Ekonomi Bojonegoro Menguat Lewat Sektor Nonmigas dan Pertanian

Sektor pertanian ikut kontribusi perekoniman di Bojonegoro (FOTO: NET)
Penulis: David Ilham
Rabu, 10 Juni 2026 | 09:59:08 WIB

BOJONEGORO - Arah baru pembangunan ekonomi mulai diperlihatkan oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dengan memangkas ketergantungan pada sektor minyak dan gas bumi (migas) secara bertahap.

Di tengah lesunya kinerja sektor pertambangan karena lifting migas yang belum optimal, dinamika positif justru diperlihatkan oleh lini nonmigas yang melesat dan menjadi pilar utama penyangga ekonomi wilayah.

Kontribusi tertinggi bagi perekonomian Kabupaten Bojonegoro sejatinya masih dipegang oleh sektor pertambangan dengan angka mencapai 42,03 persen berdasarkan data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Triwulan I Tahun 2026.

Kendati demikian, dominasi yang kuat tersebut perlahan mulai diimbangi oleh geliat lini usaha lainnya.

Sebanyak 16 sektor nonmigas saat ini sanggup menyumbang hingga 57,97 persen bagi struktur ekonomi daerah, yang menjadi sinyal bahwa roda perekonomian di Bojonegoro kini semakin variatif.

Secara nominal, perolehan PDRB Bojonegoro atas dasar harga berlaku pada Triwulan I Tahun 2026 sukses menyentuh angka Rp28,44 triliun.

Jumlah tersebut memposisikan Bojonegoro di atas beberapa wilayah tetangga seperti Lamongan dengan Rp14,99 triliun, Nganjuk Rp10,57 triliun, Ngawi Rp7,43 triliun, serta tetap berada di atas Tuban yang membukukan Rp25,43 triliun.

Tingginya hasil yang diraih semakin mempertegas status Kabupaten Bojonegoro sebagai salah satu penopang utama ekonomi di Provinsi Jawa Timur, kendati proses transisi keluar dari sektor migas tetap menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah.

Syawaluddin Siregar selaku Kepala BPS Kabupaten Bojonegoro memaparkan, laju pertumbuhan ekonomi Bojonegoro pada Triwulan I Tahun 2026 secara tahunan (year-on-year) terpantau masih tumbuh positif di angka 0,02 persen.

Sementara itu, apabila sektor pertambangan migas tidak dihitung, maka angka pertumbuhan ekonomi mampu melesat hingga 7,34 persen.

Hasil ini dipandang sebagai sebuah lompatan serta perbaikan yang masif jika dibandingkan dengan situasi pada tahun 2023, di mana saat itu perekonomian Bojonegoro sempat merosot hingga minus 3,49 persen.

Menurut Syawaluddin, tren positif pertumbuhan ekonomi masih dapat dijaga dengan baik walau sektor pertambangan mengalami perlambatan akibat produksi migas yang belum maksimal.

“Pertanian tumbuh 11,38 persen. Ketika pertanian tumbuh tinggi, itulah yang menjaga pertumbuhan ekonomi tetap positif dan tidak kembali minus,” ungkap Syawaluddin.

Sektor pertanian, sambung Syawaluddin, menjelma sebagai salah satu roda penggerak paling utama bagi perekonomian di Bojonegoro.

Mengacu pada data resmi BPS, lini ini melonjak hingga 11,38 persen yang dipicu oleh dongkraknya hasil panen padi serta jagung secara masif.

Bukan hanya bidang pertanian, performa memikat juga diperlihatkan oleh barisan sektor jasa.

Lapangan usaha jasa lainnya tercatat melonjak 14,77 persen, kelompok lain-lain berada di angka 14,93 persen, serta sektor akomodasi dan makan minum ikut naik 11,37 persen.

Meningkatnya intensitas rekreasi, hiburan, hingga ramainya sektor pariwisata dinilai menjadi stimulus utama bagi pergerakan sektor jasa di Bojonegoro.

Di sudut lain, lini perdagangan melaju 6,46 persen, informasi dan komunikasi sebesar 7,73 persen, transportasi dan pergudangan mencapai 6,92 persen, serta jasa perusahaan menyentuh angka 9,94 persen.

Kebijakan pemerintah pusat layaknya program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut memberikan stimulus nyata pada naiknya produktivitas sektor penyediaan makanan dan minuman di daerah.

Syawaluddin berpendapat bahwa kemunduran ekonomi yang sempat dirasakan pada tahun 2023 silam harus dijadikan cerminan berharga agar Bojonegoro tidak bertumpu penuh pada sektor migas lagi.

Ia menilai sektor pertanian, pendidikan, kesehatan, serta jasa mempunyai ketahanan ekonomi yang jauh lebih solid karena dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas.

“Pertumbuhan ekonomi harus bergerak inklusif. Sektor pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat Bojonegoro karena manfaatnya dirasakan lebih luas dibandingkan sektor pertambangan,” jelasnya.

Pada wilayah Gerbangkertosusila Plus (G+), Syawaluddin mengimbuhkan, posisi Kabupaten Bojonegoro kini bertengger di urutan kesembilan lewat sumbangsih kisaran 3,20 persen bagi perekonomian Jawa Timur.

Reporter: David Ilham