Peran Strategis Panas Bumi dalam Transisi Energi Rendah Emisi

Jumat, 15 Mei 2026 | 09:31:34 WIB
Peran Strategis Panas Bumi (FOTO: NET)

JAKARTA - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) menilai energi panas bumi memiliki peran sangat penting dalam mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional saat masa transisi menuju energi rendah emisi.

Sebagai salah satu instrumen energi baru terbarukan, panas bumi dinilai unggul karena mampu menyediakan pasokan listrik secara stabil selama 24 jam penuh tanpa terhalang cuaca ataupun ketergantungan impor bahan bakar.

Sifat ini menempatkan panas bumi sebagai pilar utama untuk mencapai target Net Zero Emission (NZE) di Indonesia sekaligus memperkuat porsi energi bersih nasional.

"Sebagai energi baru terbarukan, panas bumi merupakan energi baseload andal yang mampu menghasilkan listrik stabil selama 24 jam tanpa bergantung pada cuaca maupun impor bahan bakar. Karakteristik ini menjadikan panas bumi berperan penting dalam mendukung transisi energi rendah emisi sekaligus memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional," demikian keterangan PGE, Rabu (14/5/2026).

Untuk memperkuat posisi tersebut, PGE secara rutin menjalankan berbagai program efisiensi energi serta upaya penurunan emisi di semua lini bisnis dan operasional perusahaan.

Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho, mengungkapkan bahwa penerapan prinsip keberlanjutan adalah landasan utama guna memastikan pengembangan panas bumi berjalan efektif dan efisien.

"Pengembangan panas bumi tidak hanya berfokus pada penyediaan energi bersih. PGE juga memastikan seluruh operasional dijalankan secara bertanggung jawab, efisien, dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi lingkungan maupun masyarakat sekitar. Karena itu, penguatan praktik ESG dan implementasi operasi berkelanjutan akan terus menjadi prioritas Perseroan ke depan," terang Andi Joko Nugroho.

Berdasarkan Laporan Keberlanjutan 2025, PGE sukses mencatat penghematan energi mencapai 90.502,28 MWh pada tahun lalu.

Angka tersebut meningkat pesat dibanding perolehan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 40.058,77 MWh.

Selain itu, PGE mencatatkan angka rasio intensitas energi sebesar 0,037 MWh/MWh di tahun 2025, atau turun 10,10 persen dari tahun sebelumnya.

Dominasi penggunaan energi terbarukan dalam operasional perusahaan pun tetap tinggi, yakni menyentuh angka 94,36 persen.

Terkait pengelolaan emisi, intensitas emisi PGE berada pada level 41,12 g CO2e/kWh, posisi yang masih jauh di bawah ambang batas EU Taxonomy serta Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia sebesar 100 g CO2e/kWh.

Operasional panas bumi yang dijalankan PGE diklaim telah berkontribusi pada penghematan emisi hingga lebih dari 4,29 juta ton CO2e sepanjang tahun 2025.

PGE kini tidak hanya fokus pada penyediaan listrik, tetapi mulai merambah sektor energi bersih lain melalui proyek green hydrogen berbasis panas bumi dan pengembangan green data center.

Saat ini, PGE mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan total kapasitas terpasang 1.932 MW, yang mewakili sekitar 70 persen dari total kapasitas panas bumi di Indonesia.

Terkini