TANGERANG - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memantapkan kontribusinya dalam mempercepat peralihan menuju ekonomi rendah karbon melalui keterlibatan dalam pengembangan dan peluncuran Kalkulator Hijau v.2.
Perangkat pengukur tingkat nasional untuk menghitung emisi gas rumah kaca (GRK) tersebut secara resmi diluncurkan oleh Bank Indonesia di Jakarta pada Senin (11/5/2026).
Pemanfaatan alat ini diperkirakan dapat memaksimalkan pengelolaan ekonomi hijau yang berlandaskan pada ketepatan data serta aturan ilmiah.
Nugroho Adi Sasongko yang menjabat sebagai Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, terlibat secara aktif dalam penyusunan Kalkulator Hijau v.2 lewat perannya di Kelompok Kerja Pengarah Kalkulator Hijau.
Langkah penyusunan sistem ini dijalankan melalui kolaborasi lintas sektor yang melibatkan sejumlah kementerian, otoritas bidang keuangan, serta lembaga riset nasional.
Nugroho menilai bahwa Kalkulator Hijau v.2 memiliki fungsi yang lebih luas dari sekadar alat teknis untuk mengukur emisi, karena telah bergeser menjadi elemen dari infrastruktur strategis kepunyaan negara.
“Kalkulator Hijau merupakan bagian dari infrastruktur strategis nasional dalam membangun sistem ekonomi dan industri rendah karbon yang berbasis data, sains, dan tata kelola yang kredibel,” ujarnya.
Selama tahapan penyusunannya, BRIN mengambil peran untuk memastikan bahwa metodologi rumusan perhitungan emisi tersebut selaras dengan indikator global, semisal IPCC, GHG Protocol, ISO 14064-1:2018, dan Partnership for Carbon Accounting Financials (PCAF).
Sistem ini dirancang secara komprehensif untuk menghitung emisi secara total, meliputi pengelompokan Scope 1, Scope 2, Scope 3, hingga tingkat penurunan emisi (Scope 4), termasuk penghitungan pada sektor energi baru terbarukan, ekosistem kendaraan listrik, serta mekanisme carbon offset.
Nugroho berpandangan bahwa kehadiran sistem perhitungan emisi yang terintegrasi dan baku menjadi landasan penting dalam mematangkan perkembangan industri hijau di tanah air.
Selain mendukung peningkatan daya saing sektor industri melalui pemenuhan standar pelaporan keberlanjutan global, alat ini juga memperkuat perumusan science-based policy pada program dekarbonisasi industri sekaligus memberikan kelonggaran bagi korporasi dan lembaga keuangan untuk menghitung emisi secara lebih sistematis dan baku.
“Pelaku usaha dan lembaga keuangan dapat melakukan penghitungan emisi secara lebih sederhana, terstruktur, dan terstandar,” kata Nugroho.
Nugroho juga menambahkan bahwa pemutakhiran Kalkulator Hijau v.2 turut memperkuat penerapan arah kebijakan berbasis sains dalam program dekarbonisasi sektor industri.
Penggunaan metodologi yang tepat dan terukur dianggap dapat memperkokoh riset menyeluruh terkait Life Cycle Assessment (LCA) serta iklim pembiayaan berkelanjutan di Indonesia.
Peluncuran perangkat modern ini pun mendapatkan tanggapan baik serta apresiasi dari Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, dan Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung.
Masing-masing pihak sepakat menganggap bahwa Kalkulator Hijau v.2 menjadi sebuah capaian penting dalam memperkuat basis tata kelola ekonomi hijau nasional.