Indonesia-China Kerja Sama Kembangkan Proyek PLTS 100 GW

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Jumat, 12 Juni 2026
Indonesia-China Kerja Sama Kembangkan Proyek PLTS 100 GW
Kerja Sama Kembangkan Proyek PLTS 100 GW (FOTO: NET)

JAKARTA - Perusahaan serta pemain industri energi dari Tiongkok menyasar potensi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) mencapai 100 gigawatt (GW) sejalan dengan tekad pemerintah untuk mengakselerasi transisi energi bersih serta merealisasikan target emisi nol bersih.

Rencana penanaman modal PLTS 100 GW tersebut menjadi topik utama dalam agenda EESA Summit Indonesia 2026.

Ajang tersebut mempertemukan pihak pemerintah, BUMN, penanam modal, hingga korporasi teknologi energi dari Indonesia serta Tiongkok guna mempererat kemitraan di bidang energi terbarukan dan penyimpanan energi.

COO Seven Event Agus Riyadi menyatakan, EESA Summit berfungsi sebagai sarana krusial untuk mempererat kolaborasi Indonesia dan Tiongkok dalam pengembangan teknologi penyimpanan energi yang diperlukan untuk menunjang integrasi energi terbarukan.

"Kami berharap sinergi yang kuat antara Indonesia dan Tiongkok, khususnya melalui pemanfaatan inovasi teknologi penyimpanan energi, dapat mempercepat pencapaian target transisi energi bersih serta mendukung ketahanan energi nasional yang andal dan berkelanjutan," ujar Agus dalam keterangannya, Kamis (11/6/2026).

Agus menilai bahwa pembangunan PLTS berskala masif sesuai peta jalan nasional dengan target kapasitas 100 GW memerlukan dukungan sistem penyimpanan energi serta jaringan listrik modern supaya pasokan listrik tetap terjaga meski dipengaruhi faktor cuaca.

Dalam gelaran tersebut, sejumlah korporasi teknologi energi dari Tiongkok dikabarkan menawarkan berbagai solusi penyimpanan energi dan sistem "microgrid" yang dianggap pas diaplikasikan pada wilayah kepulauan, termasuk daerah pelosok serta kawasan 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).

Pembahasan turut menyoroti urgensi pemenuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada pengembangan industri energi nasional.

Pemerintah menggalakkan kerja sama investasi serta pembentukan usaha patungan (joint venture) untuk memacu transfer teknologi sekaligus menguatkan industri dalam negeri.

Lebih lanjut, pemerintah memaparkan target realisasi program Listrik Desa (Lisdes) di 2.065 titik pada tahun 2026 untuk memperluas jangkauan listrik di beragam wilayah, terutama kawasan yang belum mendapatkan akses listrik secara optimal.

Sekretaris Jenderal EESA, Rene Duan memandang Indonesia sebagai salah satu pasar energi bersih dengan potensi terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Menurutnya, kemitraan Indonesia dan Tiongkok tidak sekadar membuka peluang investasi baru, melainkan juga menopang pembangunan sistem kelistrikan yang lebih andal dan berkelanjutan.

"Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam mengembangkan energi bersih. Melalui EESA Summit Indonesia ini, kami berkomitmen untuk terus menjadi jembatan kerja sama antara Tiongkok dan Indonesia sehingga dapat mewujudkan sistem energi masa depan yang andal dan ramah lingkungan," ujar Rene.

Ia menambahkan, pendayagunaan teknologi penyimpanan energi dari Tiongkok diharapkan mampu menjadi solusi strategis untuk mendukung pengembangan PLTS hingga 100 GW sekaligus memperkuat keandalan pasokan listrik bersih di seluruh wilayah.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua