JAKARTA - Manufaktur mobil listrik asal Tiongkok, BYD, membenarkan terjadinya defisit suplai baterai saat tren kendaraan listrik berkemampuan pengisian daya cepat terus melonjak.
Ketua sekaligus Presiden BYD, Wang Chuanfu, menyatakan bahwa kapasitas produksi baterai perusahaan saat ini masih berada dalam kondisi ketat, meski penjualan diperkirakan terus meningkat.
Pernyataan ini terungkap dalam agenda Yangwang Business Research Institute 2026 tanggal 15 Mei lalu, yang berbarengan dengan langkah masif perilisan varian EV anyar untuk seri Dynasty, Ocean, Denza, hingga Yangwang.
Seperti dikutip carnewschina.com, 16/05/2026, Model EV Baru Dorong Lonjakan Permintaan Baca Juga: Mobil listrik China masuk ke Kanada, dealer lokal antusias
Keterbatasan suplai dilaporkan kian meruncing lantaran besarnya minat konsumen terhadap lini EV termutakhir yang mengadopsi baterai blade generasi paling baru dan sistem pengisian daya ultra cepat.
Beberapa produk baru yang diperkenalkan meliputi Denza B5, Denza B8, serta crossover Atto 3 yang dilengkapi fitur pengisian cepat.
Pihak industri memandang peningkatan masif ini memicu rantai pasok komponen baterai BYD kian terbatas, khususnya pada jajaran model berkemampuan pengisian super cepat.
Walaupun didera masalah keterbatasan pasokan, BYD tetap agresif melebarkan jaringan infrastruktur pengisian dayanya di Tiongkok.
Pihak korporasi telah mengoperasikan puluhan titik stasiun pengisian cepat baru, sehingga totalnya kini menyentuh hampir 6.000 stasiun di lebih dari 300 kota.
BYD pun menginisiasi proyek perluasan bertajuk “Flash Charging China” demi mengejar target pendirian 20.000 stasiun pengisian cepat sampai penghujung tahun 2026.
Pada aspek lain, BYD membukukan volume distribusi baterai sebesar 20,98 GWh sepanjang April 2026, dengan jumlah akumulasi sepanjang tahun berjalan menyentuh 81,2 GWh.
Manajemen juga giat memacu penetrasi pasar internasional, salah satunya lewat penjajakan kolaborasi dengan mitra otomotif di Eropa guna memaksimalkan utilitas kapasitas pabrik yang tersisa.
Situasi tersebut mengindikasikan bahwa akselerasi pasar mobil listrik yang mengandalkan pengisian cepat mulai memberikan tekanan pada rantai pasok baterai di tingkat global.
Ke depannya, keselarasan antara pembaruan teknologi, volume produksi, serta kesiapan fasilitas pengisian daya bakal jadi aspek krusial dalam mengawal kelanjutan ekspansi BYD di industri EV dunia.