PLN Optimalkan Potensi Energi Bersih 2.000 MW di Bali

DA
David Ilham

Editor: Yoga Susyla Utama

Jumat, 12 Juni 2026
PLN Optimalkan Potensi Energi Bersih 2.000 MW di Bali
Manager PLN Unit Pelaksana Pengatur Beban Bali (FOTO: NET)

BADUNG - PT PLN (Persero) mengungkapkan bahwa potensi energi bersih yang dimiliki Pulau Dewata menyentuh angka kisaran 2.000 megawatt (MW).

Jumlah tersebut berada jauh di atas tingkat keperluan daya listrik di Bali sekarang yang berada pada angka 1.300 MW.

Manager PLN Unit Pelaksana Pengatur Beban Bali (PLN UP2B Bali) Komang Teddy Indra Kusuma memberikan penjelasan pada hari Kamis bahwa potensi besar ini bersumber dari beragam energi terbarukan.

Sumber utamanya meliputi tenaga surya serta tenaga angin yang didapati tersebar di beberapa area di wilayah Bali.

“Dari hasil studi yang pernah dilakukan, potensi energi bersih di Bali hampir mencapai 2.000 MW. Angka ini cukup besar dibandingkan kebutuhan listrik Bali saat ini yang sekitar 1.300 MW,” ujarnya.

Dia memaparkan jika ada beberapa kawasan yang menyimpan potensi masif bagi pengerjaan energi bersih tersebut.

Salah satunya yakni area Kubu di Karangasem yang kini sudah dipergunakan sebagai area operasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Bali Timur dengan daya jangkau 25 MW.

Bukan hanya itu, kawasan Jembrana serta Negara juga dipandang mempunyai kadar pancaran sinar matahari yang sangat teratur sepanjang tahun.

Hal ini menjadikan kedua wilayah tersebut sangat ideal untuk pengerjaan proyek PLTS.

Di sisi lain, peluang bagi pemanfaatan energi bayu atau angin berada di daerah Nusa Penida serta Nusa Lembongan.

Kedua pulau tersebut dipandang mempunyai sifat hembusan angin yang sangat menunjang bagi pendirian pembangkit listrik tenaga bayu.

Pihak PLN mengonfirmasi bahwa pengerjaan energi bersih ini sudah tercantum ke dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).

Langkah ini ditempuh baik lewat pengerjaan PLTS dalam skala masif, pemasangan PLTS atap, ataupun pendirian pembangkit listrik tenaga bayu.

Kendati demikian, proses pengerjaan energi terbarukan ini dinilai masih menjumpai beberapa hambatan nyata.

Faktor yang menjadi hambatan paling utama yakni sifat dari energi terbarukan itu sendiri yang fluktuatif atau berubah-ubah karena sangat terikat pada situasi alam.

“Kalau matahari tertutup awan, produksi listrik dari PLTS akan menurun. Begitu juga energi angin yang bergantung pada kondisi cuaca. Tantangannya adalah bagaimana energi yang tidak konstan ini bisa menghasilkan pasokan listrik yang stabil,” ujarnya.

Guna menyelesaikan persoalan tersebut, PLN berpandangan bahwa pengerjaan sistem penyimpanan daya listrik menggunakan basis baterai dapat menjadi sebuah jalan keluar.

Akan tetapi, penerapan teknologi itu saat ini masih terhambat oleh besarnya nilai investasi modal yang tergolong amat tinggi.

Di samping itu, nilai jual properti atau lahan di wilayah Bali yang kian melambung tinggi turut menjadi hambatan tersendiri dalam proses pendirian pembangkit energi terbarukan.

Persoalan mengenai proses legalitas perizinan serta penyelarasan bersama program pembangunan di daerah juga menjadi poin penting yang mesti dicermati.

PLN mengharapkan adanya bantuan penuh dari pihak pemerintah pusat maupun pihak daerah agar mampu memacu percepatan pengerjaan energi bersih di Bali.

Dengan begitu, sasaran mengenai peralihan energi serta kedaulatan daya listrik diharapkan bisa terealisasi dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan.

Melihat segala kapasitas yang ada, dia memandang bahwa Bali mempunyai prospek yang sangat cerah untuk dijadikan sebagai salah satu wilayah percontohan pengerjaan energi bersih di tanah air.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua