tetap berpeluang besar memakai unsur nikel, seperti Nickel Manganese Cobalt (NMC).

“Nikel masih bisa berperan dalam teknologi baterai masa depan,” ujar Aditya.

Aditya berpendapat bahwa Indonesia wajib memperkuat lini riset dan pengembangan (R&D) supaya tidak hanya berada di posisi sebagai pemasok bahan baku mentah saja, melainkan juga mampu beradaptasi mengikuti tren perubahan teknologi baterai global.

Menurutnya, kebijakan hilirisasi wajib diimbangi dengan penguatan kapasitas penguasaan teknologi supaya Indonesia dapat mempertahankan daya saing industri baterai domestik di tengah pusaran evolusi teknologi dunia.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua