JAKARTA - Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) bersama Uni Eropa (EU) telah menjalin komitmen untuk mengakselerasi transisi energi serta perkembangan ekonomi hijau yang berkelanjutan.
Langkah strategis tersebut diupayakan lewat sinergi di tingkat regional serta penguatan perencanaan yang lebih terpadu.
Pemerintah Indonesia menilai bahwa kolaborasi dan perencanaan matang sangat vital untuk menyatukan prinsip keberlanjutan ke dalam pertumbuhan ekonomi, sebagaimana disampaikan dalam KTT Keberlanjutan ASEAN-EU di Cebu, Filipina, Kamis.
"Satu-satunya jalan yang layak ke depan adalah perencanaan kohesif yang mengintegrasikan keberlanjutan dalam setiap aspek pembangunan," kata Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo Sambodo yang mewakili Indonesia dalam agenda tersebut.
Dewan Bisnis EU-ASEAN melaporkan bahwa kedua wilayah menyadari keberlanjutan bukan lagi pilihan melainkan kebutuhan ekonomi utama dalam menghadapi tekanan iklim serta tantangan ekonomi global.
Sebab itu, kemitraan antara ASEAN dan Uni Eropa menjadi instrumen penting untuk menciptakan peluang baru sekaligus merealisasikan target pembangunan yang ramah lingkungan.
Sementara itu, Duta Besar Uni Eropa untuk Filipina, Massimo Santoro, menyebutkan bahwa target nasional dalam menangani isu lingkungan sering kali terkendala masalah pendanaan di tahap pelaksanaan.
"Oleh karena itu, menguatkan hubungan antara ambisi dan pendanaan amat penting untuk mengubah kebijakan menjadi dampak nyata,” kata Dubes Santoro.
Menteri Keuangan Filipina, Frederick Go, menambahkan perlunya menjaga keseimbangan antara kecepatan pertumbuhan ekonomi dengan agenda prioritas keberlanjutan.
Ia pun menyoroti signifikansi penguatan relasi perdagangan internasional dalam mempercepat proses peralihan menuju energi bersih.
Menkeu Go mencontohkan sinergi Uni Eropa dan Filipina yang saat ini mulai diarahkan secara khusus pada aspek pertumbuhan inklusif, iklim, dan keberlanjutan.
Wakil Ketua Komisi Perubahan Iklim Filipina, Robert Borje, menjelaskan bahwa kondisi krisis energi saat ini sebenarnya memberikan celah bagi investasi baru untuk menciptakan sumber energi hijau.
"Krisis ini menyadarkan kami akan pentingnya diversifikasi energi," paparnya.
Pertemuan tingkat tinggi tahun 2026 ini diinisiasi oleh EU-ASEAN Business Council bersama ECCP di bawah koordinasi pemerintah Filipina selaku pemegang keketuaan ASEAN tahun ini.
Adapun puncak KTT ke-48 ASEAN yang mengumpulkan para pimpinan negara Asia Tenggara dijadwalkan berlangsung pada Jumat (8/5).