KUPANG - PT PLN (Persero) semakin memperkuat posisinya sebagai motor utama dalam menjalankan transisi energi bersih di Indonesia.
Melalui agenda diskusi strategis yang digelar di Aula Kantor Bupati Rote Ndao pada Kamis (23/04), PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) Rote Ndao bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten, Institute for Essential Services Reform (IESR), serta pihak manajemen RSUD Ba’a guna merumuskan masa depan energi di kawasan paling selatan Indonesia ini.
Merujuk pada hasil analisis komprehensif oleh IESR, yang merupakan lembaga kajian independen di bidang advokasi dan kebijakan energi berkelanjutan, wilayah Rote Ndao memiliki potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang sangat melimpah, yakni menyentuh angka 2.686,32 MW.
Potensi bersumber dari alam tersebut didominasi oleh tiupan angin area pesisir (Wind Onshore & Offshore) yang mencapai 2.492 MW serta pemanfaatan tenaga surya terapung (Floating PV) berkapasitas 194,32 MW.
Asisten 1 Setda Rote Ndao, Petson Soleman Hangge, S.Sos., yang datang mewakili Pemerintah Daerah menegaskan bahwa peralihan ke energi bersih merupakan faktor krusial untuk menjamin keberlanjutan hidup warga di pulau tersebut.
Mengingat mayoritas masyarakatnya sangat bergantung pada sektor pertanian serta perikanan, wilayah Rote Ndao menjadi daerah yang terhitung rentan terhadap dampak negatif dari perubahan iklim.
"Visi kami adalah mengubah wajah ekonomi Rote Ndao. Pemanfaatan angin dan surya bukan sekadar tentang lampu yang menyala, tapi tentang menghadirkan teknologi hijau yang mampu mendongkrak produktivitas nelayan dan petani kami," ungkap Petson.
Kebijakan strategis ini sekaligus diharapkan menjadi pendorong utama dalam program penekanan angka kemiskinan yang tercatat terus membaik selama periode 2020–2025.
Melalui ketersediaan pasokan listrik yang stabil serta ramah lingkungan, Rote Ndao memiliki prospek besar untuk menjelma sebagai pusat produksi hidrogen hijau di tingkat global sekaligus menaikkan taraf hidup warganya dalam jangka panjang.